Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

SEMANGAT DENGAN ILMU, BUKAN NAFSU


 

Oleh: Alvian Izzul Fikri

        Kejadian teror yang beruntun terjadi di beberapa daerah di Indonesia baru-baru ini menjelang ramadhan, menggegerkan seluruh komponen lapisan warga negara Indonesia, baik dari pemerintah, tokoh agama, sampai khalayak umum. Pemerintah sudah sejak lama memberikan perhatian khusus dalam masalah ini, baik melakukan kerjasama dengan aparatur negara sampai kepada tokoh-tokoh agama dalam penyuluhan pemahaman akan bahaya terorisme.
        Banyak media cetak maupun digital memberitakan hal ini sebagai headline news, tentang kejadian terar ini. Sehingga narisi inipun begitu masif tersebar dikalangan masyarakat. Hal ini juga dimanfaatkan berbagai tokoh agama, khususnya ulama untuk memberikan penyuluhan beserta pemahaman tentang bahaya terorisme, baik secara langsung maupun leawat media cetak dan digital.
        Salah satunya adalah acara Catatan Najwa Spesial, Kumpul ulama penyejuk hati yang dipandu langsung oleh Najwa Shihab bersama beberapa tokoh ulama besar di Indonesia, yang disiarkan di kanal youtubenya, yang membahas tentang isu-isu terkini yang terjadi di Indonesia yaitu tentang terorisme. salah satu dari mereka adalah KH Ahmad Musthofa Bisri atau yang lebih kita kenal dengan Gus Mus.
        Beliau (Gus Mus) mengatakan bahwa “Ilmu pengetahuan tentang agama itu penting sekali untuk beragama”, Banyak sekali orang itu yang semangat keberagamaannya begitu berkobar-kobar tapi tidak diimbangi dengan kedalaman pemahaman agama, ini yang jadi masalah, ditambah lagi dengan orang-orang yang didengarkan karena mereka kyai, dai, mubaligh, atau pemimpin apa saja itu mengucapkan atau menyampaikan narasi kebencian.
        Beliau menambahkan bahwa sudah seharusnya untuk para kyai, dai, mubaligh ataupun pemimpin untuk tidak menyampaikan kebencian sama sekali, karena kebencian menggunakan atas nama agama adalah yang paling banyak mudah menyulut  anak-anak muda yang belum banyak mengerti tentang agama, yang menjadikan kepentingan pribadi mengatas namakan agama. Semangat beragama harus berdampingan dengan ilmu.
           "Mereka, anak-anak muda menjadi korban dari orang-orang yang didengarkan tapi belum memenuhi standar untuk didengarkan soal agama” imbuh beliau. Mengingatkan kepada orang-orang yang didengar akan tetapi mereka belum layak untuk itu, dan sebagai himbauan kepada seluruh masyarakat, khususnya anak muda untuk selalu memperhatikan alarm yang harus digunakan,wasathiyah (moderat), memiliki keseimbangan antara teks dan konteks dan fiqhul awliyat (prioritas) sebagaimana yang telah disebutkan oleh Ustadz Dr. Ali Nurdin.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar