Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

SAHLAB II

Oleh: Ahmad Nasrul M

 

Mataku berkeliling menyaksikan para pengunjung lainnya. Ada yang datang bersama keluarganya, ada yang bersama temannya hingga ada yang nampak duduk sendirian, kasihan. Seusai beberapa menit lamanya, Riski datang seraya menyeimbangkan dua gelas di atas nampannya.

“Apa ini ?” tanyaku penasaran

“Sahlab” ia mendekatkan gelas besar berisikan minuman berwarna putih itu ke mulutnya. Sontak aku menyeret tangannya yang membuat sebagian minuman itu tertumpah. “Ris belum buka”

“Apa-apaan kau ini, tengok jam” wajahku sedikit merah menahan malu setelah tahu bahwa jarum jam berada tepat di pukul enam. Ternyata aku sudah cukup lama singgah di restoran ini.

Aku meneguk isi gelas itu perlahan, rasanya segar untuk membasahi keringnya tenggorokan. Rasanya cukup manis, mungkin ini berasal dari susu dan kayu manis yang dicampurkan. Gelasku hampir habis, tersisa empat kali tegukan untuk ku minum setelah menghabiskan canai yang juga dipesan Riski.

Di tengah nikmatnya makan, mendadak saja aku teringat akan tujuan kita sebelumnya. Aku menagihnya kepada Riski, “Mana kolak khas Saudi yang kau janjikan Riss ?” ujarku bersamaan dengan Riski yang hendak meneguk minumnya. Namun ternyata pertanyaanku tidak dapat menghentikan mulutnya yang terus menyesap cairan putih itu.

“Apakah kau tidak merasakan sedikit pun kolak di sahlab ini ?” kepalaku menggeleng, tanpa mengujar kata.

“Kau yang benar Yus, ini bahkan lebih manis dari kolakmu” ia kembali meneguk minuman itu lebih lama, sepertinya ia berusaha meyakinkanku bahwa minuman ini selezat kolak Ramadhan.

“Bagaimana bisa kau menyebutnya kolak, kalau di sini saja aku tak melihat pisang bahkan rasa santan sedikit pun” ucapku dengen nada tinggi, membuat beberapa pengunjung lainnya melirik kepadaku.

“Tapi ini lebih lezat dibanding kolak kan ?” Ternyata Riski juga tidak ingin kalah dariku. Ia bahkan meninggikan suaranya dariku. Apakah kita akan beradu mulut lagi ? Tidak, setelah seorang nenek tua menghampiri kita berdua. Sepertinya ucapanku dan Riski telah mengalihkan perhatian pengunjung restoran.

Wanita paruh baya itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Jubahnya hitam lebar, dengan ditempeli pernak pernik bening di beberapa bagiannya. “Apakah kalian sedang memperdebatkan ini ?” Riski menginjak kakiku dari bawah meja sedang aku reflek kesakitan. Kita berdua saling pandang agak lama. Hingga Riski memberanikan diri untuk bertanya, “Apakah antum dari Indonesia ?” Wanita tua itu membenarkan kursi di samping Riski,

“Apakah saya boleh duduk di sini ?”

“Silahkann” jawabku hampir bersamaan

Sebelum ia bercerita lebar, Nenek itu membuka sebuah wadah yang dikeluarkannya, lantas mengaduk lalu menuangkannya ke dalam gelasku dan Riski. Aku terkejut, ternyata isi dari wadah itu adalah sebuah kolak pisang. Mataku berbinar memandangi kolak pisang berharga ini. “Minumlah ! Semoga kolak pisang ini dapat mewakili jawaban atas pertanyaan kalian dari mana aku berasal ?” kami bertiga saling tertawa lepas sembari meneguk kolak pisang langkah itu.

“Lihat Riss, kolak pisang Arab Saudi gak ada, kalo kolak pisang di Arab saudi baru adaaa”

Mendengarkan ceritanya, ternyata wanita baik itu perantau Indonesia yang kerja sebagai asisten rumah tangga di negeri ini. Beruntungnya ia mendapatkan majikan yang baik, sehingga dia sangat betah untuk tinggal di sini. Karena biasanya dari tenaga kerja Indonesia yang meminta untuk cepat pulang lantaran mendapatkan majikan yang ringan tangan.



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar