Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

TAWA DARI BALIK BUKIT

Oleh: Syifaul Fajriyah

Mentari merona dari balik pohon yang melambai-lambai. Embun pagi menyelimuti dedaunan. Alarm dengan nada dering kokokan unggas berkaki dua itu masih terdengar. Gumpalan asap keluar dari cerobong rumah Dea. Hingga kebisingan pun ikut menyertai.

“Bun, bekal Dea apa sudah siap?”

 “Sudah, bunda letakkan diatas meja. Tinggal buat cokelat hangat.”

Dea yang tengah berkaca sembari merapikan jilbabnya pun beranjak membantu ibunda. Tiba-tiba, ponsel yang tengah berbaring di ranjang pun berdering. Tersemat nama Cherin di layar ponsel. Panggilan itu mengundurkan niat Dea untuk pergi ke dapur. Obrolan mereka semakin membuat Dea panik. Akhir pekan ini Dea bersama delapan temannya pergi menyusuri perbukitan yang berada di kota tetangga, tepatnya di Kota Batu. Teman-temannya menunggu Dea di swalayan terdekat, sambari membeli kebutuhan untuk piknik.

Ucapan salam menutup percakapan Dea dan Cherin. Sembilan kotak nasi goreng dan beberapa Sandwich dengan cokelat hangat pun menjadi teman di kala perut keroncongan. Gadis dengan jilbab berwarna babypink itupun menjabat tangan kedua orangtuanya. Sontak tangan sang ibunda mendarat diatas kepala Dea, seakan melayangkan ridhonya.

Sejuknya udara pagi membuat wajah dan telapak tangan Dea dingin. Jalanan yang sebelas dua belas dengan kuburan itupun membuat motor Dea melaju dengan kencang. Basmallah dan sholawat tak henti-henti Ia ucapkan. Itulah amanat dari sang ayah.

Setibanya di swalayan, Dea disambut dengan wajah cemberut oleh teman-temannya. Dea yang sudah paham dengan raut muka itu pun langsung mengangkat keranjang yang berisi bekal untuk meredakan amarah mereka. Seketika wajah-wajah itu seperti kucing yang melihat ikan-ikan di pasar. Ya, seperti ada berlian di wajah mereka. Maklum saja, berangkat pagi-pagi sekali tanpa ada sarapan pagi, hanya mengandalkan kemurahan hati teman sejati. Teman-teman Dea berasal dari luar kota, mereka tinggal di salah satu asrama yang sama. Hanya Dea yang tinggal di Malang satu atap dengan orangtua. Oleh karena itulah, Dea menjadi peta berjalan, yang siap membantu perjalanan teman-temannya.

Bangunan yang berdiri kokoh dan pepohonan menghalangi sinar sang surya yang terpaksa menerobos dari sela-sela ranting. Sengatan Mentari pun sedikit demi sedikit menunjukkan kehangatannya. Dan jalanan pun menunjukkan wajah aslinya. Ya, kebisingan knalpot dan polusi dari asapnya itulah wajah asli dari jalanan.

Berpuluh-puluh kilometer mereka lalui, hingga jalanan yang semula dihinggapi oleh bangunan kini berubah menjadi lahan hijau. Dea dan sobatnya pun menikmati perjalanan dengan menurunkan kecepatan. Lika-liku bukan hanya terjadi dalam kehidupan saja, namun jalan yang dilalui Dea pun sama. Gadis dengan tahi lalat di ujung matanya itu pun melepaskan beban yang sudah menggunung di pundaknya. Teriak dengan lafadz takjub akan ciptaan Sang Maha Pencipta tak henti-henti Ia lantunkan. Tak terasa, jikalau mereka telah sampai di lokasi tujuan.

Hamparan sabana dengan tiang-tiang pohon pinus menambah keindahan alam siang itu. Panas mentari sudah tak terasa, karena pinus menghalanginya dengan baik. Selembar kain membentang menjadi alas duduk sembilan gadis cantik itu. Keranjang yang sedari tadi duduk manis di depan Dea pun menjadi titik pusat. Hingga membuat Leny, teman Dea yang suka makan teriak histeris.

Aw, divisi konsumi kita nih.. Yey, saat nya makan. Tau gak sih, aku tadi lemes banget. Sampai lubang segede beban hidup, aku gak liat, aku terobos gitu aja. Ya gimana lagi, sarapan cuma susu doang.”

Celetuk alaynya membuat orang-orang yang mendengarnya tertawa. Piknik ini diisi dengan bincang-bincang ala gadis, yang membahas cerita kehidupan secara tuntas hingga ke seluk beluk terdalamnya. Sempat terciut nama orang luar, untunglah sempat tertahan agar tidak menjadi bahan ghibah.

Seusai menyantap hidangan yang ada dalam keranjang, merekapun melanjutkan untuk bersua foto. Salah satu teman Dea, Ririn namanya, mahir dalam hal jepret menjepret. Setiap gambar yang dihasilkan bernuansa aesthetic. Dengan bantuan kamera dan tripod, jejak piknik sembilan gadis itu terekam dengan baik.

Sudah dirasa puas dengan hasil foto yang didapat. Mereka pun beranjak ke tujuan selanjutnya, yaitu tempat untuk bercengkrama dengan ditemani oleh secangkir kopi. Namun sayang, dua kilometer dari tempat piknik terdapat jalanan dengan penuh lumpur menghadang jalan mereka. Dengan terpaksa, Dea dan teman-teman pun melewati nya dengan penuh hati-hati. Tiba-tiba terdengar suara motor jatuh di belakang Dea.

Eh, tolong tolong... Cherin dan Elsa jatuh ke lumpur.”

Dea, Ririn, Leny, dan ke-empat temanya yang telah berhasil melewati kobaran lumpur pun bergegas turun dari motor dan berlari menyelamatkan Cherin dan Elsa. Wajah Cherin yang semula glowing akan skincare kini jadi glowing akan lumpur. Sedangkan, baju Elsa yang semula berwarna putih tulang kini berwarna sama dengan coklat hangat milik bunda Dea.

Mau tertawa, tapi takut kena omelan Cherin.

Bisikan Leny, membuat Ririn ikut menahan tawa. Elsa yang awalnya duduk termenung melihat busananya, kini mencoba melihat keadaan partner bermotornya, Cherin. Sontak Elsa shok melihat muka Cherin dan Ia pun tertawa terbahak-bahak. Teman-temannya yang sedari tadi menahan tawa pun ikut kelepasan. Seperti sudah diatur otomatis, raut muka Cherin menunjukkan kemarahan. Ririn yang sadar akan hal itu pun mengambil ponsel dan memberikannya kepada Cherin untuk digunakan bercermin. Seketika suasana menjadi hening, delapan gadis tersebut khawatir jika Cherin marah. Gadis yang memiliki lesung pipi itu pun tertawa terbahak-bahak melihat mukanya dipenuhi lumpur. Tawanya membuyarkan suasana sunyi dan menarik kembali tawa gadis-gadis itu.

“Tau gak sih, untungnya kita jomblo.. Kalau kita punya pacar, terus jalan bareng. Terus kejadian kaya Cherin sama Elsa. Duh, malunya sampai ubun-ubun.” Celetuk Dea di sela-sela tawa.

“hahaha.. bener banget bund. Setelah piknik hubungan bukannya makin langgeng, tapi renggang.”

“Yang paling ngakak lagi, kalau udah putus. Waktu ditanya sama temen, apa kisah berkesan dengan mantan? Kecebur lumpur sampai muka glowing,

“Ibid dong.. terus ditambahin gini, kecebur lumpur sampai gak kaya bawa pacar tapi bawa big silver queen.. hahahaha”

Alhasil, kobaran lumpur pun menjadi tempat bercengkrama kedua sembilan sahabat. Dan menjadi kisah yang tersemat sepanjang masa. Bukan lagi bercengkrama ditemani secangkir kopi, tapi bercengkrama ditemani segudang thai tea. Dari sinilah, persahabatan mereka menjadi semakin erat. Memang benar apa kata pepatah. Pasti di balik suatu peristiwa ada hikmah di baliknya. Kala mereka bertemu kembali, topik yang menjadi obrolan awal adalah kisah ini. Yaitu kisah tawa di balik bukit.



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar