Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

ANAK KECIL DI BANGKU PANJANG

Source image: https://images.app.goo.gl/zrv9Pmhp2twB1gab6


Oleh: Ahmad Nasrul Maulana

Terduduk di bangku panjang halte, seorang anak kecil laki-laki berseragam lengkap melamun sendirian. Bajunya berwarna violet dengan dasi berbentuk pita di lehernya. Celananya pendek seirama dengan baju yang dikenakannya. Sesekali kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, seakan mencari sesuatu yang dinanti-nanti. Beberapa orang berlalu lalang di sekitarnya, namun tidak ada satu pun yang memperhatikan, adapun hanya sekedar menjatuhkan lirikan, sebentar, lalu diabaikan.

Hampir lima belas menit anak itu duduk sendiri, ku rasa ia sudah mulai bosan sebab tangannya merogok ranselnya seperti sedang mengambil sesuatu. Kini di tangannya terdapat sebilah warna lengkap dengan buku tulisnya. Ia tampak menikmati gerakan tangannya yang menggores kertas putih dengan berbagai warna, entah apa yang digambarnya. Jelasnya ia sedang menggambar apa yang terbesit di dalam pikirannya.

Angin siang itu benar-benar berhembus kencang, bahkan dress yang ku kenakan beberapa kali terangkat terbang, bersamaan dengan rambut lurus dari anak kecil itu yang terurai berai. Matanya masih menatap lekat buku gambarnya, terkadang lidahnya terjulur keluar, semacam tokoh kartun yang sedang fokus menggambar.

Ternyata menggambar tidak seseru yang dipikirkan, kembali kebosanan datang bertandang, membuat wajah anak itu kembali melesu masam. Kali ini ia memasukkan buku gambarnya kembali ke ranselnya. Anak kecil itu duduk kembali, kakinya yang terangkat karena bangku halte yang tinggi, ia ayun-ayunkan. Hingga tibalah seorang pria tua menghampirinya. Pria berpiyama cokelat itu memilih duduk di sampingnya.

Aku tidak tahu apa yang sedang diperbincangkannya, namun aku dapat melihat beberapa senyuman terjahit di wajah anak itu, apakah itu ayahnya? Paman atau kakeknya? Sepertinya bukan, pria tua itu hanya duduk sementara, lalu pergi meninggalkan anak kecil itu sendiri, lagi.

Pikiran anak itu sepertinya benar-benar kosong, kemana orang tuanya yang mungkin telah berjanji untuk menjemputnya. Sudah separuh jam tidak ada tanda-tanda sedan yang hendak parkir di depan halte kota tersebut. Beberapa bus juga telah datang di halte itu, namun anak itu masih tidak beranjak dari tempat duduknya. Membiarkan anak kecil sendiri seperti ini bagiku sangat berbahaya. Harusnya orang tua menjemput anaknya sesuai dengan jadwal kepulangan sekolahnya. Terkadang dunia terlalu keras bagi mereka. Penculikan merupakan salah satu tindak kriminal yang masih sering terjadi. Anak-anak yang pulang dari sekolah tiba-tiba diangkut menggunakan mobil box, ada yang berdalih mengiming-iming permen, snack dan lain sebagainya. Hampir semua kasus tersebut saat ku baca di koran harian kota mencatat bahwa tujuh puluh lima persen kejahatan terhadap seorang anak disebabkan oleh lalainya pengawasan orang tua.

Rasa khawatir memuncak cepat lantaran anak kecil itu dihampiri oleh seorang pria berbadan gempal. Tidak sanggup aku membayangkan anak manis itu berteriak kencang meminta tolong atau bahkan lebih mirisnya ia tertidur begitu saja di tangan pria gempal bertato itu. Ia dihipnotis. Aku berdiri dari tempat dudukku, bersiap menerjang jalan jika pria gempal berani menyentuh kasar anak kecil itu.

Mereka berdua terlihat masih terus berbincang, apa mungkin itu adalah siasatnya untuk mengambil langkah saat anak itu lengah?. Percakapan mereka bahkan lebih lama dibanding dengan pria tua tadi. Sialan, mobil sedan hitam menghalangi pandanganku dari mereka. Mobil itu terparkir tepat di depan mereka berdua. Apakah pengendara mobil itu adalah bagian dari penjahat penculikan? Akankah anak kecil itu akan dibawa paksa masuk mobil lalu pergi menghilang.

“Tit...tit...tittttt”

“Titttttt....”

Beberapa mobil hampir bertabrakan karena ulahku menyebrang jalan sembarangan. Tapi hal berbahaya itu harus ku lakukam agar segera tiba ke sebrang jalan.sebelum anak kecil itu dibawa kabur dan menghilang.

“Lepaskann anak itu, kalo berani lawan aku dulu?” kedua pria itu menatapku tajam.

“Papaaaa” anak kecil itu berlari berlari kecil ke arah pria yang baru saja keluar dari mobil. Wajahku memerah seketika, sedang tatapan tajam mereka berganti dengan tawa kecil yang ditahan. Malunya aku bukan kepalang.

“Mari Mbak... mari Mas”

Bahkan dia masih sempat menyapaku dan pria gempal itu. 




Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar