Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

KETIKA SANTRI GUNDAH GELANA

http://brilio.net/

Oleh: Ahmad Jaelani Yusri

Suatu hari seorang santri yang sedang gundah dalam hidupnya menghadap Ustadnya-nya. Dengan penuh tata krama dan kesabaran , si Santri  menunggu di luar Ndalem Ustad tersebut. Duduk di dipan bambu beralaskan tikar pandan sembari melamun. 
Nampak dari raut muka santri tersebut tanda-tanda kegundahan dan kebingungan. Matanya tak fokus dan hanya melihat keatas langit dengan hamburan bintangnya. Ia menunggu dan terus menunggu.
Tetiba datanglah seorang berbaju batik dengan naik sepeda. Ia adalah sosok sang Ustad yang ditunggu-tunggu. Sosok yang penuh kesederhanaan tanpa embel-embel jubah dan sorban yang besar. 
“Sedang apa Udin?” Tanya Sang Ustad.
“Begini Ustad, saya ingin meminta nasehat” Jawab Santri.
Sang Ustad langsung duduk disamping santri, dan mempersilahkannya untuk berbicara.
“Saya sedang merasakan krisis jati diri Tad, dan itu terus terjadi berulang-ulang” Ujar Santri.
“Setiap orang pasti pernah merasakannya, bukan hanya kamu bahkan saya pun begitu. Masalahnya itu kita jadikan catatan merah dan jangan dihilangkan, tapi krisis itu kita minimalisir. Untuk mengolah mental kita juga” Jawabnya
“Terus Ustad, Keluarga seakan-akan menuntut dan berharap lebih pada kita sedangkan tekadku selalu naik-turun” Ucap Santri.
“Begini  Udin, kita harus berusaha melakukan yang terbaik dan itu kuncinya. Dan kita juga harus menjelaskan keorang tua bahwa kita telah melakukan yang terbaik buat mereka. In Sya Allah mereka paham”    
“Kemudian saya juga masih bingung Tad, tujuan saya belajar ilmu yang banyak seperti IPA, Matematika, Balagoh, bahasa Inggris  di pondok buat apa ya, toh nanti, masyarakat besar kemungkinan gak bakal nanya ditambah lagi, saat kita kerja gak dipake ilmunya kemudian saya selalu pesimis juga Ustad” Curhat sang santri.

“Baik, Ingat Din. Sebenarnya dalam  belajar itu konsepnya ada dua. Pertama; belajar untuk ujian dan Kedua; belajar untuk menyongsong kehidupan. Misalkan kita analogikan dengan toilet. Toilet itu kan jarang dipake, tempatnya sempit dan kotor. Dan sering dianggap remeh kan? Tapi adakalanya sang penghuni rumah akan memakainya dan juga memanfaatkannya. Jadi sesuatu yang kadang kita anggap tidak bermanfaat, tiba-tiba suatu saat bisa berkontribusi dalam hidup kita” Ujar Ustad 
“Misalkan saya belajar filsafat di kuliah, lalu dimasyarakat tidak ditanya tentang plato, socrates, Imanuel Khan. Tapi saya pelajari untuk apa?, untuk syarat kuliah dan dengan lulus kuliah itu  orang-orang akan memercayai kita. Sekarang itu menjadi orang bertitel dengan kemampuan secara ilmiah agak susah tanpa adanya syahadah dan pendidikan. Paham Din?” Sambung Ustad sambil menepuk pundak Udin.
“Terimakasih Ustad, tapi ada satu hal lagi yang saya pengen tanya ustad!, Saya memiliki banyak saudara dan mereka belum bisa memahami satu sama lain. Termasuk memahami adiknya yang susah belajar dan bodoh seperti saya” Tanya Santri itu lagi.
“Din, bukan mereka belum bisa saling memahami, oke kita ibaratkan lagi ya, saat ente  membaca makalah, kamu gak bisa memahaminya sebelum dijelaskan dan dipaparkan. Begitupun anggota keluarga kamu, jangan Suudzon dulu tapi kita harus husnudzon. Mungkin saja kamu belum menjelaskan secara keseluruhan tentang karaktermu {begini,begini} dan mungkin juga mereka tidak mau memahami. Memang benar gak mau memahami walaupun sudah kamu jelaskan , istilah nya acuh tak acuhlah. Dan itu kan sifat asli manusia. Jadi kamu tidak perlu memukul rata semua keluarga sifatnya begitu. Setidaknya pasti ada yang cocok dan bisa memahami kau. Karena itu gak fair dalam kaidah logika. Jadi menurut pemahaman Ustad, kamu itu kurang menjelaskan problem yang dialami sehingga kurang dipahami. Paham kan din?” Jawab Ustad dengan penuh wibawa.
“Makasih banyak Ustad atas masukannya”
“Sudah seharusnya begitu kan, Dalam Al-Qur’an pun kita dituntut saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran” Tutupnya sambil tersenyum dan mengelus kepala santri itu.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar