Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

MENELADANI SIFAT SYAFIYAH BINTI ABDUL MUTHOLIB


Oleh : Siti Khoirun Niswah

            Siapakah sosok ibu yang mempunyai pandangan kritis dan cekap tanggap, sehingga ia diperhitungkan oleh banyak pria? Siapa sahabat wanita yang handal dan muslimah pertama yang membunuh seorang musyrik demi membela agama islam? Dan siapa wanita muslimah yang menghunus pedangnya demi berjuang dalam jalan Allah? Dialah Shafiyah binti Abdul Mutholib. Ia adalah bibi Rasulullah dari keturunan ayah.  Ayahnya Abdul Mutholib bin Hasyim adalah kakek Rasulullah dan sesepuh Quraisy yang sangat disegani. Ibunya bernama Halah binti Wahab, kakak Aminah binti Wahab yang merupakan ibunda Rasulullah. Syafiyah mempunyai putra dari suami keduanya yang bernama Zubair bin Awwam yang merupakan pelindung Rasulullah. Syafiyah sering memukul Zubair, hingga pamannya mengritiknya bahwa itu cara yang salah untui mendidik seorang anak. Namun karena ketangguhannya, pukulan tersebut merupakan cara mendidiknya agar anaknya cepat pintar dalam melawan musuh.

            Syafiyah wanita mulia dari segi keturunan maupun keislaman. Saat usianya sekitar enam puluh tahun, sejarah menyebut namanya dengan penuh pujian dan penghargaan. Dalam perang uhud, Syafiyah ikut bergabung dalam barisan wanita muslimah yang berjihad fi sabilillah. Ia berkeliling membawa air minum dan memberikannya kepada pejuang perang membela islam yang kehausan, selain itu ia juga mengatur anak panah dan  membenahi busur-busur. Hal ini ia lakukan karena pemimpin pasukan perang ialah keponakannya sendiri yakni Muhammad bin Abdullah. Suatu ketika pasukan muslimin berantakan, Rasulullah hanya dikawal oleh beberapa orang saja, sementara kaum musyrikin semakin bersemangat dalam bayan-bayang kemenangan. Syafiyah tak mampu menahan dirinya, dengan bergegas ditaruhlah tempat airnya, lalu mencabut tombak seorang prajurit yang cedera dan melompat ke tengah peperangan laksana singa betina yang menemui anaknya dalam bahaya.

            Dalam peperangan uhud tersebut, Syafiyah berhasil membantu kaum muslimin. Namun berita duka juga menghampirinya ketika ia melihat Hamza bin Abdul Mutholib yang merupakan adik kandungnya harus meninggal dunia di tangan kaum musyrikin dengan cara yang mengenaskan. Syafiyah beristighfar lirih bahwa itu semua semata berjihad di jalan Allah. Dalam hal ini, islam mencacat besar kisahyang dikakukan oleh Syafiyah. Bukan hanya pada perang Uhud, pada perang Khandaq Syafiyah juga tercacat dalam sejarah bahwa ia merupakan wanita tangguh dalam membantu kaum muslimin.

            Saat bergeser mendekati fajar Syafiyah melihat sosok bayangan yang mencurigakan. Setelah diperhatikan dengan cermat, ternyata bayangan yang ia lihat adalah mata-mata milik orang Yahudi. Lalu ia mengikuti bayangan tersebut. Wanita pemberani ini segera memutar otak, bahwa Yahudi bani Quraizhah sudah mengingkari janjinya kepada Rasulullah, mereka bersekutu dengan Quraisy untuk melawan kaum muslimin. Di benteng ini tidak ada yang bisa membela wanita dan anak-anak karena mereka berada di garis depan bersama Rasulullah untuk menghadapi musuh. Kalau sampai mata-mata tersebut berhasil menginformasikan situasi dalam benteng kepada kaumnya, pasti mereka akan menawan wanita dan anak-anak.

            Akhirnya Syafiyah mengambil keputusan, diikatnya kerudung di kepalanya, dieratkannya baju di perut. Setalah itu kesempatan yang tepat, dihantamnya sekali, dua kali, tiga kali sampai yakin bahwa kaum musrikin itu benar-benar tewas. Dan dengan cepat dipenggalnya kepala mata-mata itu dengan pisau yang selalu terselip dipinggangnya, lalu dibuang dari atas benteng. Kepala tanpa tubuh itu menggelinding sampai di depan orang-orang Yahudi lainnya. Atas kejadian itu, mereka kaum Yahudi berkata bahwa Rasulullah tidak membiarkan wanita dan anak-anak tanpa penjaga.

            Demikianlah perjuangan Syafiyah dalam membela islam. Disini hal yang dapat kita ambil ibrahnya adalah bagaiamana menjadi wanita yang tidak lemah, yang tidak hanya mengandalkan perasaan. Baik perasaan takut, gundah, dan biasanya bingan dalam berbuat. Kita sebagai wanita juga harus bisa melangkah dalam kebaikan dan berusaha sekuat tenaga dalam berjihad fi sabilillah. Kalau di zaman sekarang tidak ada perang, dapat diaplikasikan pada saat menggapai cita-cita. Bukan sekedar berangan, namun juga berjuang. Bukan sekedar berkeinginan namun juga melakukan hal untuk sampai pada tujuan.

Referensi : Dr. Abdurrahman Raf'at al-Basya, 2010. Sosok Para Sahabat Nabi Solo : Qisthi Press, cetakan ke 12. Hal.322-329




Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar