Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

NAPAK TILAS SANG KIAI FEMINIS

laduni.id

Oleh: Astri Liyana

Subordinasi terhadap perempuan kini mulai merebak dalam berbagai aspek masyarakat, mulai dari aspek agama, sosial, politik, budaya, dan lain sebagainya. Keadaan tersebut lambat laun disadari oleh para intelektual termasuk para kiai pesantren di sejumlah wilayah di indonesia yang menaruh minat dan melibatkan diri pada isu-isu kesetaraan gender, salah satunya ialah K.H. Husain Muhammad. 

KH. Husain Muhammad atau biasa disebut dengan Kiai Husain, lahir di Cirebon, pada 9 Mei 1953. Beliau adalah anak kedua dari delapan bersaudara. Ayahnya bernama Muhammad Asyrofudin yang merupakan salah satu ulama terkemuka yang juga seorang penulis puisi dan seorang penyair. Sedangkan ibunya bernama Nyai Ummu Salma Syathori yang merupakan anak dari pendiri Pesantren Dar at-Tauhid, Cirebon. 

Sejak kecil KH. Husain Muhammad hidup dalam keluarga yang religius. Sehingga, tidak heran jika pendidikan pesantren menjadi hal yang wajib digeluti olehnya. Di samping itu, beliau adalah seorang yang haus akan ilmu pengetahuan. Di saat anak seusianya sedang gemar-gemarnya bermain dengan teman-temannya, beliau lebih memilih untuk belajar dan menghafal al-qur’an. 

Pendidikan agama pertama kali ia dapatkan di madrasah diniyah yang diajarkan oleh kakeknya. Kemudian beliau melanjutkan sekolahnya di SMPN 1 Arjawiguna dan lulus pada tahun 1969. Tidak berhenti sampai di situ, beliau mulai merantau untuk melanjutkan pendidikannya sambil mondok di Pesantren Lirboyo, Kediri. Ketika itu, Husain kecil gemar membaca surat kabar dari berbagai media cetak untuk mengisi waktu luangnya, bahkan ia sering mengirimkan tulisannya pada media cetak setempat. 

Pada tahun 1973, beliau lulus dari pesantren tersebut dan melanjutkan pendidikannya di kampus yang mewajibkan mahasiswanya untuk menghafalkan al-Qur’an, yakni Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur’an (PTIQ) Jakarta. Di kampus inilah beliau menyelesaikan hafalannya. Semasa kuliah, beliau benar-benar memanfaatkan waktu dengan baik. Tidak dapat dipungkiri, jiwa-jiwa aktivis mengalir dalam dirinya. Ia mempelopori berbagai pergerakan mahasiswa, salah satunya ialah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Kebayoran Lama. Lebih dari itu, beliau juga mempelopori majalah dinding kampus dan aktif menulis di dalamnya. 

Beliau banyak menulis terkait dengan feminis. Fakta sosial, budaya, dan agama seakan menjadi dogma dalam masyarakat terkait penilaian bias yang menyatakan perempuan sebagai kaum kelas dua dan tidak memiliki hak untuk setara dengan laki-laki. Berkat menulis inilah yang menjadikan beliau diakui secara internasional sebagai tokoh feminis muslim “kiai feminis”.

Setelah menyelesaikan program sarjananya pada tahun 1980, beliau kembali memperdalam ilmu dengan melanjutkan pendidikannya di Kairo, Mesir dan mengambil jurusan Ilmu Tafsir al-Qur’an. Melahap buku para pemikir besar mancanegara seakan menjadi rutinitas kesehariannya di sana. Pada tahun 1983 beliau berhasil menyelesaikan studinya dan saat itu pula kembali kembali ke tanah kelahirannya, dan ditunjuk sebagai pengasuh Pondok Pesantren Dar at-Tauhid, Cirebon. Dari pemaparan di atas, dapat dijadikan bukti bahwa intelektual pesantren juga mampu memberi kontribusi seperti akademisi lainnya. Wallahu a’lam bisshowab.     


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar