Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

MUDIK TAK JADI MUDIK


Oleh: A’yuni Sabila Khusna

       "Tes tes tes"..... suara seorang yang sedang mengecek microfon di pengeras suara, sepertinya dia hendak mengumumkan suatu hal. 

Penerima  tamu: “yurja huduroha ila diwani qismi diyafah ‘ala ismi Aisyah min fasli roobi’, syukron.” 

       Setelah mendengar pengumuman tersebut, salah satu santriwati mengeluh dikarenakan itu bukanlah pengumuman yang dia harapakan. Perkenalkan namanya Aliyah Nur Fadhila, dia adalah salah satu santriwati pondok modern yang berada di Jawa Timur. Akhir – akhir ini dia sangat merasa sedih dikarenakan dia adalah anak rantau yang sedang mengemban ilmu di pulau Jawa dan dia pun jarang sekali dijenguk seperti teman-teman sebayanya. 

“Aduh... kalau gini jadinya aku tahun depan setelah lulus kelas 3 SMP mau keluar saja dari pondok sini, aku mau pulang aja ke kampung halaman” keluh Aliyah kepada salah satu temannya.
 
‘’Astaghfirullah Aliyah....kamu jangan bilang begitu, hush ndak ilok atuh...nanti ilmu yang kamu emban selama 3 tahun disini jadi ndak barokah loh..hayuk istighfar....kamu ndak inget apa kata abah yai? Kalau menuntut ilmu itu harus dengan Kaafah....jangan setengah-setengah, meskipun berat itu kita dipodok diibaratkan seperti sedang menggali emas” nasihat teman Aliyah kepadanya. 

“Haduhhh enggeh..enggehh ustadzah...fahimtu kholas, syukron jazilan” ledek Aliyah kepada temannya yang memang dia itu sangat pandai dalam memotivasi ketika dia sedang sedih maupun senang.

        Setelah itu mereka bergegas masuk ke kamar masing-masing dan bersiap untuk mengikuti serangkaian kegiatan pondok. Setelah waktu belajar malam habis, seluruh santriwati dihimbau untuk berkumpul di aula oleh para Ustadzah pondok. 

Ustadzah: “Assalamualaikum...kaifa khalukunna?”

“Alhamdulillah inna bi khoir ya Ustadzah” jawab serentak seluruh santriwati sehingga membuat suara gema di seluruh sudut aula. 

Ustadzah: “Toyyib...disini ustadzah mau mengumumkan dua hal, yang pertama kabar baik dan kedua kabar yang kurang baik”. Sontak seluruh santriwati diam membisu ketika mendengarnya dan aula yang awalnya sedikit gaduh kembali hening dikarenakan penasarannya para santriwati dengan yang akan diumumkan oleh ustadzah mereka. 

Ustadzah: “Begini ukhti, untuk kabar bahagianya adalah alhamdulillah besok lusa kita sudah memasuki bulan ramadhan dan untuk kabar buruknya adalah dikarenakan ada kebijakan baru dari pemerintah untuk melarang mudik guna memotong rantai Covid-19, maka santri yang berdomisili di luar jawa maka tetap mukim di pondok sampai lebaran, tetapi jangan risau ya..ikhwati semua, disini kalian besok akan tetap di dampingi oleh ustadzah” Aliyah yang mendengar kabar tersebut seakan-akan seperti disambar petir di dalam imajinasinya, bagaimana tidak sudah lebih dari sebulan orangtuanya tidak pernah menelfon hanya untuk sekedar menanyakan kabar. Sesampainya di kamar Aliyah langsung diam mematung di depan almarinya, dia menangis tersedak-sedak dengan menuliskan sebuah diary. 

        Besoknya setelah sholat tarawih berjama’ah dimasjid Aliyah memiliki fikiran niat yang buruk, pada saat keamanan pondok tidak begitu ketat karena semuanya sedang melakukan tadarus bersama muallimahnya masing-masing dan Aliyah sendiri sudah menyiapkan beberapa uang untuk dibawanya kabur dari pondok. Alhasil Aliyah berhasil kabur dari pondok meskipun malam itu dia tidak tahu kemana dia akan pergi. 

        Di sisi lain ustadzah yang menyimak tadarus firqoh Aliyah mencarinya, karena Aliyah tidak izin untuk tidak mengikuti tadarus, lalu dicarilah Aliyah oleh salah satu teman di firqohnya. Setelah mencari di seluruh penjuru pondok dan hasilnya nihil ustadzahpun mulai curiga dan segera meminta bantuan salah satu ustadz pondok untuk mengecek CCTV gerbang. Tertangkaplah gerak gerik Aliyah kabur melewati gerbang, kemudia ustadzah langsung mengambil kunci motor dan segera mencari Aliyah di sepanjang jalan. 

         Setelah berjalan beberapa kilo Aliyahpun merasa capek dan takut karena dia tidak tahu mau menginap dimana, dan dia sedikit menyesali perbuatan bodohnya. Tak lama kemudian dia berhenti sejenak di depan toko sate ayam Madura karena kelelahan. Ditanyalah dia oleh ibuk penjual sate. “loh nduk mau kemana malam-malam begini? Anak wedok kok keluyuran sendiri seh...banyak begal loh malam-malam nduk!” seru ibuk penjual sate. Mendengar kalimat tersebut Aliyah tidak bisa menahan air mata yang hendak keluar dari kelompak matanya, dan menangislah dia ke ibuk penjual sate. Mendengar semua keluh kesah Aliyah, ibuk penjual sate iba kepadanya.

Ibuk penjual sate: “Pondokmu dimana ta nduk? Ayo ibuk anter balik...kasihan ibuk lihat anak perempuan cantik kayak kamu kelayapan malam-malam begini, mana ndak punya sodara di Jawa kan ya” bujuk ibuk penjual sate kepada Aliyah

Aliyah: “Ndak mau buk...saya takut mau kembali kepodok, saya takut dapat hukuman karena udah kabur dari pondok” rengek Aliyah kepada ibuk sate.
Setelah beberapa kali ibuk sate membujuk dan meyakinkan Aliyah, akhirnya dia mau untuk kembali kepondok. Sesampainya di pondok dan bertemu ustadzah pondok, ibuk penjual sate pun menceritakan kronologi Aliyah dan juga sebab dia kabur dari pondok.
 
Ibuk sate: “nggeh ngoten mawon Ustadzah...saya titip nduk ini nggeh...oh iya ndukk..ini tak bawakan satu bungkus sate buat sahur besok ya...sudah jangan nangis lagi...loh ya ada ustadzah kok di pondok...pun kula pamit rumiyin ustadzah, Assalamualaikum". Didudukkanlah Aliyah oleh ustadzah dan setelah Aliyah mengungkapkan semua keluh kesahnya kepada ustadzah..

Ustadzah: “Aliyah disini Ustadzah adalah ibuk kedua setelah orangtuamu, jadi jika ada masalah ustadzah sangat senang jika kamu mau bercerita, dan resiko menuntut ilmu itu harus berani keluar dari zona nyaman agar kelak kamu akan menikmati masninya kesuksesan, jauh dari orangtua itu adalah salah satu bentuk tirakatnya seorang santri, ayo Aliyah diingat-ingat lagi mahfudzotnya “Man Jadda Wa Jada”.

        Setelah itu Aliyah merasa bahwa dirinya telah kalah dengan hawa nafsunya sendiri. Kemudian dia keluar dari badai yang menghujani diri Aliyah, dia pun bangkit dari keterpurukannya dan kembali mengejar apa niat awalnya masuk pondok, yaitu menuntut ilmu sebanyak-banyaknya dan menghilangkan kebodohan sebagaimana apa yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW. 


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar