Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

HIDUPKU UNTUK DIMANJA


Oleh: Binti Fahim Yusro

        Ketika ada pertanyaan: “Untuk apa kita diciptakan?” maka dalam benak kita muncullah dalil tentang tujuan penciptaan manusia. Contohnya seperti yang kita tahu pada surat Adz-Dzariyat: 56 yang berbunyi,
وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ
Bahwasanya Tuhan menciptakan kita untuk menyembah-Nya/beribadah kepadaNya. Atau pada ayat lain seperti dalam surat Al-Baqarah ayat 30:
وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةٗۖ
        Yaitu tentang penciptaan manusia sebagai pemimpin/ kholifah di bumi. Akan tetapi, alih-alih kita coba memandang dari sudut yang lain. Coba kita mengira-ngirakan jawaban tentang mengapa dalam hidup di dunia ini, banyak kita temukan krisis, kesulitan, banyak kasus phk, dan sebagainya. Akankah dikarenakan karena malas, atau tidak adanya pendidikan yang mengajarkan tentang kekayaan? Akankah seperti itu? Coba kita kembalikan pada kisah Adam-Hawa, kisah awal manusia diciptakan. Kira-kira pada masa diciptakannya Adam kemudian ditempatkannya di surga oleh Allah untuk apa? Untuk mengabdi pada Tuhan kah?
        Ya, eh maksudnya tidak juga, hehe. Perintah Allah pada Adam ialah untuk tinggal di tempat yang serba enak, serba ada, serba mudah, aman, dan juga damai. Dan dengan gambaran surga yang selalu menjadi iming-iming kita semua, secara klise Nabi Adam ditempatkan pada awalnya di surga ialah untuk bersenang-senang. Nabi Adam dimanja oleh Tuhan dengan kenikmatan yang ada di surga. Tidak hanya itu, bahkan Nabi Adam begitu dimuliakan dengan diperintahkannya malaikat untuk sujud pada Adam. 
        Baiklah, kita ambil sudut tersebut yakni Allah menciptakan Adam untuk dimanja, bersenang-senang, dan untuk dimuliakan. Adakah yang kontra dengan pernyataan ini? It’s okay!  Lantas apa yang kemudian menyebabkan Adam dikeluarkan dari surga? Enggeh, leres, yaitu atas dasar kesalahan manakala Nabi Adam dan Siti Hawa dilarang Tuhan untuk mendekati syajarotul khuldi akan tetapi hal itu dilakukan keduanya setelah terpedaya dengan bujuk rayu setan.
        Dalam Surah Al-A’raf ayat 24 bahkan diabadikan tentang pengusiran Adam dan Hawa dari surga:
قَالَ ٱهۡبِطُواْ بَعۡضُكُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوّٞۖ وَلَكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُسۡتَقَرّٞ وَمَتَٰعٌ إِلَىٰ حِينٖ  
“Turunlah kamu sekalian, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan di muka bumi sampai waktu yang ditentukan”. Dalam ayat pengusiran Adam- Hawa ini pun Allah masih menyebutkan kata “kesenangan”. Bagaimana bisa? Ya, dalam ayat sebelumnya, adalah do’a Nabi Adam untuk memohon ampunan. Jadi, perbuatan-perbuatan yang baik bisa menghapus perbuatan buruk. Sebagaimana pada Surat Hud ayat 114: 
إِنَّ ٱلۡحَسَنَٰتِ يُذۡهِبۡنَ السيئاتۚ ذَٰلِكَ ذِكۡرَىٰ لِلذَّٰكِرِينَ
        Begitulah, pada intinya Allah itu menyuruh kita untuk bersenang-senang, tidak mau melihat kita susah. Kuncinya apa? Ya jangan sampai membuat kesalahan atau dosa. Sebab kesalahan baik kesalahan yang kita sadari atau hanya kesalahan kecil yang tidak kita sadari itu menghalangi kita dari rezeki, dari kenikmatan, dan dari kemudahan-kemudahan yang sebenarnya bisa kita dapatkan.
        Jadi, benar adanya sebuah kalimat yang sering kita dengar: “Tergantung amal dan perbuatan”. Dan what we do today is the miniature of tomorrow. Amalan-amalan kita lah yang menentukan nasib kita. Adapun ketika kita khawatir akan rezeki kita, selama kita tidak berbuat kesalahan-kesalahan (tidak mumgkin pastinya!), atau setidaknya selalu mengimbangi kesalahan-kesalahan kita dengan amalan baik, insyaallah rezeki kita tidak akan terhalang. 
Hasan Al-Bashri berkata mengenai rezeki: 
وعلمت أن رزقي لا يذهب إلى غيري فاطمأن قلبي.
أن عملي لا يقوم به غيري فاشتغلت به.
و علمت أن الله مطلع علي فاستحييت أن يراني على معصية.
وعلمت أن الموت ينتظرني فأعددت الزاد للقاء ربي.
Aku tahu rizkiku tidak mungkin tertukar dengan rizki orang lain, karenanya hatiku tenang. Aku tahu Amal-Amalku tidak bisa digantikan oleh orang lain,maka kusibukkan diriku bekerja dan beramal.Aku tahu Allah selalu melihatku, karenanya aku malu bila Allah mendapatiku melakukan maksiat.Aku tahu kematian menantiku, maka kupersiapkan bekal untuk berjumpa dengan tuhanku.
        Hidup untuk dimanja? Secara klise begitu, asal kita tidak terlampau banyak menyengajakan kesalahan di sudut-sudut perbuatan, sehingga apa-apa yang menjadikan kita “senang” tidak terhalang. Wallahu a’lamu bis-showab.

Referensi:
Qur’an
Buku “Magnet Rezeki” karya H. Nasrullah
https://www.alukah.net/sharia/0/32098/

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar