Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

GUNAKAN RUMUS 5R UNTUK MENJADI PENULIS YANG BAIK (SERI 2)

Sumber gambar : https://pixabay.com/photos/books-stack-library-bookshelves-768426/


M. Ikhsan Kamaluzaman

Untuk menjadi penulis yang baik. Hendaknya seorang penulis membiasakan beberapa kegiatan demikian untuk terus bisa menulis. Karena sejatinya memang tidak ada orang yang hebat, yang ada hanya mereka yang terbiasa. Orang yang terbiasa dengan memasak, seiring berjalannya waktu dia tidak perlu memakai sendok takaran untuk memasak, cukup dengan feelingnya saja. Begitu juga dengan profesi lainnya, akan sangat mudah jika seseorang sudah membiasakannya selama bertahun tahun. Maka untuk mencapai kepakaran, seseorang harus melakukan apa yang ia minati sebanyak 5000 jam.

Pada seri sebelumnya saya sudah membahas tentang R yang pertama yaitu membaca. Mulai dari seberapa besar minat membaca negara kita, kenapa membaca penting, dan anjuran dalam agama untuk terus membaca. Kali ini kita akan melanjutkan R sisanya yang mungkin para pembaca sudah penasaran.

2. Research

Membaca memang penting, namun tidak bijak dalam memilih bacaan juga bukan sesuatu yang baik dibiasakan. Kita menyadari bahwa jumlah buku di dunia sangat banyak, oleh karena itu memilih bacaan dari sekian bacaan adalah cara yang tepat untuk menjadi penulis yang baik. Dalam memilih bacaan yang bagus diperlukan yang namanya riset. Riset memudahkan seseorang dalam mengambil sebuah keputusan, baik di bidang ekonomi, sosial, maupun pendidikan.

Lalu bagaimana membiasakan riset ketika kita akan menulis? Ketika kita ingin menulis sebuah karya ilmiah seperti skripsi misalnya, pada bab pertama ada salah satu sub bab yang berjudul Al Dirosat Al Sabiqoh atau yang berarti penelitian sebelumnya. DR. Halimi Zuhdy pernah dalam suatu kesempatan menerangkan betapa pentingnya membaca penelitian sebelumnya ketika kita ingin meneliti, karena dari penelitian yang sudah ada kita bisa mengetahui apa kekurangan dari penelitian sebelumnya untuk kemudian kita kembangkan dalam penelitian kita. Oleh karena itu, semakin banyak membaca dan menganalisis penelitian sebelumnya akan semakin faham peneliti ke arah mana dia harus mengembangkan penelitiannya.

Ada banyak cara untuk menganalisis diantara yang terkenal adalah analisis SWOT, pisau analisis ini dapat digunakan dalam berbagai hal : menyiapkan strategi, mengambil keputusan, dan menjamin mutu nilai sebuah produk maupun kelembagaan. SWOT terdiri dari strengths, weaknesses, opportunities, dan threats yang berarti kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman. Poin 1 dan 2 digunakan untuk mengevaluasi sejauh apa yang bisa dilakukan dan tidak bisa dilakukan dalam suatu penelitian. Poin 3 dan 4 digunakan untuk melihat seberapa besar peluang pengembangan dan ancaman yang akan menghentikan kelanjutan dari penelitian tersebut.

3. Realable

Informasi yang beredar di buku dan media sosial tidak menjamin kebenaran apapun. Karena dalam perjalanannya sering kali informasi bersinggungan dengan politik, sehingga beberapa fakta sejarah sengaja diputarbalikkan untuk kepentingan kelompok tertentu. Mempertanyakan kembali tentang pengetahuan kita adalah bagian dari cara kita berfilsafat dalam ruang lingkup kecil. Karena dengan mempertanyakan kita akan kembali memastikan kebenaran informasi yang kita miliki.

Ketika kita diharuskan menulis tentang konflik misalnya, maka mendengarkan dari berbagai macam pihak sangat diperlukan untuk mencapai jurnalisme damai. Karena sering kali berita yang dihadirkan oleh para wartawan bukannya mendamaikan kedua belah pihak namun justru meruncingkan permasalahan yang ada. Maka dengan terus mencari kebenaran informasi dan pemilihan diksi yang tepat menjadikan seorang penulis semakin bijak dalam memberitakan dan menceritakan sebuah fenomena. Meskipun pada akhirnya pembacalah yang menyimpulkan, namun menyampaikan informasi secara berimbang juga salah satu tugas mulia seorang jurnalis dan penulis. Karena kita semua mengetahui jika “Power Of Words” bisa menimbulkan peperangan maka dengannya juga bisa terciptanya perdamaian bagi semesta.

 

Rujukan:

Ngainun Naim, The Power Of Reading, Aura Pustaka, Yogyakarta, 2015

Fahruddin Faiz, Sebelum Filsafat, MJS Press, Yogyakarta, 2018 




Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar