Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

PEREMPUAN PELETAK PERTAMA HUKUM ZIHAR DI DALAM PERNIKAHAN


Oleh: Izzat Imaniya

Zihar merupakan perbuatan suami mempersamakan istrinya dengan orang lain yang haram untuk dinikahinya sebagai istri, entah itu mahram karena nasab seperti ibu, saudara perempuan kandung, dan bibi atau mahram karena perinkahan seperti ibu mertua, atau mahram dikarenakan sesusuan (radha’ah). Pada zaman Rasulullah terdapat seorang perempuan yang benama Khaulah binti Tsa’labah. Ia merupakan perempuan yang sangat terkenal fasih dan pandai. Suaminya bernama Aus bin Shamit bin Qais, mereka mempunyai anak laki-laki bernama Rabi’. Khaulah binti Tsa’labah bukan hanya perempuan yang fasih dan pandai, ia juga sangat tegas ketika memberikan nasihat kepada sisapapun. 

Imam Al-Qurtubi bercerita, Umar bin Khattab suatu saat bertemu dengan seorang perempuan yang memberhentikan perjalanannya dalam keadaan banyak orang yang menunggang kuda. Perempuan tersebut memberikan nasihat kepada Umar bin Khattab dengan berkata “Wahai Umar, dahulu engkau dipanggil Umair, kemudian engkau dipanggil Umar, dan kemudian engkau dipanggil Amirul Mu’minin, maka bertakwalah engkau, karena barang siapa yang meyakini adanya kematian, ia akan takut kehilangan kesempatan. Dan barang siapa yang yakin akan adanya hari perhitungan amal, makai a pasti takut kepada siksa”. Umar mendengar nasihat dari perempouab tersebut sambal berdiri, kemudian salah seorang bertanya, “ Wahai Amirul Mu’minin, kenapa engkau mau berdiri seperti itu untuk mendengarkan perempuan tua rent aitu?”. Umar bin Khattab menjawab “apakah kalian tau siapa perempuan tua renta iitu? Ia adalah Kahulah binti Tsa’labah . perempuan yang perkataannya didengar oleh Allah SWT dari atas languit ketujuh.  Dalam riwayat lain Umar bin Khattab berkata, “ Demi Allah, jika beliau tidak mengakhiri nasihatnya kepadaku sampai malam hari, maka aku tidak akan menyudahinya sampai beliau selesaikan apa yang dikehendakinya untuk disampaikan kecuali apabila telah masuk waktu sholat, maka aku akan sholat dan selesai sholat aku akan kembali mendengarkan nasihat dari beliau.

Suatu saat, Khaulah binti Tsa’labah menemui suaminya Aus bin Shamit dalam keadaan marah dan  berkata kepada Khaulah binti Tsa’labah “ Bagiku engkau ini seperti punggung ibuku”. Setelah mengatakan itu kepada istrinya, Aus bin Shamit keluar. Beberapa saat kemudian Aus bin Shamit masuk dan menginginkan Khaulah. Akan tetapi Khaulah berkata kepada suaminya, “Jangan! Demi Allah yang jiwa Khaulah berada ditangan-Nya, engkau tidak boleh mempergauliku karena engkau telah mengucapkan perkataan zihar kepadaku, sehingga Allah dan Rasul-Nya lah yang bisa memutuskan hukum atas peristiwa yang telah menimpa kita. Kemudian Khaulah binti Tsa’labah menemui Rasulullah untuk meminta fatwa atas peristiwa yang telah dialaminya Bersama suami. Rasulullah bersabda setelah mendegarkan cerita dari Khaulah binti Tsa’labah, “ Kami belum pernah mendapatkan perintah berkenaan urusanmu tersebut. Aku tidak melihat melainkan engkau sudah haram baginya.” Khaulah berulangkali menjelaskan kepada Rasulullah atas apa yang akan menimpa dirinya dan anaknya jika harus cerai dengan suaminya Aus bin Shamit. Akan tetapi Rasulullah tetap berkata “ Aku memandang, bahwa engkau telah haram baginya.”

Khaulah binti Tsa’labag selalu bedoa kepada Allah hingga Rasulullah SAW menerima wahyu dari Allah SWT. Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “ Wahai Khaulah, Sungguh Allah telah menurunkan Al-Qur’an tentangmu dan suamimu.” Kemudian Rasulullah membaca Firman Allah tersebut kepada Khaulah binti Tsa’labah, “Sungguh, Allah telah mendengar ucapan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhammad) tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah, dan Allah mendengar npercakapan antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar Maha Melihat. Peristiwa inilah yang menjadi asbabun nuzul dari ayat Al-Qur’an surat Al-Mujadalah ayat 1-4.

Setelah itu Rasulullah menjelaskan kepada Khaulah binti Tsa’labah tentang kafarat (tebusan) zihar. Rasulullah berkata kepada Khaulah binti Tsa’labah “ perintahkanlah kepada suamimu untuk  untuk memerdekakan seorang budak” Khaulah menjawab “ Wahai Rasulullah, sungguh tidak ada seorang budakpun yang bias ia merdekakan” kemudian Rasulullah kembali berkata kepada Khaulah “Jika demikian tidak bisa, perintahkanlah kepadanya untuk puasa selama dua bulan berturut-turut” Khaulah kembali menjawab Rasulullah “Demi Allah dia adalah Laki-laki yang tidak kuat untuk puasa” Rasulullah kembali berkata “ Maka perintahkanlah kepadanya untuk memberi makan dari kurma kepada 60 orang miskin” akan tetapi Khaulah berkata “ Wahai Rasulullah, ia tidak memiliki itu” hingga akhirnya Rasulullah berkata kepada Khaulah binti Tsa’labah “ Aku akan membantu suamimu dengan separuhnya” dan Khaulah menjawab Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, aku yang akan membantu separuhnya lagi.” Saat itu Rasulullah berkata kepada Khaulah binti Tsa’labah “ Engkau benar dan baik, maka sekarang pergilah dan sedekahkanlah kurma itu sebagai kafarat untuk suamimu, kemudian bergaullah engkau dengan suamimu itu secara baik.” 

Dalam kisah Khaulah binti Tsa’labah Bersama suaminya Aus bin Shamit, terdapat pelajaran yang bisa kita ambil tentang kerukunan dalam berumah tangga. Hendaklah seorang istri berperilaku lemah lembut dan sabar dalam mengahadapi suami yang sedang marah, bebitupula kepada suami agar berperilaku lembut dan sabar ketika menghadapi istri yang sedang marah. Karena jiwa yang sedang marah bagaikan gejolak api yang menyala, maka hendaknya salah satu diantara suami istri menjadi air untuk meredakan gejolak api tersebut. Selain itu, hendaklah suami istri agar selalu menghargai satu sama lain, karena hubungan jasmani dan rohani mereka sangat erat umtuk mendatangkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Inilah kisah yang bisa diteladani oleh kau madam ataupun kaum hawa agar senantiasa membangun keluarga diatas tiang agama. 


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar