Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

BIOGRAFI IMAM HANAFI


Oleh : Meisya Eva Natasya


        Abu Hanifah al-Nu’ma bin Tsabit bin Zutha bin Mahin al-Taymiy al-Kufi adalah pemuka agama, pakar fiqih, termasuk imam besar dan panutan para cendekiawan. Kakeknya, Zutfa adalah budak Bani Taimullah bin Tsa’labah yang masuk islam dan kemudian dimerdekakan. Ayahnya bernama Tsabit dan sudah masuk islam sejak lahir. Para ulama’ berbeda pendapat mengenai asal suku Imam Hanafi. Ada yang mengatakan hari Kabil, yang kemudian pindah ke negara-negara tersebut. 
        Dikatakan pula bahwa Abu Hanifah memiliki jalur nasab dari ayahnya, yakni Al-Nu’ma bin Tsabit bin Al-Nu’ma bin al- Marzubat dari keturunan Faris al-Ahrar. Mengenai kedua pendapat diatas, Ibnu Hajar Al-Haitami mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Zutha adalah al-Nu’ma, sedangkan yang dimaksud dengan al-Nu’ma adalah Zutha, dengan prediksiantara lain: beliau memiliki dua nama, atau keduanya adalah nama dan julukan. Dan yang dimaksud Zutha disini adalah Al-Nu’ma. Adapun maksud Al-Marzubat adalah Mahin, sehingga dua riwayat jalur nasab itu, pada dasarnya merujuk pada orang yang sama.
        Adapun perbedaan mengenai informasi adanya garis keturunan Imam Abu Hanifah yang menyandang status budak, banyak ulama’ memastikan bahwa orang yang menyandang status budak adalah kakeknya, karena kakek Abu Hanifah termasuk orang yang dimerdekakan dari golongan Bani Taimullah bin Tsa’labah seperti dijelaskan diatas. Sedangkan ulam’ yang menentang pendapat tersebut mengatakan bahwa yang menjadi hamba sahaya adalah ayahnua, yaitu Tsabit. Berdasarkan jalur nasab sebagaimana disebutkan diatas, mayoritas ulama menyebutkan bahwa Abu Hanifah adalah orang ‘ajam, yakni bukan dari keturunan Arab.
        Nama Kunyah beliau adalah Abu hanifah karena sering membawa tempat tinta, yang dalam bahasa Irak disebut hanifah. Ada pula yang mengatakan bahwa beliau memiliki seorang putri bernama Hanifah, namun pendapat ini dianggap lemah karena beliau tidak memiliki anak selain Hammad.
        Mengenai tahun kelahiran Abu Hanifah, pendapat yang shahih dari mayoritas ulama’ mengatakan bahwa Abu Hanifah Lahir pada tahun 80 H di Kufah pada masa Khalifah Abd al-Malik bin Marwan. Pendapat lain mengatakan bahwa beliau lahir pada tahun 61 H, namun pendapat ini ditolak oleh al-Khartib al-Baghdadi, lalu beliau mengatakan : “Aku tidak mengetahui apakah pendapat ini memiliki pengikut atau tidak,” begitu juga Ibn Hajar al-Haitami yang menghukumi bahwa pendapat ini adalah syadz (tidak kredibel)
       Imam Abu Hanifah hidup pada masa yang penuh dengan ulama’ yang hebat baik dari golongan tabi’in ataupun selainnya. Oleh karenanya, Imam Abu Hanifah sangat mudah mendengarkan dan mengambil ilmu dari mereka.
       Diantara guru-guru beliau yang paling masyhur adalah : pertama, Atha’ bin Abi Rabah (w. 144H) yaitu guru tertua dan merupakan guru terbaik beliau sebagaimana dikutip dari perkataan Imam Hanifah sendiri. Kedua, al-Sya’bi (w. 104 H) yaitu guru yang mengarahkannya untuk menuntut ilmu dan mengikuti halaqoh ulama’. Ketiga, Amr bin Dinar (w. 126 H), Nafi’ Maulana bin Umar (w. 117 H), Qatadah bin Du’amah (w. 118 H), Ibnu Syihab al-Zuhri (w. 124 H), Muhammad bin Al-Mumkadir (w. 130 H) dan Hisyam bin Urwah (w. 146 H). adapun guru besar beliau dalam ilmu fikih dan takhrij adalah Imam Hammad bin Abi Sulaiman (w. 120 H), yaitu guru yang paling mempengaruhi khazanah keilmuan Imam Abu Hanifah, karena beliau senantiasa menghadiri halaqah Imam Hammad selama 18 tahun hingga Imam Hammad wafat.
        Awal mula menduduki posisi Ahli Fatwa dan Pengajaran Imam Hanifah berfatwa dan mengajar terjadi setelah wafatnya guru beliau, yaitu Imam Hammad bin Abi Sulaiman, dimana sebelumnya, kepemimpinan bidang fikih berpindah kepada Imam Hammad setelah wafatnya sang guru Imam Ibrahim al-Nakha’i. ketika Imam Hammad dan memudar pengaruhnya, maka mereka mengangkat Ismail, putra Hammad, namun orang-orang tidak puas dengan pengajaran Ismail karena beliau lebih menguasai bidang Nahwu dan gramatika arab, sehingga orang-orang pun sepakat untuk menunjuk Imam Abu Hanifah.
       Mereka menemukan dalam diri Abu Hanifah keluasan ilmu, jiwa sosial yang tinggi, kesabaran dan hal lainnya yang belum pernah mereka temukan dalam diri orang lain. Mereka senantiasa menghadiri halaqah Imam Abu Hanifah sehingga halaqh beliau menjadi halaqah terbesar yang ada di amsjid Kufah. Imam AbuHanifah menjadi terkenal hingga orang-orang berdatangan kepadanya, sampai para pemimpin dan pejabat pun turut menghormatinya dan berhasil mencetak imam-imam besar.
        Sebagian ulama’ menyebutkan bahwa Imam Abu Hanifah bermimpi yang menyebabkan beliau semakin giat dalam mengajar serta melayani umat. Dalam mimpinya beliau membongkar makam Nabi Saw. Pada mulanya beliau mengutus seseorang untuk menanyakan perihal mimpi itu kepada Muhammad bin Sirin, beliau menjadi lega. Muhammad bin Sirin menjelaskan : “Orang yang bermimpi ini akan mempelajari ilmi yang belum pernah dipelajari oleh seorangpun.” Seketika itulah, Imam Abu Hanifahmemiliki keluasaan ilmu dan hadir dengan membawa pencerahan bagi manusia.
        Meskipun keilmuam Imam Abu Hanifah luas dan ilmu fikihnya mendalam, namun beliau kurang memperhatikan dalam hal pembukuan dan kepenulisan. Hal ini terjadi karena beliau lebih memfokuskan dirinya untuk berfatwa, dan lebih menekankan pada pembelajaran dan pengkajian ilmu, serta diawal kemunculannya, beliau juga focus untuk berdebat dengan para ahli bid’ah (Khawarij dan Mu’tazilah). Meskipun beliau memiliki beberapa karya tulis sederhana namun sarat akan keutamaan dan manfaatnya. Diantara beberapa karya beliau paling terkenal adalah Al-Fiqh al-Akbar yang membahas bidang akidah, dan al-Alim wa al-Muta’alim.
        Sudah menjadi ketetapan Allah Swt menguji para wali-Nya, Nabi dan orang-orang shaleh untuk mengangkat derajat dan menambah kebaikan mereka. Oleh karenanya, diujilah Imam Abu Hanifah berupa pemaksaan untuk menduduki jabatan kehakiman pada masa Daulah Umaniyah dan yang lain pada masa pemerintahan Daulah Abbasiyah. Namun beliau menolaknya karena sikap wara’ (kehati-hatian) dan mengharapkan keselamatan agamanya. Sebagaimana yang telah dijelaskan, beliau merupakan orang yang paling wira’i dan zuhud (enggan dengan harta dan kekuasaan) sehingga Ibnu Mubarak berkata : “Aku tak pernah menjumpai seorang pun yang lebih wira’i dari Imam Abu Hanifah, beliau telah diuji dengan banyak cambukan dan harta.” 
        Berdasarkan peninjauan terhadap beberapa riwayat dari Ashabul Manaqib (pemilik kitab manaqib), dijelaskan bahwa Imam Abu Hanifah mendapatkan ujian hidup besar dua kali, yang pertama pada masa Dinasti Umayyah dan yang kedua pada masa Dinasti Abbasiyah.
        Di masa Daulah Umawiyah hal itu terjadi pada masa khalifah terakhir Dinasti Umayyah, Maryam bin Muhammad (w. 132 H). pada waktu itu, Yazid bin Amr Bin Hubairah al-Fazari, Gubernur Irak, meminta Imam Abu Hanifah agar menjadi hakim di Kufah dan beliau pun menolaknya, sehingga beliau harus mendekam dipenjara dan mendapatkan cambuk kan perhari. Ketika pemerintah melihat kekukiuhannya dalam penolakan, akhirnya Imam Abu Hanifah dilepaskan. Abu Hanifah kemudian pergi ke Makkah menyelamatkan diri setelah merasa bahwa dirinya tidak aman tinggal di Irak dalam bayng-bayang pemerintahan Umayyah.
        Pada masa Daulah Abbasyiyah : hal itu terjadi pada masa Abu Ja’far al-Manshur (w. 157 H). Dikisahkan, suatu ketika al-Manshur memintanya untuk menjadi hakim tapi beliau menolaknya. Namun, al-Manshur tetap bersikeras hingga bersumpah untuk merealisasikan keinginannya. Sedangkan Imam Abu Hanifah : “Bukankah kamu tahu khalifah telah bersumpah melantikmu?” ancam orang tersebut. Imam Abu Hanifah menjawab : “ seorang kholofah lebih berjuasa atas kafarat sumpahnya”. Beliau pun menolak keputusan tersebut. Akhirnya, Al-Manshur memerintahkan agar dimasukkan ke dalam penjara. 
        Banyak yang menyebutkan tentang kebenaran wafatnya Imam Abu Hanifah meninggal. Satu versi mengatakan Imam Abu Hanifah wafat di penjara tanah Baghdad. Versi lain menyebutkan bahwa Imam Abu Hanifah setelajah menerima rentetan penyiksaan lalu Khalifah Manshur memerintahkan agar Abu Hanifah dibebaskan dari penjara namun dia dilarang memberikan fatwa dan berbaur denagn orang-orang. Abu Hanifah dilarang keluar dari rumahnya. Beliau terasingkan dirymahnya sendiri hingga meninggal. Bahkan ada yang mengisahkan bahwa pelantikan Abu Hanifah sebagai Hakim Agung bersifat polotis. Oleh karena itu Imam Abu Hanifah enggan mendudukinya walaupun beliau harus meneriam rentetan penyiksaa. Hingga serakibat beliau tidak diberi kesempatan makan dan minum hingga kemudian ketika beliau tetap bersikeras menolak, beliau  akhirnya diraacun dan meninggal.
        Abu Hanifah wafat pada tahun Rajab. Ada pula yang mengatakan  bukan Sya’ban, pada tahun 150 H di usia 70 tahun. Beliau dishalatkan sebanyak 6 kali karena begitu padatnya pelayat yang datang, dan dikebumikan dipemakaman Al-Khaizuran di Baghdad.
         Ibnu hajar al-Haitami berlakat: “Benar sekali, tatkala Abu Hanifah merasakan datangnya maut, maka beliau bersujud. Kemudian ruhnya pun keluar dalam keadaan beliau sedang sujud.” Semoga Allah merahmati Abu Hanifah, dan memberikan balasan atas jasanya terhadap umat ini dan juga islam dengan balasan yang terbaik.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar