Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

RINGANNYA LISAN


Oleh: Alvian Izzul Fikri

        Pernahkah kita mendengar cerita bahwa orang-orang disekitar kita sedang membicarakan keburukan yang kita miliki sedangkan kita tidak berada di tempat mereka?, atau malahan pernahkah kalian dihujat dan kalian tahu itu, baik berupa sindiran leawat status whatsapp, story Instagram atau yang lainnya. Lantas apa yang pertama kali terlintas dibenakmu akan hal itu?, marah kepada orang yang menjatuhkan kita?, sedih ketika mendengar orang yang membicarakan itu adalah teman akrabmu?. Pada kesempatan kali ini penulis akan mencoba mengajak teman-teman untuk mencoba memahaminya dalam prespektif seorang mukmin.
        Perkara pertama yang harus kita pahami dahulu adalah bahwa semakin bertambanhya ilmu dan keimanan kita sudah seharusnya semakin bertambahlah pula rasa toleran dan pemahaman akan keadaan/kejadian yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi. Sehingga kita dapat menginpretasikan apa yang sudah, sedang dan akan itu adalah merupakan qodarulllah. Dan perlu kita sadari bersama juga bahwa manusia hanya bisa melihat sesuatu yang nampak, dan tidak mampu melihat sesuatu dibalik yang nampak/jelas.
“Everything happens for a reason” Seperti apa yang dikatakan pepatah diatas bahwa segala sesuatu yang terjadi itu pasti ada alasan dibaliknya. Dan kaedah ini juga berlaku pada perkara yang kita bahas pada kesempatan kali ini, bahwasanya dibalik mereka yang membicarakan keburukan kita sesungguhnya ada alasan yang melatar belakanginya. Marilah pada kesempatan kali ini kita mencoba menarik dan menggali hal positif darinya, bukan sebaliknya.
        Kita sadari maupun tidak kita sadari bahwa sudah berapa banyak teman-teman kita yang tidak bisa selamat dari lisan kita. sembari kita merenung berapakah, bahkan adakah teman kita yang bisa selamat dari lisan kita?. Seperti kita ketahui bersama bahwasanya setiap kita membicarakan orang lain, disitu kita berada diantara dua jurang yang mengerikan, yaitu ghibah dan fitnah. Dimana ghibah ketika engkau membicarakan apa yang dibenci/tidak disenangi orang yang sedang kau bicarakan, dan menjadi fitnah ketika engkau membicarakan apa yang tidak ada pada dirinya.
        Ketika kita membicarakan orang mukmin, bahwa sesungguhnya harga diri seorang mukmin itu sangatlah tinggi dan kita harus menjaganya. Berapa banyak orang saksi yang dibutuhkan untuk menjadi saksi pelaku perzinahan?. Islam memberi ketentuan 4 orang saksi, agar tuduhan itu diterima. Lain halnya dengan banyaknya saksi yang dibutuhkan ketika kita ingin menetapkan hilal, dimana hanya dibutuhkan satu orang saksi untuk melihatnya.
        Kita bisa menarik kesimpulan bahwa bagaimana islam menaruh harga diri seorang mukmin itu lebih tinggi dari pada perkara yang lain. Dimana ketika kita mencoba memahami lebih dalam, suatu perkara yang sulit bahkan tidak mungkin kita bisa mendatangkan 4 orang saksi bagi pelaku perzinahan. Sungguh perkara yang amat besar bila mana kita menjelekkan apalagi menjatuhkan harga diri seorang mukmin.
        Maka Langkah yang harus kita ambil ketika kita mendaptkan kabar tentang kita, maka sudah seharusnya kita mencoba muhasabah diri terlebih dahulu. Dan agar selalu memafkan serta mendoakan kepada orang-orang yang merendahkan bahkan memusuhi kita Dan berdoa agar kita selalu dihindarkan dari perkara yang merendahkan harga diri orang mukmin. 


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar