Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

AIR MATA DI DUNIA OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

https://www.instagram.com/p/CMUzw7DBr9M/?igshid=8zlitb3axpjh

Oleh: Izzat Imaniya

Bukan sekedar organ biasa, bagi aku yg sudah tujuh tahun bernafas di dunia obstetri dan ginekologi, rahim menjadi organ tubuh yang paling unik dan berharga. Bagaimana tidak, organ yang berukuran kurang lebih seperti kepalan tangan orang dewasa bisa membesar beberapa kali lipat hingga bisa menjadi ruang yg kuat menampung bayi dengan berat rata rata tiga kilo gram. Selain itu, terdapat plasenta dan air ketuban. Organ istimewa yang hanya dimiliki perempuan ini sangatlah berharga. Setiap pasangan suami istri meletekkan harap agar organ tersebut mampu menjadi wadah yang baik untuk tumbuh kembang buah hati selama sembilan bulan sebelum waktunya datang sang buah hati tumbuh kembang dari ketulusan telapak tangan mereka.

Aku mulai merapikan beberapa data data pasien setelah seharian bertugas di Poliklinik Endokrinologi Ginekologi. Seorang perempuan menderita suatu gangguan yang biasanya dikenal sebagai Mayer Rokitansky Kuster Hauser Syndrome mungkin menjadi pasien terakhir sebagai penutup kesibukan hari ini setelah mengahadapi beberapa  pasien yang meneteskan air mata haru karena bahagia, dan ada juga  diantara mereka meneteskan air mata sedih karena apa yang diharapkan tidak bisa diwujudkan. Pasien dalam Poklinik ini bukan hanya dari kalangan suami istri aja, diantara mereka ada gadis yang datang seorang diri, ada yang datang bersama orang tua,dan ada juga yang datang dengan teman sebaya.

Langkahku menuju lift tertahan oleh seorang perawat didepan pintu. “Maaf dokter Ann” begitulah orang-orang memanggilku ditempat yang sebagian besar waktu aku habiskan di rumah sakit ini. Wajah perawat itu cemas menjelaskan singkat keadaan seorang pasien. Kakiku melangkah mundur ke ruang kerja menaruh tas dan mengurungkan niat untuk pulang. Dengan segera aku berlari keruang UGD, seorang gadis berparas cantik berbaring lemas diatas brankar yang didorong petugas rumah sakit, sepasang suami istri separuh baya terlihat cemas menyaksikan kondisi sang putri. Aku bersama beberapa perawat segera melakukan pemeriksaan dan stabilisasi kepada gadis tersebut. Sangat mengejutkan, kesimpulan yang dapat  kami ambil adalah gadis tersebut mengalami infeksi berat sehingga terdapat kemungkinan buruk dalam kegagalan kardiovaskular. Dalam dunia kedokteran, hal ini dikenal dengan istilah syok sepsis. 

Aku segera menggali darimana sumber infeksi yang dialami gadis tersebut dengan berbincang-bincang bersama orangtuanya. Gadis cantik itu brusia lima belas tahun, sekarang duduk dibangku SMP kelas 3. Setelah beberapa lama, aku menemukan titik masalah dari infeksi tersebut, beberapa bulan yang lalu orangtuanya telah menangkap basah sang putri bersama seorang laki-laki yang keluar dari hotel yang tidak jauh dari rumahnya. Mereka tenggelam dalam hawa nafsu sehingga sang gadis hamil dan laki-laki tersebut hilang entah kemana tidak mau bertanggung jawab. Orang tua tersebut tidak mau menjelaskan kepadaku apa pertimbangan mereka sehingga memutuskan untuk aborsi kandungan putrinya disebuah klinik illegal dengan prosedur yang tidak jelas atau mungkin juga dengan peralatan yang tidak steril. Itulah penyebab dari infeksi yang dialami gadis tersebut. Sehingga kami dari rumah sakit memutuskan untuk memidahnya ke ruangan ICU dengan perawatan yang sangat ketat. 

Keesokan harinya setelah melakukan observasi selama dua belas jam, aku melihat bagaiman perkembangan pasien tersebut setelah dibantu dengan perawatan antibiotika generasi baru. Namun nihil, sangat jauh dari harapan. Kondisi gadis tersebut justru semakin memburuk, terlihat sumber infeksi tidak dapat terkendali dengan terapi yang kami berikan. Sehingga setelah berdiskusi dengan dokter lainnya, kami memutuskan untuk melakukan operasi terhadap gadis ini, agar kami mengetahui dengan jelas apa yang terjadi didalam perutnya dan mengetahui bagaimana langkah selanjutnya untuk memberikan pengobatan kepadanya. Khawatirnya terdapat beberapa organ yang terganggu akibat aborsi yang telah dilakukan dengan prosedur yang tidak jelas itu. Akan tetapi konsekuensi dari operasi ini adalah kami harus mengangkat oragan yang terinfeksi agar tidak menjalar ke organ lainnya yang bisa menyebabkan kegagalan fungsi oragan vital secara keseluruhan sehingga dapat mengancam nyawa.

Aku pun menjelaskan kepada orang tua gadis tersebut, apa yang dialami putrinya dan apa yang harus kami lakukan dan segala konsekuensi serta kemungkinan yang kana terjadi. Tentu hal ini membuat sepsang suami istri paruh baya tersebut sangat bersedih, sang ibu menangis terisak-isak dan sang bapak terlihaat bungkam dengan kening yang mengkerut, mungkin mereka menyesal atas keputusan aborsi terhadap kandungan putrinya tersebut. Untuk kebaikan sang putri, pasangan suami istri tersebut menyetujui rencana kami untuk melakukan operasi. Dengan segera kami mempersiapkan segalanya, melihat keadaan pasien semakin memburuk maka operasi harus segera dilakukan. 

Pada saat operasi, kami sangat berat melakukan sebuah keputusan untuk mengangkat organ yang terkena infeksi karena cidera akibat aborsi yang dilakukan, terlebih lagi pasien ini masih sangat muda, ia masih memiliki perjalanan yang panjang. Akan tetapi untuk kebaikan yang lebih utama yakni nyawa, maka kami harus melakukannya. Kami melihat Infeksi berat yang dialami gadis ini terjadi pada Rahim, dengan berat hati kami harus mengangkat rahimnya. Setelah melakukan operasi keadaan pasien terlihat semakin membaik dan selalu melontarkan senyuman kepadaku setiap kali memeriksanya, namun aku tidak tau apakah senyum itu akan masih terlukis dibibir cantiknya jika mengetahui rahimnya sudsh tidak ada, organ yang sangat penting bagi seorang perempuan.

Profesiku sebagai dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi memberikan banyak pelajaran yang sangat penting, baik aku sebagai perempuan ataupun sebagai ibu agar senantiasa bisa menjaga dan mendidik anak-anak dengan sebaik mungkin. Mulai dari pasien yang merasakan manisnya kebahagiaan sampai pasien yang merasakan pahitnya kesedihan dan penyesalan atas ratusan kejadian yang mereka alami terdapat hikmah yang dapat aku petik.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar