Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

TIANG NEGARA


Oleh: Ira Safira Haerullah


Memasuki Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada 8 Maret sesuai dengan tanggal dilakukannya unjuk rasa kaum buruh perempuan di New York pada 1857, 1907, dan 1909. Dimana sejarah Hari Perempuan Sedunia bermula dari aksi unjuk rasa pada 8 Maret 1909 dan dirintis oleh kaum sosialis di Amerika Serikat. Dalam buku The Feminism Book: Big Ideas Simply Explained (2019), dikabarkan telah terjadi aksi demonstrasi yang melbatkan lebih dari 15 ribu perempuan buruh pabruk tekstil di New York. Tepat 50 tahun berselang, tanggal 8 Maret 1907.
Pada tahun 1975 tanggal 8 Maret Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB) ditetapkan sebagai Hari Perempuan sedunia namun belum secara resmi. Setelah dua kemudian ditetapkan secara resmi oleh PBB dan diperingati sampai hari ini. Sedangkan beberapa sumber yang menyebutkan bahwa Hari Perempuan Sedunia jatuh pada tanggal 1911 sekitar sejuta orang di Eropa meliputi sejumlah negara termasuk Austria, Hungaria, Denmark, Jerman, dan Swiss menggelar aksi demi mewujudkan hak politik, hak memilih serta hak jabatan perempuan. Dan memprotes protes perlakuan dikriminatif juga termasuk seks.
Berbicara tentang perempuan dalam islam perempuan sangat dihormati dan sangat diistimewakan dalam segi apapun.  Islam mengangkat derajat wanita dan menjaga kehormatan,  serta kepribadian yang independen. Bahkan dalam Al-Qur'an tidak ditemukan ayat yang menunjukkan keutamaan seseorang karena faktor jenis kelamin atau karena keturunan suku bangsa tertentu, kemandirian dan otonomi perempuan dalam tradisi Islam sejak awal terlihat begitu kuat. Salah satu tugas utama perempuan adalah mendidik anak-anaknya karena memiliki sifat keibuan yang luar biasa, namun tugas pokok itu dapat mereka laksanakan secara baik jika mereka tidak diberi kesempatan untuk belajar. 
       Dalam Maqolah ulama menyebutkan bahwa “Anissa ‘imadul ibad, idzasholuhat sholuhal bilad” yang artinya perempuan itu tiang negara, bila perempuannya baik maka negara, bila perempuanya baik maka negaranya juga akan baik begitu pun sebaliknya. Hal ini dikarenakan perempuan merupakan ibu bangsa yang harus melahirkan generasi yang bemutu. Namun faktanya banyak tiang negara yang ambruk di negara sendiri.
        Di Indonesia tercatat Komisioner Komnas Perempuan Andy Yentriyani mengatakan, sejak 2011 hingga 2019 pihaknya sudah menerima 23.021 kasus kekerasan seksual di ranah komunitas. Sebagiannya merupakan pelaporan kekerasan dengan jenis perkosaan. "Perkosaan 9.039 kasus adalah jenis kekerasan seksual terbanyak," kata Andy dalam keterangan tertulisnya, Rabu (13/5/2020). Bahkan menurut komnas setiap 2 jam terdapat 2 perempuan yang mengalami kekerasan seksual.
       Data Catatan Tahunan 2020 dari Komnas Perempuan juga memperlihatkan selama 12 tahun terakhir, kekerasan terhadap perempuan di Indonesia meningkat 792% (8 kali lipat). Dia pun menegaskan saat ini yang perlu diperhatikan adalah meningkat pencegahan melalui edukasi sejak dini yang dilakukan secara masif dan sistematis.
       Perempuan yang harusnya menjadi tiang negara justru ambruk di negaranya sendiri. Juga merupakan tugas negara dalam melindungi dan menghormati perempuan. Namun  faktanya pengesahan terhadap Rancangan Undang – Undang (RUU) Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) belum juga disahkan di Indonesia dengan berbagai alasan yang tidak jelas. Juga fakta social yang menjadi latar belakang pengesahan RUU PKS adalah adanya urgensi dari kasus kekerasan seksual yang sangat tinggi.
Banyak perempuan di Indonesia yang menaruh harapan besar pada RUU PKS karena dirasa akan menjadi jalan keluar dalam perlindungan perempuan. Dan dengan hadirnya RUU PKS juga dapat membantu negara dalam menghapus deskriminasi terhadap perempuan juga karena perempuan menjadi korban kekerasan seksual tertinggi. Namun sampai detik inipun belum ada titik terang mengenai perkembangan sahnya RUU PKS.
Jika perempuan yang dianggap sebagai tiang negara saja tidak bisa dilindungi dengan baik oleh negara, maka generasi apa yang diharapkan dari tiang negara yang dihancurkan? 


Sumber:
https://tirto.id/kapan-hari-perempuan-sedunia-8-atau-19-maret-kenapa-bisa-berbeda-gaKT 
https://www.suara.com/news/2020/05/14/043837/komnas-tiap-2-jam-3-perempuan-indonesia-alami-kekerasan-seksual?page=all 
https://www.merdeka.com/peristiwa/ruu-pks-masuk-prolegnas-2021-menteri-pppa-dorong-segera-disahkan-dpr.html 


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar