Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

MENULISLAH SELAGI MAMPU MEMBACA



Oleh : Siti Khoirun Niswah

 Menulis sering disebut sebagai kegiatan yang sangat bermanfaat dalam mengorganisir pikiran seseorang. Sosok-sosok yang gila menulis selalu memberikan motivasi bagi para pembaca, dan tanpa disadari menulis juga memberikan kontribusi dalam membangun peradaban. Dalam berbagai segi terbukti bahwa menulis membawa banyak dampak dalam menemani aktivitas seseorang.  Seperti salah satu sosok KH.Halimi Zuhdy, sosok yang setiap hari memberikan motivasi betapa pentingnya menulis, mendorong para santrinya untuk menulis apapun yang mereka bisa. Baik fiksi, non fiksi, ilmiah, non ilmiah, “apapun yang ada di pikiran tulislah, urusan bagus tidaknya tulisan, adalah urusan proses” salah satu kalimat yang sering diucapkan ketika sedang mengajar para santri. 

Mengapa harus menulis?

        Salah satu yang dirasakan oleh penulis setelah menulis adalah “lega” dan itu terbukti dari beberapa teman-teman yang sering menulis. Seseorang akan merasakan lega ketika sudah menyelesaikan hal menulis. Awalnya menulis dianggap biasa saja, ada juga yang sebagian menganggap untuk menggugurkan kewajiban-kewajiban di kampus, atau kewajiban-kewajiban di pondok pesantren piket menulis mingguan misalnya, atau kewajiban-kewajiban sebagai persyaratan untuk beasiswa. Namun walaupun hanya sebagai menggugurkan kewajiban apa yang dirasakan setelah menulis, pasti rasa puas dan lega karena telah melalui hal tersebut bukan?

        Selanjutnya saat seseorang menyukai tulisan yang kita tulis, ada rasa bahagia tersendiri bukan? Belum lagi jika tulisan kita dirujuk oleh orang lain, dishare dan bahkan dijadikan sebagai motivasi. Terkadang dalam peristiwa yang ditulis, tidak disadari memiliki peristiwa yang sama dengan pembaca, dan penulis terkadang tidak sadar oleh hal itu. Maka dari itu jangan bosan untuk menulis, karena dengan menulis kita juga seperti menyalurkan ilmu pada pembaca. Bagi mereka yang suka menulis dalam dunia fiksi, akan menambah dan menyalurkan rangkaian diksi bagi pembaca, menambah tema-tema unik, dan juga menambah berbagai rangkaian peristiwa-peristiwa menarik. Dan bagi mereka yang suka dalam bidang non-fiksi dapat menambah berbagai pengetahuan, ilmu-ilmu yang sebelumnya belum kita dapatkan. Pada intinya menulis adalah menyalurkan wawasan dan ilmu pengetahuan.
    
        Bagaimana jika tidak percaya diri dengan tulisan kita sendiri, malu untuk ngeshare, atau merasa tidak berfaedah tulisan yang kita tulis?

        Sepertinya itu juga banyak dialami oleh sebagian orang. Jika memang benar demikian, maka tugas kita adalah memulai dengan niat dan mau belajar. Niatkan menulis sebagai hobby, atau sebagai alat untuk menyalurkan ilmu. Selanjutny mau belajar agar tulisan yang ditulis memenuhi standar kepenulisan. Banyak-banyak membaca tulisan orang, memperhatikan kosa kata, selanjutnya dikembangkan dengan mempelajari sastra dan memperhatikan tata bahasa yang baik dan benar. Membaca banyak karya sastra menjadikan tulisan hidup dan bermakna, dengan demikian akan membuat kita percaya diri jika tulisan kita dibaca banyak orang. Selain hal-hal tersebut, dapat juga berulang kali membaca tulisan yang kita tulis, kuncinya menulis adalah membaca. Maka menulislah selagi masih mampu membaca.


Source image: JawaPos.com
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar