Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

KHAZANAH LITERASI SYAIKH NAWAWI AL-BANTANI


Oleh: Muhammad Rian Ferdian

Syaikh Nawawi al-Bantani merupakan salah seorang ulama Nusantara yang menjadi pengajar sekaligus imam di Masjidil Haram. Beliau lahir pada tahun 1230 H/1853 M di Tanara, Serang Banten dari pasangan Kiyai Umar dan Nyai Zubaidah. Ketika Nyai Zubaidah mengandung anak pertamanya, Kiyai Umar sudah dari jauh-jauh hari berazam jika yang lahir dari rahim istrinya tersebut laki-laki maka akan beliau beri nama Muhammad Nawawi. Keinginan Kiyai Umar tersebut Allah SWT kabulkan dengan lahirnya bayi laki-laki sebagai putera pertama beliau yang kemudian beliau beri nama Muhammad Nawawi. 
Kiyai Umar memberi nama Nawawi karena beliau terinspirasi oleh seorang ulama yang kitabnya sering dikaji olehnya. Sosok ulama tersebut adalah Syaikh Abu Zakaria bin Syaraf bin Murri bin Hasan al-Hizami al-Haurani al-Nawawi al-Dimasyqi (wafat tahun 676 H/1277 M) atau yang lebih populer dengan nama Imam an-Nawawi. Kealiman Imam an-Nawawi dalam menguasai berbagai disiplin ilmu agama dibuktikan dalam beberapa karyanya. Dalam bidang Hadits, beliau menyusun kitab Syarah Shahih Bukhari, Syarah Shahih Muslim, al-Adzkar, Riyadhu as-Shalihin dan al-Arba’in an-Nawawi. Dalam bidang Musthalahu al-Hadits, beliau menulis kitab yang berjudul al-Irsyad fi al-Ulum al-Hadits dan at-Taqrib wa at-tafsir. Dalam bidang fiqih, beliaupun menulis kitab Raudhatu at-Thalibin, Majmu’ syarh al-Muhadzab, Minhaju at-Thalibin, dll. Sedangkan dalam bidang Tasawuf, Imam an-Nawawi menyusun kitab Bustanu al-‘Arifin. 
Dengan memberi nama Nawawi kepada putera sulungnya, Kiai Umar berharap kelak Syaikh Nawawi al-Bantani akan menjadi seorang ulama yang ‘alim seperti sosok Imam an-Nawawi yang merupakan ulama besar yang ahli dalam berbagai kajian kelimuan Islam dengan keproduktifan beliau dalam mengarang banyak kitab keislaman. 
Tak hanya sekedar cita-cita belaka, keinginan Kiyai Umar agar kelak Syaikh Nawawi menjadi ulama besar beliau iringi dengan doa dan usaha. Sebagai salah seorang tokoh agama juga saat itu yang mempunyai pesantren, Kiyai Umar dan Nyai Zubaidah merupakan guru pertama bagi Syaikh Nawawi dalam pengembaraan menuntut ilmu. Dari kedua orangtuanya tersebut beliau diajarkan berbagai keilmuan Islam seperti membaca al-Qur’an, Fiqih, Teologi, dan Gramatika Arab. 
Ketika Syaikh Nawawi al-Bantani memasuki usia 8 tahun, beliau bersama dengan dua adiknya diperintahkan Kiyai Umar melanjutkan perjalanan menuntut ilmunya kepada salah seorang ulama terkemuka di Banten yaitu Kiai Haji Sahal. Di Pesantren Kiyai Haji Sahal, Syeikh Nawawi belajar beberapa kitab klasik seperti al-Jurumiyah, Syarah Ibnu ‘Aqil, Taqrib, dan Syarah Fathul Qarib al-Majid. Setelah selesai belajar di Pesantren Kiyai Haji Sahal, Syaikh Nawawi al-Bantani beserta dua adiknya melanjutkan belajar ke pesantren Kiyai Yusuf di Purwakarta. Setelah itu, Syaikh Nawawi al-Bantani pun meneruskan pengembaraan mencari ilmunya ke Pesantren Cikampek, Jawa Barat untuk mempelajari Bahasa Arab dan Gramatikanya. 

Tak hanya belajar di dalam negeri, pengembaraan menuntut ilmu beliau berlanjut ke Negeri Hijaz pada tahun 1828. Di sana beliau bermukim di kampung al-Jawi yang merupakan daerah kawasan di Makkah yang menjadi tempat komunitas bangsa melayu seperti Jawa, Sunda, Sumatera, Sulawesi dan Asia Tenggara. Syaikh Nawawi al-Bantani sangat antusias menghadiri halaqah-halaqah keilmuan yang ada di sana. Kepada ulama-ulama Nusantara yang mengajar di Masjidil Haram, beliau belajar kepada Syaikh Junaid al-Batawi (Jakarta), Syaikh Yusuf bin Arsyad al-Banjari (Banjarmasin),  Syaikh Abdush Shamad bin Abdurrahman al-Palimbani (Palembang), Syaikh Arsyad bin Abdus Shimad al-Palimbani (Palembang) dan  Syaikh Ahmad bin Abdul Ghaffar al-Sambasi (Sambas), 
Selain kepada para ulama Nusantara yang bermukim di Makkah, Syeikh Nawawi al-Bantani juga belajar kepada para ulama yang ada di Tanah Hijaz, diantara nya adalah Syaikh Ahmad al-Nakhrawi al-Makki, Syaikh Ahmad Dimyati, Syaikh Hasbullah, Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, Syaikh Abdul Hamid Daghastani, Syaikh Muhammad Khatib Hambali, dan lain-lain. 
Siang-Malam, beliau habiskan waktunya untuk mengkaji keilmuan. Beliau gunakan waktu yang ada untuk menelaah kitab-kitab yang diajarkan oleh para gurunya. Sehingga dalam pengembaraan menuntut ilmunya, berbagai disiplin keilmuan Islam telah diasah oleh Syaikh Nawawi al-Bantani, seperti Fiqih, Ushul Fiqih, Tafsir, Ushul al-Tafsir, Hadits, Ushul al-Hadits, Teologi, Tasawuf, serta berbagai cabang ilmu keislaman lainnya. 
Kealiman Syaikh Nawawi al-Bantani dalam menguasai berbagai disiplin keilmuan islam ini beliau abadikan lewat tinta yang digoreskan dalam kitab-kitab hasil karyanya. Dalam bidang Tafsir beliau menulis kitab Tafsir al-Munir. Dalam bidang fiqih, ada kitab Kasyifatussaja syarah Safinatuunaja, at-Tsimar al-Yani’ah syarah Riyadul Badi’ah, Nihayatu al-Zain syarah Qurratu al-‘Ain bi Muhimmah al-Din, Quwt al-Habib al-Gharib syarah Fath al-Qarib al-Mujib. Dalam bidang Teologi, Nurudzholam syarah nadhom Aqidatul ‘Awam, Dzariyyah al-Yaqin ‘ala Umm al-Barahin fi at-Tauhid, Qomi’u at-Thugyan syarah Mandhumah Syu’bul Iman  . Dalam bidang tasawuf, Nashaihu al-‘Ibad syarah al-Manbahatu ‘alaa al-Isti’dad li yaum al-Mi’ad. Dan masih banyak lagi kitab-kitab yang ditulis oleh Syaikh Nawawi al-Bantani.
Kitab-kitab yang ditulis Syaikh Nawawi al-Bantani telah mengharumkan nama Nusantara dan mengundang decap kagum ulama-ulama dunia. Sebab karya-karya Syaikh Nawawi al-Bantani ini tak hanya dikaji di Nusantara, akan tetapi dipelajari juga hingga ke dunia Islam Timur Tengah dan berbagai negara Islam lainnya. 
Melalui Syaikh Nawawi al-Bantani kitab bisa mengambil hikmah bahwasanya disamping ketekunan dalam menuntut ilmu, kita harus belajar menuangkan ilmu yang telah dipelajari tersebut lewat tulisan. Seandainya dulu Syaikh Nawawi al-Bantani tak mengabadikan keilmuan yang telah dipelajari melalui kitab-kitab yang ditulisnya, tentu saat ini kita tak akan bisa menikmati khzanah keilmuan beliau. 

Daftar Pustaka : 
Amirul Ulum, Syaikh Nawawi al-Bantani Penghulu Ulama di Negeri Hijaz (Yogyakarta : Global Press, 2016)

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar