Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

KEILMUAN ITU DIPELAJARI DAN DIUSAHAKAN, BUKAN DIKAGUMI DAN DIWARISKAN


Oleh : Muflikhah Ulya

Beberapa bulan yang lalu saya bersama tiga teman berkesempatan sowan ke Agus Muslim Hannan di Pondok Pesantren Fathul Ulum, Kwagean, Kediri. Sebuah Pondok pesantren yang berbasis salaf tersebut didirikan ayahnya yakni KH. Abdul Hannan Ma’shum.

Saat sowan, Gus Muslim banyak bercerita tentang bagaimana perjuangan kedua orangtuanya mendirikan pesantren dan juga menyiarkan agama. Saya sangat terkesima dengan semua cerita yang disampaikan oleh Gus Muslim. Salah satu cerita yang paling saya ingat adalah tentang bagaimana kedua orang tua beliau yakni Kyai Hannan dan Nyai Miftahul Munawaroh mengajarkan betapa pentingnya belajar.

Gus Muslim bercerita tentang masa kecilnya yang diajarkan untuk selalu giat belajar. Beliau bercerita bahwasannya dulu, setiap hari Selasa sore ada pengajian kitab Ta’limul Muta’allim di pesantren Kwagean. Pengajian itu wajib diikuti oleh putra-putri Kyai Hannan dan juga seluruh santri, baik itu santri baru ataupun yang sudah senior, tak terkecuali Gus muslim. Namun, sore itu beliau lebih memilih untuk bermain sepeda keliling kampung bersama teman-temannya. Sepulangnya beliau bermain, Kyai Hannan langsung menyambut dengan pertanyaan “teko endi? Gak melu ngaji iki mau? (dari mana, gak ikut ngaji tadi?)”. Gus Muslim yang tau bahwa dirinya salah, menjawab pertanyaan ayahnya dengan rasa takut “ndugi sepedahan. Niki wau mboten nderek, tapi kadang nggeh nderek (dari main sepeda, hari ini tidak ikut mengaji, tapi kadang-kadang ikut)”.

Seketika itu juga Kyai Hannan menyuruh Gus Muslim untuk mengambil kitab dan belajar bersamanya di ruang tamu, “jupok kitabmu, gowomrene, ndang diwoco kitabe (ambil kitabmu, bawa kesini. Ayo, diwoco kitabe)”. Gus Muslim yang saat itu belum mahir membaca kitab gundul hanya bisa diam. Dengan nada lirih Kyai Hannan menasehati putranya “Gak peduli awakmu anake sopo, lek gak gelem ngaji yo panggah goblok. Deloken kuwi gus anu anake kyai anu. Kurang ngalim opo abahe, kurang hebat opo abahe iku. Tapi sak iki delok en gus e, ra gelem ngaji yo panggah ra iso (tidak peduli kamu anaknya siapa, kalau tidak mau ngaji ya tetap bodoh. Lihat itu gus anu putra dari kyai anu. Kurang alim apa abahnya. Tapi sekarang lihatlah. Tidak mau mengaji ya tetap tidak bisa)”.

Gus Muslim juga bercerita bahwasannya Kyai Hannan tidak mengajarkan hal tersebut hanya kepada putra putrinya saja, namun juga kepada seluruh santri dan siapapun yang ditemuinya. Seringkali di berbagai kempatan Kyai Hannan menyampaikan “tunggak jarak mrajak, tunggak jarak mati”. Sebuah paribahasa jawa tersebut dapat diartikan bahwasannya banyak bibit yang tidak unggul namun sukses menjelma tumbuhan besar karena keistiqomahan dalam mengaji. Disisi lain, banyak juga bibit unggul yang justru mati karena tidak dijaga dengan kesungguhan.

Kyai Hannan juga sering menceritakan kepada putra-putrinya tentang bagaimana proses belajarnya dulu semasa masih menjadi santri. Bagamaina usahanya membaca berbagai kitab berulang kali hanya untuk sekedar memahami isinya. Bagaimana ushanya tirakat sholat berjama’ah untuk menarbiah nafsu pribadi. Dan berbagai cerita lain yang menginspirasi tentang bagaimana mengusahakan kesungguhan ditengah keterbatasan.

Di akhir cerita, Gus muslim berpesan agar kita selalu ingat bahwasannya sekali lagi, keturunan tak berbanding lurus dengan keilmuan. Tak semudah orang mengatakan “anak macan mesti dadi macan (anak macan ya pasti macan)”.

Ayo ngaji ben aji. Mari belajar, agar pintar. - Agus H. Muhammad Muslim Hann.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar