Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

MEMANTASKAN DIRI, MEYAKINKAN HATI


Oleh : Hany Zahrah M

        Fase terpenting sebelum menikah tentulah bagaimana cara memilih calon pasangan. Ya, jodoh memang harus dipilih dengan detail, tidak asal comot. Jangan sampai calon pendamping dan orangtuanya tidak tahu sama sekali asal-usul sang calon. Jangan hanya percaya bualannya, tanpa menelusuri kebenarannya. Ini karena menyangkut kehidupan masa depan yang panjang.

        Itu sebabnya, orangtua Jaman dulu berpesan pada  anak-anaknya ketika akan menentukan pendamping hidup, yakni memperhatikan bibit, bebet dan bobot. Pertama, Bobot meliputi kepribadian calon pasangan, apakah dia cukup dewasa, bertanggung jawab dan dapat diandalkan dalam rumah tangga. Apakah sang calon baik akhlaknya, cerdas, taat menjalankan agama, ganteng atau cantik, mapan atau belum, dll. Kedua, Bebet bermakna lingkungan, dari mana calon pasangan berasal. Ya, lingkungan sangat mempengaruhi perangai seseorang. Karena itu, harus ditelusuri, siapa teman-teman bergaulnya, ke mana tempat aktivitas atau istilah gaulnya “tempat nongkrongnya”. Dari sini akan bisa dilacak apakah dia orang baik-baik atau tidak. Ketiga, Bibit, meliputi silsilah keturunan calon pasangan. Asal-usul keluarga besarnya seperti apa. Apakah dari lingkungan keluarga baik-baik, terdidik, berbudaya dan beradab baik, agamis, dll.

        Karena itu, kriteria terpenting dalam memilih pasangan hidup tetap pada pribadi sang calon itu. Kesalehan dan ketaatannya pada Allah SWT. Ini  adalah syarat utama. Seseorang yang saleh, memahami dan melaksanakan syariat Islam dengan benar, insya Allah akan menjadi pribadi dewasa, penuh kasih sayang, dan bertanggung jawab.

Lantas bagaimana sosok yang saleh-salehah itu?

Pertama, bisa dilihat dari salatnya sehari-hari. Jika ia laki-laki, apakah tepat waktu sholatnya, berjamaah di masjid, tidak terlewat Jumatannya, dll.

Kedua, akhlaknya. Apakah dia orang yang baik, dalam artian tidak pernah terlibat maksiat. Apakah dia lemah-lembut, tidak pernah berlaku kasar atau melakukan tindak kekerasan. Termasuk bisa diperhatikan pula dari kebiasaan-kebiasaannya, apakah memiliki adab sopan-santun dan sifat-sifat yang baik. Jika ia wanita, bisa diperhatikan dari caranya menutup aurat, karena ini salah satu standar apakah dia mampu menjaga izahnya.

Ketiga, aktivitasnya. Apakah kegiatan-kegiatannya didominasi suasana religius. Misalnya aktif mengkaji Islam atau bahkan mendakwahkannya. Ke mana saja tujuan perginya, lebih banyak ke masjid, majelis ilmu, pesantren atau lainnya.

Keempat, keluasan ilmu Islamnya. Apakah bisa menjadi referensi atau rujukan tentang keagamaan. Bagaimana bacaan Alqurannya, fasihkah. Bagaimana pemahamannya tentang fiqih ibadah dan syariat keseharian, dll.

        Itulah di antara kriteria calon pasangan yang baik. Semua informasi ini bisa didapatkan dari orangtua, kerabat atau teman dekatnya melalui proses ta´aruf yang disyariatkan Islam. Bukan semata dengan mendengarkan bualan sang calon itu sendiri.

Seperti firman Allah SWT, QS. An Nur : 26

ٱلْخَبِيثَٰتُ لِلْخَبِيثِينَ وَٱلْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَٰتِ ۖ وَٱلطَّيِّبَٰتُ لِلطَّيِّبِينَ وَٱلطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَٰتِ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ ۖ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

Artinya : “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga)”.

        Mari kita belajar bagaimana kelak membangun surga dalam rumah tangga kita, untuk yang belum menikah. kita harus tau persiapan apa menuju pernikahan yang baik? orang menikah itu sama seperti orang hidup dan sama seperti orang mati. Tidak ada persiapan apapun, seperti hal nya ketika dilahirkan didunia tidak akan ditanyakan persiapan, seperti : "udh siap mau keluar?" kan ngga ada!. Udah siap nih hidup di dunia? langsung blojor gitu aja kan ya. Begitupula orang yang mau meninggal juga sama kaya gitu, mau disiapin kaya apa juga ya udahlah, pasti akan meninggal pada waktunya. Jadi sebenernya orang menikah itu mirip orang hidup, ngga bisa disiapkan apa-apa, hanya saja yang dapat kita lakukan adalah meniru anak bayi, gimana anak bayi tuh? Jangan pernah berhenti belajar! 

        Anak bayi itu tidak bisa apa-apa, sama kaya kita waktu awal menikah, ngga ngerti bagaimana hidup berumah tangga, syaratnya Cuma satu jangan pernah berhenti belajar, pelajari terus suamimu, keluarganya, apa yang dia suka, apa yang dia ngga suka dipelajari terus. Menyatukan dua kepala, tidak semudah yang dikatakan orang-orang, namun juga tidak semenyeramkan yang ditakut-takutin sama orang-orang, jadi ngga bisa ada persiapan, kecuali menjadi hamba Allah yang sholehah gitu ya. syaratnya cuma satu, nanti dalam pernikahanmu jangan pernah berhenti belajar.

        Oleh karena itu, salehah atau tidaknya seorang wanita itu bergantung ketaatannya pada perintah Allah, serta menjauhi segala larangan-Nya. Bukan saja bagi wanita yang sudah menikah tetapi juga bagi kaum remaja. Sungguh amat mulia wanita salehah. Di dunia ia akan menjadi cahaya penerang bagi keluarganya.


Sumber :
Kitab ” إحتلاف الزّوجين” , karangan Ahmad Yasin bin Ashmuni. 



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar