Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

KETIKA UMAR BIN KHATTAB MENCIUM ISTRINYA SAAT PUASA


Oleh: Hariski Romadona Setya 

        Pasa suatu ketika saat bulan ramadhan, Sayyidina Umar bin Khattab tidak tahan untuk tidak mencium istrinya. Ketika Umar sadar bahwa saat itu sedang puasa bulan suci, beliau menjadi panik dan langsung mencari Rasulullah Saw. dan ingin melapor tentang perbuatanya tersebut. Kemudian setelah bertemu, Umar langsung melapor “ Ya Rasulullah, hari ini aku melakukan kesalahan besar, aku telah mencium istriku padahal aku sedang puasa ”. 

        Rasululah dengan tenang menanggapi laporan Umar. Beliau bukan menjawab tapi malah memberi pertanyaan kepada sahabatnya itu. “ Bagaimana pendapatmu jika kamu berpuasa kemudian kamu berkumur – kumur ? “ . Umar menjawab “ Kalau seperti itu tidak mengapa “. Kemudian Rasulullah bersabda “ Lalu apa masalahnya ?" 

        Berikut ini riwayat tentang Umar bin Khattab tersebut. Dari Jabir bin Abdillah, dari Umar bin Khattab :
هششت يوما فقبلت وانا صائم فأتيت النبي – صلى الله عليه وسلم - ةفقلت صنعت اليوم امرا عظيما فقبلت وانا صائم فقال رسول الله - صلى الله عليه وسلم – ارأيت لو تمضمضت بماء وانت صائم . قلت لا بأ س بذلك فقال رسول الله - صلى الله عليه وسلم -ففيم 

Artinya : “Pada suatu hari, aku rindu dan hasratku muncul kemudian aku mencium istriku padahal aku sedang puasa. Maka aku datang kepada Nabi Saw. Dan aku berkata “ Hari ini aku melakukan kesalahan besar, aku telah mencium istriku padahal sedang puasa “. Rasulullah bertanya, : Bagaaimana pendapatmu jika kamu berpuasa kemudian berkumur – kumur ?  Aku menjawab “Seperti itu tidak apa – apa”. Rasulullah Saw lalu bersabda “ Lau apa masalahnya ?” ( HR Ahmad ).

        Dialog antara Sayyidina Umar dan Rasulllah ini sangat menarik. Rasulullah menjawab dengan sekaligus mengajarkan berlogika. Mencium dianalogikan seperti berkumur – kumur. Artinya, kumur – kumur tidak sampai menelan air, bukan ? begitu juga dengan mencium, mencium juga tidak sampai mengauli Istri, bukan ?. Sebenarnya Rasulullah Saw. bisa saja langsung menjawab dengan mengatakan “ Tidak apa - apa ”. Namun kakeknya Hasan dan Husein ini tidak berkehendak demikian, Beliau menjawab dengan jawaban logika. 

        Kelak Sayyidina Umar yang sering bertumpu pada ra’yu akan mempengaruhi para ulama Irak, termasuk Imam Abu Hanifah. Jadi, pada intinya menggunakan ra’yu bukanlah sesuatu yang buruk atay tercela. Bahkan Rasulullah Saw. mengajarkanya. Apa sebenarnya definisi Ra’yu itu sendiri ? yaitu secara umum adalah “sesuatu yang diputuskan oleh hati sesudah melalui proses pemikiran, penelitian dan pencarian kebenaran dari suatu hukum yang tidak terdapat dalil nas yang jelas padanya.”

        Kedudukan Sayyidina Umar memang sangat Istimewa di sisi Rasulullah Saw. Salah satunya dalam riwayat Al-Syaikhani diceritakan mimpi Rasulullah Saw. Sebagai berikut “ Ketika tidur, aku bermimpi bahwasanya aku diberi segelas susu. Setelah itu aku pun meminum sebagian susu tersebut, hingga aku merasakan kesegaran hingga ujung kuku.Setelah itu, aku berikan sisa susu tersebut kepada Umar bin Khattab. ”  Para sahabat bertanya, “ Ya Rasulullah, apa arti mimpi tersebut ? ” Beliau menjawab, “Ilmu.”

        Begitulah kedalaman ilmu yang dimiliki Umar bin Khattab yan diwarisi dari Rasulullah Saw. Semoga di bulan suci ini kita bisa dan diberi kenikmatan yang luar biasa yakni bisa mimpi bertemu dengan Rasulullah Saw dan minum susu bersama. 

         Wallahu a’lam bishowab


Dikutip dari buku Ngaji Fikih 
Pemahaman Tekstual dengan Aplikasi yang Konstektual 


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar