Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

SERBA-SERBI NGGAK ENAKNYA MEMILIKI LAHAN TANAH YANG LUAS


Oleh: Muhammad Hadiyan Ihkam

Memiliki tanah sendiri kemudian dibangun untuk menjadi rumah merupakan impian setiap orang. Namun, sebagian orang belum mampu membeli tanah baik di perkotaan maupun pedesaan. Hal ini lantaran harga tanah setiap tahun naik dan juga semakin lama keberadaan tanah semakin sedikit. Harga tanah yang melambung tinggi tidak hanya terjadi di wilayah kota-kota besar seperti Surabaya, melainkan juga terjadi daerah pedesaan. Salah satua faktor yang menyebabkan demikian adalah banyaknya pendatang baru yang ingin mempunyai rumah sendiri dan bermukim. 
Tetapi, memiliki lahan tanah yang luas ternyata menyimpan sebuah ketidak enakanya tersendiri. Contohnya aku, yang tinggal di daerah kota Kediri paling timur, alias daerah pinggiran yang bernuansa pedesaan. Sebenarnya, aku mengalami hal tidak mengenakkan ini sudah lama tetapi baru kali ini diungkapkan dalam sebuah tulisan.
Jadi, aku ini tinggal di lingkungan Centong desa Bawang kecamatan Pesantren kota Kediri. Iya betul kalian tidak salah membacanya. PESANTREN. Namun di sini bukan pesantren pondok tetapi memang nama kecamatannya Pesantren. Memang betul selama 20 tahun aku bermukim di rumah yang cukup luas. Ditambah lagi pekarangan rumah juga luas. Yah, kira-kira luas halaman rumah depan dapat menampung 4 mobil dan tanah belakang luasnya dapat dijadikan tempat futsal. 
Sekilas memang terlihat membahagiakan mempunyai lahan tanah dan rumah yang luas tetapi jangan salah. Bagi aku yang mendiaminya, terdapat beberapa kondisi yang mengakibatkan ketidak enakkan memiliki lahan tanah yang luas. Berikut aku jelaskan:

Pertama, capek bersih-bersih. Mungkin pada poin ini semua orang tahu. Jika mempunyai lahan yang luas maka paling lelah bagian merawatnya, yaitu bersih-bersih. Aku pun merasa capek setiap hari harus menyapu ruang tamu, ruang makan, dan kamar-kamar. Memang terdengar sepele. Tetapi aku menyapu semua ruangan tersebut membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit. Bukan karena aku lelet dalam urusan bersih-bersih namun memang kenyataannya seperti, ruangan yang aku bersihin cukup luas maka membutuhkan waktu lama untuk membersihkannya.

Belum lagi aku membersihkan kamar mandi yang jumlahnya lebih dari satu. Selain supaya bersih, kamar mandi aku sikat supaya lantai kamar mandi tidak lincin, tidak membahayakan bagi orang tua yang menggunakannya. Selain itu aku kadang dimintai tolong ibuku membeli bahan makanan atau dimintai tolong yang lain.

Kedua, dianggap pasti bahagia. Ibu aku pernah cerita. Beliau pernah dipuji-puji orang lain lantaran mempunyai rumah dan lahan yang luas. 

“Ya Allah, bu punya rumah luas kayak sampean enak ya. Pasti di dalemnya sejuk ngg pernah kepanasan. Dan juga keluarga ibu pasti tidak bosen di rumah bisa pindah pindah kamar. Pokoknya pasti bahagialah”

“Iya bu Alhamdulillah” 

Ibu aku hanya bisa menjawab begitu sambil senyum-senyum. Padahal yang aku rasakan adalah bingung cara membersihkan rumah dan semua perabotan supaya tetap bagus dan awet. Setelah tahu cerita itu, aku menjadi bersyukur lagi. Hal ini dikarenakan sebelumnya aku merasa jengkel punya rumah luas bikin repot aja.

Aku menjadi semakin bersyukur mempunyai rumah cukup luas seperti ini. Rasa syukurku ini semakin kuat ketika aku berkunjung ke rumah temanku yang rumahnya cukup sempit. Aku merasakan tidak nyaman ketika berkunjung ke sana. Memang benar kita harus bersyukur terhadap apa yang kita miliki.

Ketiga, halaman depan dipakai parkir sembarangan. Bagian halaman depan rumah cukup dipagar sedemikian rupa tanpa ada pintu gerbang. Memang seperti ini di desa, jarang rumah-rumah yang mempunyai pintu gerbang. Karena tidak ada pintu gerbang inilah yang membuat semua orang bebas keluar masuk, terutama tetangga atau tamunya yang hendak berkunjung. Bisa dipastikan mereka akan memarkirkan kendaraanya di halaman depan rumah. Kalau yang parkir satu motor tidak masalah. Tetapi bagaimana jika yang parkir 3 mobil dan beberapa motor sekaligus. Bisa-bisa rumahku seperti showroom. 

Tidak masalah sih sebenernya parkir di halaman depan tetapi alangkah baiknya meminta izin terlebih dahulu kepada yang punya lahan tanah. Bukan asal parkir aja. Meski begitu aku berusaha memaklumi dan meniatkan sedekah lahan parkir bagi yang membutuhkan.

Keempat,halaman depan banyak kotoran ayam milik tetangga. Daging ayam beserta telurnya memang enak. Tetapi bagaimana jika hanya menerima kotoran yang dibawa ayam tersebut. Tentu bikin ice-mosi (baca: emosi). Ibaratnya tidak menikmati daging dan telur ayam tetapi hanya disuguhkan kotoran ayam. Bisa dipastikan jika aku keluar rumah banyak ranjau kotoran ayam bertebaran di mana-mana. Jika tidak hati-hati menginjak tanah bakal kenak ranjau itu. Alih-alih memarahi ayam itu, aku malah berpikir, kenapa tetanggaku tidak merasa bersalah ayamnya yang main seenak jidatnya hingga membuang feses di halaman depan rumahku.

Dari empat poin di atas, yang paling bikin aku kesel adalah ranjau kotoran ayam di mana-mana. Tetapi aku berusaha bersabar atas semua hal yang tidak mengenakkan meski bersabar itu berat. Kalau memang bener-bener sudah diluar batas kesabaranku mungkin tetanggaku sudah aku labrak. Dahlah pusing kalo dipikir. 

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar