Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

PERJALANAN MENUJU CINTA SEJATI (REVIEW NOVEL NAAM AHWAK KARYA MARWAH MAMDUH)


Oleh: Nety Novita Hariyani

Tentang Novel
Judul          :  Na’am, Ahwak

Pengarang :  Marwah Mamduh

Penerbit     :  ‘Ashirul Kutub, Mesir

Terbit         :  Mei 2015

Cetakan      :  Pertama

Jumlah Halaman :  104

Novel berjudul Naam Ahwak (Benar, aku mencintaimu) karya Marwah Mamduh bercerita tentang perjalanan cinta antara tokoh utama Rana dengan pria bernama Abdullah yang baru ia kenal. Garis hidup Rana yang begitu pahit sepeninggal ibunya juga ayah yang tak pernah menemuinya 4 tahun belakangan membuatnya seolah merasa tidak diinginkan dan menempatkan perasaannya pada kekosongan, baginya tidak ada cinta untuk siapapun. Setelah bertemu pengacara dan mendengar kabar ayahnya meninggal, hidupnya semakin merasa tidak berarti. Ia harus menerima kenyataan bahwa keinginannya untuk bertemu ayahnya lenyap dan kini ia mendapat wasiat dari ayahnya untuk menikah dengan pria yang belum dikenal atau memilih tidak menerima sepeser pun harta peninggalan ayahnya itu.

Ada 18 bab dalam novel dikisahkan Marwah Mamduh dengan bahasa yang sederhana namun  mampu membuat pembaca seolah terbawa romansa cinta diantara tokoh Rana dan Abdullah. Meskipun dijumpai tokoh Rana tampak dingin dan kerap kali bersikap tidak peduli terhadap suaminya Abdullah, namun Abdullah dengan tulus kasihnya senantiasa berusaha membuat Rana nyaman dan bahagia didekatnya. Bagi Abdullah Rana adalah gadis kecil yang sangat ia cintai.

Gambaran Isi Novel
Cerita ini bermula ketika Rana mendapat kabar kematian ayahnya dari pengacara yang tak lain kerabat ayahnya dan akan dibacakan sebuah wasiat. Kemudian pada bab kedua "لن أتزوجك" pertemuan pertama Rana dengan Abdullah. Ayah Rana berwasiat agar Rana dan Abdullah menikah atau Rana tidak mendapatkan harta peninggalan ayahnya sepeser pun. Mendengar itu Rana tersulut emosi dan menolak karena baginya perasaannya sudah mati dan cinta itu omong kosong, setelah rasa sakit yang ia alami bertahun-bertahun akibat kematian ibunya juga kepergian ayahnya. 

Dilanjutkan pada bab ketiga "سجن لمده عام" Rana akhirnya menyetujui menikah bersama Abdullah dengan syarat setelah setahun mereka berpisah. Pernikahan mereka bagi Rana adalah penjara selama satu tahun. Dari awal bab pada novel, pembaca disuguhkan karakter tokoh utama yang keras kepala dan mengalami perang batin karena penderitaan yang ia rasakan selama bertahun-tahun. Berbanding terbalik dengan tokoh Abdullah yang tulus menyayangi dan sabar menghadapi sikap Rana, pengarang seolah menunjukkan Abdullah adalah pelengkap ketidaksempurnaan Rana. 
Setelah menjalani bahtera rumah tangga selama berbulan-bulan, Abdullah menyadari bahwa tidak ada perubahan pada sikap Rana. Rana seolah tidak menganggap Abdullah sebagai suaminya. Meskipun sebenarnya Abdullah tahu bahwa Rana mulai terbuka padanya, akan tetapi perasaan takut tersakiti karena kehilangan yang dialami Rana dulu telah menghantui pikirannya sehingga ia bersikap demikian. Hingga pada akhirnya Abdullah diberi saran oleh temannya untuk mengajak Rana travelling ke London dengan harapan disana mereka dapat menemukan suasana baru dan Rana dapat berubah. Berbagai kisah yang terjadi di London inilah yang akhirnya membuat benih-benih cinta Rana kepada suaminya mulai tumbuh.
Setiba di London dari Mesir, Rana dan Abdullah menuju tempat penginapan. Abdullah meminta Rana untuk menunggunya sebentar di dalam karena ia punya urusan pekerjaan bersama koleganya. Rasa penasaran Rana terhadap London membuatnya mencoba menjelajahi kota London sebentar tanpa meminta izin pada suaminya. Disinilah puncak konflik cerita terjadi, diperjalanan Rana bertemu seorang penjahat yang mencoba melecehkannya. Ia mencoba melawan penjahat itu sejauh  yang ia bisa.
Melihat Rana tidak ada di kamar penginapan, Abdullah panik dan mencoba menelpon Rana berulang kali. Ia menelusuri jalan demi jalan di kota London untuk menemukan Rana namun usahanya itu belum berhasil membuat Rana kembali. Sampai akhirnya ia meminta detektif yang bernama Michael untuk menyelidiki kasus ini. Abdullah sangat mencintai Rana, terbukti kekhawatirannya pada Rana yang begitu besar. Tidak lama kemudian, Abdullah mendapat kabar dari detektif Michael bahwa ada dua perempuan yang mendapatkan kekerasan di salah satu sudut kota London.

Detektif Michael dan Abdullah segera memastikan dua perempuan yang dirawat di Rumah Sakit apakah Rana atau bukan.  Abdullah lega mengetahui bahwa wanita yang tertembak bukan Rana, namun setelah melihat pasien lainnyya ia terkejut. Karena perempuan yang terbaring lemah itu adalah Rana. Abdullah sangat menyesal telah meninggalkan Rana untuk urusan pekerjaannya. Saat Rana sadar dan menjumpai suaminya dihadapannya, ia segera menyesali perbuatannya dan mengutarakan perasaannya dengan jujur terhadap suaminya itu.
Hari demi hari mereka jalani sebagaimana kehidupan suami-istri umumnya, namun kehadiran Salma ditengah-tengah mereka yang merupakan teman sekaligus masa lalu Abdullah dulu membuat Rana tidak nyaman dan cemburu. Salma yang telah menjanda dan mempunyai seorang anak berusaha mendekati Abdullah dengan berbagai cara. Setelah mengetahui istrinya tidak nyaman, Abdullah memutuskan pulang ke Mesir. Rana mengira di Mesir hubungannya dengan Abdullah dapat berjalan baik, namun nyatanya salma dan putrinya kembali menemui Abdullah. Rana marah dan memutuskan meninggalkan rumah.
Abdullah berusaha mengejar Rana yang pergi menggunakan taksi, namun saat mengemudi Abdullah kehilangan kendali dan menabrak truk yang ada didepannya. Rana sangat menyesal meninggalkan rumah dan karenanya juga Abdullah celaka. Selama 4 bulan tidak sadarkan diri, Rana tidak kehilangan harapan untuk merawat Abdullah dengan baik. Ia tidak ingin kembali mengukir kisah kehilangan seseorang yang dicintainya seperti dulu. Takdir berpihak padanya, Abdullah sadar dari komanya. Mereka berdua saling mengutarakan cintanya setelah itu. Cerita berakhir dengan pengakuan Rana "نعم أهواك".

Kelebihan Novel
Setelah membaca secara keseluruhan novel berjudul “Na’am Ahwak” karya Marwah Mamduh,  penulis menemukan banyak pesan yang bisa dipetik dari berbagai kisah yang diungkapkan pengarang dalam novel. Novel ini menggambarkan bahwa setiap insan berhak untuk bahagia. Dari awal diceritakan tokoh Rana merasa dirinya tidak ditakdirkan untuk memiliki rasa cinta, namun seiring berjalannya waktu ia menyadari bahwa cintalah yang dapat merubah penderitannya menjadi bahagia. Dari karakter tokoh Abdullah, dapat diambil pelajaran bahwa sabar dan perjuangan akan berbuah manis dikemudian hari.

Meskipun alur cerita dalam novel terkesan monoton, dengan kepiawaian pengarang ketika mengungkapkan isi cerita sehingga kisahnya mengalir begitu saja telah menyihir pembaca untuk turut menyelami kisah mereka dalam setiap babnya. Apalagi di dalam novel lebih banyak dialog ketimbang narasi, pengarang seolah mengajak pembaca untuk dapat memahami setiap kisahnya secara langsung tanpa bertele-tele seperti dalam memahami narasi yang digambarkan pengarang pada umumnya.

Novel ini unik, judul bab pada novel tidak terfokus pada sudut pandang tokoh aku yang menjadi karakter utama dalam novel. Melainkan judul setiap bab yang ada disesuaikan pada penggambaran cerita dalam novel dan beberapa berdasarkan sudut pandang tokoh lain, namun tokoh utama tetap menjadi center pada setiap babnya. Pada bab keempat "سر يخفيه عني" (rahasia apa yang disembunyikan dariku), berdasarkan judul bab ini diceritakan tentang rasa penasaran Rana mengenai rahasia yang disembunyikan oleh Abdullah, artinya judul ini berdasarkan sudut pandang tokoh utama Rana. Sedangkan pada bab lainnya "صغيرتي الحبيبة" (Gadis kecilku yang tercinta) diceritakan Rana adalah istri yang sangat dicintai Abdullah, artinya judul ini berdasarkan sudut pandang tokoh Abdullah. Begitu juga pada judul lainnya dalam bab-bab novel.

Dalam Novel, penulis menemukan bab “na’am, na’am ahwak” terletak pada bab akhir novel yang judulnya sama dengan judul utama novel. Pada bab ini dikisahkan Rana mulai menyadari bahwa Abdullah sangat mencintai dirinya, dan dirinya juga mencintai Abdullah. Kemudian Rana mengungkapkan rasa cintanya terhadap Abdullah ketika Abdullah tersadar dari komanya. Marwah Mamduh hendak menyoroti bahwa center dari cerita novel ini terletak pada bab “na’am, na’am ahwak”, diartikan sebagai akhir dari perjalanan cinta Rana menuju Abdullah dan awal bagi keduanya untuk memulai hidup bahagia.
Sebagai wujud karya sastra, novel bisa dikaji menggunakan teori menurut ahli sastra sesuai dengan pendekatan yang dipilih. Pada novel “na’am ahwak”, penulis menjumpai kondisi psikologis tokoh Rana yang bermasalah, dikisahkan tokoh Rana seringkali merasa dirinya tidak berguna, tidak diinginkan, seolah menggambarkan hidupnya dipenuhi dengan penderitaan. Novel ini layak dikaji berdasarkan teori psikologi sastra. Apakah yang terjadi pada Rana adalah masa lalu pengarang, atau pengarang novel “na’am ahwak” mencoba mengisahkan kejadian yang pernah dialami seseorang yang pernah ditemuinya. Sehingga penelitian terkait karya sastra dari sudut psikologi akan terus berkembang.

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar