Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

GUNAKAN RUMUS 5R UNTUK MENJADI PENULIS YANG BAIK (SERI 1)

Sumber gambar : https://pixabay.com/photos/typewriter-secretary-write-machine-3641865/

M. Ikhsan Kamaluzaman

Menulis adalah kegiatan yang seharusnya dikuasai oleh mahasiswa, karena dengan menulis seseorang bisa menuangkan ide dan gagasannya, dengan menulis seseorang bisa dinilai kapasitasnya, dengan menulis seseorang bisa memperkenalkan dirinya kepada dunia, oleh karena itu sebenarnya setiap orang bisa menjadi penulis, namun bedanya ada yang menjadikannya sebagai profesi dan ada juga yang menjadikannya hanya sebagai kegiatan rutinan.

Semua penulis pasti akan merasakan suatu fase yang disebut dengan writer’s block. Apa itu writer block? Writer’s block adalah keadaan dimana seorang penulis merasakan kebuntuan ketika menulis baik itu memulai tulisan baru atau melanjutkan tulisan yang belum rampung. Writer’s block tidak hanya dialami oleh para penulis saja, bahkan siapapun yang hendak menuliskan sesuatu akan mengalami fase tersebut. Writer’s block bisa terjadi karena beberapa faktor diantaranya kesulitan untuk konsentrasi, kehabisan inspirasi, dan lain lain.

Menurut mantan pimpinan redaksi Gramedia Kompas kang Maman Suherman ada 5R yang harus dibiasakan oleh seorang penulis agar kejadian writer’s block tidak sering dialami oleh penulis

1.      Read

Membaca adalah sumber belajar yang paling lengkap, paling tersedia, paling murah, paling cepat, dan paling mutakhir (Ralph Besse)

Minat membaca bangsa kita termasuk yang paling rendah dari beberapa negara, jika dikerucutkan di Asia Tenggara, negara kita 1 peringkat di bawah Thailand, sehingga diperlukan strategi khusus untuk bisa mengkampanyekan minat baca di negara tercinta ini. Sudah beberapa kali kita mengalami pergantian Menteri Pendidikan namun tidak ada perubahan signifikan dalam hal budaya minat baca bangsa Indonesia.

Idealnya, siapapun orangnya, apapun latar belakang profesinya memiliki tradisi membaca. Tidak peduli apakah itu pejabat, pengusaha, YouTuber, selebgram, tiktoker, ibu rumah tangga, arsitektur, dan semua profesi lainnya seyogyanya berpartisipasi untuk membangun budaya membaca. Tetapi menggeneralisasi semua profesi tampaknya terlalu berat untuk dilakukan. Karenanya membuat skala prioritas profesi yang paling dekat dengan kegiatan membaca tampaknya menjadi pilihan yang lebih rasional.

Dalam kerangka ini, profesi yang paling menggalakkan minat membaca adalah mereka yang berasal dari dunia Pendidikan. Golongan inilah yang relative mampu membeli buku dan memiliki banyak waktu untuk membaca. Tradisi membaca lah yang juga akan menentukan maju atau tidaknya sebuah institusi Pendidikan. Institusi dengan minat membacanya yang tinggi akan melahirkan diskusi kritis untuk meningkatkan kualitas peserta didiknya menjadi insan yang cerdas mengambil keputusan dan mampu untuk menyelesaikan problem yang ada di dirinya sendiri dan lingkungan.

Banyak hal yang menjadi penyebab terhambatnya kita dalam kegiatan membaca. hambatan hambatan ini menjadi evaluasi bersama agar kita lebih mewaspadai hambatan tersebut di kegiatan harian kita. Sayangnya, banyak dari kita yang tidak menyadari hambatan ini membuat kita berada di ‘zona nyaman’ yang meninabobokan kita dari kegiatan produktif yang satu ini. Hambatan tersebut diantaranya : tidak punya waktu, tidak memanfaatkan waktu luang, terlalu lama menggunakan gadget, harga buku mahal, mitos, dan lain sebagainya.

            Mari kita mulai dari diri kita sendiri untuk menumbuhkan minat baca. Membangun tradisi membaca adalah langkah awal untuk memajukan peradaban. Tidak ada satupun peradaban yang maju dalam sejarah manusia tanpa adanya budaya membaca. Dengan membaca seseorang akan mengenal dirinya sendiri, keluarganya, dan lingkungannya. Seseorang yang rajin membaca akan lebih mudah mengidentifikasi resiko yang akan terjadi dari keputusannya dan dapat mengantisipasinya sejak dini. Dengan membaca berarti kita sudah melaksanakan perintah pertama yang Allah sampaikan kepada Nabi Muhammad yang tertulis pada kitab mulianya Al Quran yaitu iqro’ (bacalah!).

Rujukan: Ngainun Naim, The Power Of Reading, Aura Pustaka, Yogyakarta, 2015



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar