Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

DERING


Oleh: Faiza Fitria

Enam huruf itu mengantri di depan loket yang bernama perasaan dan terletak di hati seorang manusia bernama Fahmi. Pemegang nomer urut pertama adalah huruf A, kemudian disusul huruf M dan B, lantas huruf Y dan A kedua berlari menyusul huruf-huruf sebelumnya, dan tersisa huruf R. sepersekian detik huruf R itu masuk dalam perasaannya dan melengkapi energi kesedihan dalam hatinya. Perasaan Fahmi sesak dijejali rangkaian huruf bertuliskan ‘ambyar’ dan sejak detik itu ketika tubuh Ibu Fahmi tertutup tanah, kata ambyar adalah penghuni sejati hatinya setiap ia mengenang kebodohannya mengabaikan dering telepon terakhir dari Ibunya.
●●●
        Kekacauan menyeruak setiap paginya. Teriakan tukang koran yang tak mau berhenti menawarkan koran paginya, celoteh ibu-ibu kampung yang berusaha menawar harga sayur-mayur di gerobak sayur milik Kang Udin, suara klakson yang saling sahut menyahut di ujung jalan Metro dan tentu saja alarm gawaiku yang terus berbunyi sedari tadi. Mungkin jikalau gawaiku bisa berbicara, dia akan memaki setiap paginya karena aku sangat sulit dibangunkan, dan hal itu membuatku tersadar bahwa alarm terbaik di hidupku adalah Ibu. Masih teringat pagi terakhir Ibu membangunkanku. Dengan hanya mendengar derap langkah kakinya menuju kamarku, aku sudah otomatis terbangun. Ajaib. 
        Kini hal itu sekedar khayalanku. Entah pagi keberapa hari ini aku masih menyalahkan diriku sendiri. Masih terekam jelas di memoriku tentang hari itu, hari wisuda sarjanaku. Sabtu cerah nan indah, jas peninggalan Bapak, penghargaan atas IPK tertinggi sejurusan, Dek Miya yang tiba-tiba muncul dengan mata nanar saat aku mengakhiri pidato dan dering telepon terakhir dari Ibu. Butuh waktu setengah jam memikirkan itu semua saat aku terjaga dan butuh waktu seumur hidup untuk merindukan Ibu dan semua hal mengenainya. Ibu, Fahmi kangen sekali, setiap saat hati Fahmi remuk mengingat kejadian itu.
●●●
        Jikalau aku hidup di zaman Malin Kundang mungkin yang akan dikenang sejarah adalah namaku. Bagiku kutukan menjadi batu untuk Malin Kundang tidak ada apa-apanya dari kisahku. Lebih nahas. Selalu saja aku ini membandingkan kisahku dengan orang lain, padahal sudah tahu akhirnya bahwa aku tidak akan pernah berdaya mengubah dan mengatur jalan ceritaku dan Ibuku selamanya.
        Kala itu, aku pernah melarang Ibuku untuk menghubungi selama aku mengerjakan skripsi. Mungkin hampir sembilan bulan lamanya hidupku tenang tanpa dering telepon dari Ibu. Entahlah mengapa bisa pas sembilan bulan layaknya seorang Ibu yang sedang mengandung dan menanti perjumpaan ajaib dengan manusia mungil itu. Begitu juga Ibuku, karena keegoisanku, Ibuku harus mengalami lagi sembilan bulan penuh penuh perjuangan karena merindukanku.  Terkadang pertanyaan muncul dalam benakku, apakah yang kulakukan ini keterlaluan? Lalu sisi diriku yang lain membenarkan bahwa hal ini tidaklah salah, karena Ibu ingin aku sukses, maka sudah sepantasnya baginya untuk tidak sering menelepon agar aku tidak terganggu, apalagi saat-saat seperti ini ketika aku sedang sibuk mempersiapkan sidang skripsi. Memang, kala itu bagiku yang terpenting adalah ambisi dan prestasi dan hal itu membuatku membangun dinding yang sangat tinggi antara aku dan Ibu.
Ddrr…ddrr… Gawaiku berdering, tampak nama kontak ‘Dek Miya’ sepupuku, dan dia mengajakku untuk VC¹  (Video Call). Ada apa gerangan? Aku terheran saja karena tidak biasanya sepupuku yang satu ini mengajak untuk VC.
Kutekan layar gawaiku, dan tampaklah Dek Miya sedang tersenyum lebar saat melihatku, lalu dia menyapa.
“Hai… Bang Fahmi” (Seperti biasa, Dek Miya selalu ramah dan ceria).
“Hai juga, Dek Miya. Ada apa Dek? Tumben menghubungi Abang”.
“Bukan aku yang ingin menghubungi Bang Fahmi, tapi Bulik Warmi” (Ekspresiku berubah, terlihat kilatan api dalam sorotku).
“Halo Nak, Ibu kangen” (Mata Ibu nanar di tengah keriputnya).
“Ibu, sudah Bu. Cukup. Fahmi kan sudah bilang jangan hubungi Fahmi sampai semua urusan skripsi selesai. Lagian Ibu itu ndeso²  masak ngehubungin Fahmi setiap saat dan nggak tahu kondisi, mentang-mentang Ibu sekarang punya gawai hasil warisan Bapak jadi sekarang seenaknya sendiri menghubungi Fahmi. Bu, Fahmi ini sudah dewasa, sudah punya kesibukan sendiri, jadi ya sudahlah Bu, jangan mengekor terus di belakang Fahmi” (Ada rasa kepuasan tersendiri setelah mengeluarkan semua hal yang selama ini kupendam untuk Ibu).
“Iya nak, Ibu mengerti. Bagaimana lagi nak, Ibu seumur hidup baru sekarang ini punya gawai itupun warisan dari Bapakmu. Terus bagaimana Ibu tidak menghubungi kamu terus, lah kamu kan anak Ibu seorang dan siapa lagi kalau bukan kamu yang Ibu hubungi?” (Terlihat mulai memerah matanya).
Aku memandang datar kepadanya.
“Sudahlah nak, maafkan Ibu. Jaga dirimu” (Ibu tersenyum sembari menyeka air matanya).
Telepon itu usai, dan itu wajah terakhir ibu yang kulihat.
●●●
        Dua bulan berlalu semenjak telepon hari itu, aku wisuda dan Ibu tidak datang. Saat aku berpidato sebagai lulusan terbaik pun Ibu masih kunjung belum datang. Dan saat riuh tepuk tangan hadirin ditujukan padaku, aku melihat Dek Miya datang dengan tatapan nanar. Dia berdiri di ujung pintu keluar melambai padaku, aku segera menghampirinya. Detak jantung mulai berpacu dan aku merasa ada sesuatu yang terjadi pada Ibu. 
        Aku di samping Dek Miya, menatapnya tampak letih dan berantakan. Dia mencondongkan badannya kepadaku seraya berbisik “Bang Fahmi, mengapa tadi pagi tidak mengangkat telepon dari Bulik Warmi? Kalau Abang angkat, mungkin saja Bulik Warmi masih bisa selamat. Bang Fahmi ayuk pulang sekarang! Bulik sudah menunggu, Bulik Warmi rindu dengan anak lelaki kesayangannya” (Plakat penghargaanku jatuh terlepas dari genggamanku dan sejak itu hatiku remuk dan tertiup angin).
●●●
        Aku enggan beranjak dari kubur Ibu. Aku berada pada puncak kemarahan dan kerapuhan sebagai manusia, lelaki dan tentu saja seorang anak. Aku mengutuk diriku berkali-kali yang telah durhaka pada Ibu. Aku menggenggam erat gawai Ibu dan mencela kesombonganku sebagai anak. Perasaanku tak karuan saat tahu dari Dek Miya dan pihak kepolisian bahwa Ibu ditemukan oleh warga hanyut di sungai kampung sambil memegang erat gawainya. Menurut penyelidikan polisi dan kesaksian warga, Ibu dirampok dan didorong ke sungai saat menunggu mobil jemputan Pakdhe Karman untuk menghadiri wisudaku. Dan baru saja polisi mengabarkan sudah meringkus dua pelaku itu. Dan saat salah satu polisi bertanya mengapa aku tidak mengangkat telepon dari ibu saat kejadian, aku hanya memandangnya dengan isyarat bahwa aku memang biadab.
        “Tuhan, mengapa harus dengan cara seperti ini Engkau membalas durhakaku pada Ibu?" (Sudah tak terhingga berapa banyak air mata yang menetes).
        Aku berjalan tanpa arah sambil membaca berulang kali pesan singkat dari Ibu yang tak pernah terkirim kepadaku. Dek Miya bilang bahwa pesan singkat itu adalah kali pertama Ibu belajar mengetik di gawai dan Ibu tak berani mengirimkannya kepadaku karena takut aku risih padanya.
        Isi pesan singkat itu:
        “Ibu akan terus mencintai dan menyayangimu Fahmi, selalu menghubungimu lewat doa di kala bulan dan mentari masih nampak di jendela rumah kita yang kecil, di setiap hembusan nafas Ibu yang terkadang bercampur batuk, di setiap hari tua yang Ibu syukuri dan di setiap Ibu memanggilmu ‘Nak’ lantas kau menjawab ‘Iya bu..’”.
        “Ya Tuhan jikalau tidak Engkau izinkan hamba meminjam sepuluh detik saja untuk menghubungi Ibu, maka terimalah penyesalan dan pengakuan kesalahan ini”.
        Pinjamkanlah sepuluh detik saja untuk Ibumu menelepon di kala sibukmu. Perkenankanlah dalam sepuluh detik itu Ibumu menyapamu dan bertanya tentang harimu. Karena kau tak akan pernah tahu saat Ibumu tak akan pernah lagi bisa menghubungimu karena sudah berbeda alam denganmu.
        Hingga detik ini sebuah pikiran bersarang dalam hati bahwa cinta rindu Ibu tetap ada untukku meski raganya sudah menyatu dengan tanah sedangkan prestasiku saat itu adalah fatamorgana dari kesombonganku sebagai anak. Bagaimana bisa dengan bodohnya aku menukar perhatian dan kerinduan Ibuku dengan kesibukan duniawi yang tak berujung jika aku terus mengejarnya.
●●●

¹Melakukan panggilan telepon dengan langsung bertatap wajah.
²Ndeso=Norak= Tertinggal oleh suatu perkembangan.

Source Image: Pikiran Rakyat Cirebon
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar