Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

TATHWIR AN-NATSR



Oleh Astri Liyana

Prosa sastra arab dalam bahasa arab dikenal dengan “an-Natsr al- Adaby” menurut istilah berarti perkataan yang tidak terkait dengan wazan dan qafiyah. Menurut Muhammad Sain Husain dalam jurnal Rawandhy mendefinisikan prosa sebagai bahasa tulis biasa, bukan berbentuk dan terikat oleh kaidan wazan dan qafuyah. Prosa lebih mengedepankan tujuan untuk membangkitkan rasa dan emosi para pembacanya (Rawandhy, 2016, h. 118). 

Prosa arab tidak kalah pentingnya dengan syi’ir, banyak bentuk prosa yang muncul sejak zaman Jahiliyah, abbasiyah, hingga modern. Diantaranya seperti risalah, kitabah, khitabah, nasehat-nasehat, dan lain sebagainya. pencapaian tersebut tidak serta merta muncul tiba-tiba, terdapat beberapa faktor yang melatarbelakanginya. Seperti pengaruh datangnya agama islam, bercampurnya kebudayaan antara masyarakat Arab dan kaum pendatang, serta dengan adanya penerjemahan buku-buku dari bahasa asing ke bahasa Arab. 

Ketika pemerintahan sudah kokoh para Khalifah Abbasiyah khususnya Abu Ja’far Al-Mansyur, Harun Ar-Rasyid, dan Al-Ma’mun menaruh perhatian khusus pada kemajuan ilmu pengetahuan. Pada masa dinasti Bani Abbasiyah prosa mengalami perkembangan yang signifikan. Hal tersebut disebabkan karena adanya dukungan dari para penguasa dan kemampuan personal yang dimiliki masing-masing sastrawan, serta apresiasi masyarakat dan pemerintah yang tinggi terhadap karya sastra. Salah satu bentuk apresiasi pemerintah adalah dengan didirikannya lembaga penerjemahan Darul Hikmah.

Prosa Arab mengalami perkembangan yang pesat. Banyak karya-karya gemilang yang lahir disebabkan adanya kegiatan penerjemahan kitab-kitab ke bahasa Arab. Berbagai budaya asing mulai dari Yunani, Persia, India, Suriah, masih menjadi objek penelitian bagi para peneliti. Seolah-olah bahasa Arab memiliki energi yang kuat, sehingga budaya-budayanya dapat diterima di berbagai belahan dunia (Dhaif, 1983, h.513).

Gerakan penerjemahan tersebut tidak hanya melibatkan sumber daya manusia dari kalangan umat islam saja, melainkan juga melibatkan para penerjemah dari kalangan Nasrani, seperti Hunain bin Ishaq. Dalam mendedikasikan keahlianya dalam menerjemahkan karya-karya dari bahasa Yunani dan Suryani ke dalam bahasa Arab. Gerakan penerjemahan ini diasosiasikan dengan ditunjang oleh adanya pusat riset dan pendidikan seperti Baitul Hikmah dan Darul Hikmah. Penerjemahan karya-karya asing tidak hanya tidak hanya pada ilmu-ilmu dasar, filsafat Yunani, melainkan juga mencakup matematika, astronomi, fisika, musik, kedokteran yang berasal dari bahasa Suryani, Persia, dan India (Dhaif, 1983, h.513).   

Dalam genre prosa, muncul prosa pembaharuan (Tajdid an-Natsr) yang di pelopori oleh Abdullah Ibn Muqaffa dan juga prosa lirik yang dipelopori al-Jahizh. Adapun prosa yang terkenal pada masa itu adalah kisah Seribu Satu Malam. Adapun faktor yang mempengaruhi perkembangan prosa itu ada 3. Pertama, berkembangnya kebudayaan islam dan memperoleh manfaat ilmu-ilmu umat lain, seperti Persia, Hindia, dan Yunani melalui terjemahan. Kedua, Masa Abbasiyah adalah masa yang panjang sehingga membantu dalam ketetapan terhadap pikiran, bacaan,dan pembahasan. Ketiga, Keberanian para khalifah dan kedekatan mereka dengan orang terkemuka dalam penulisan prosa.



Sumber:

Dhaif, Syauqi. 1983. Tarikh al-Adab Al-Arabi Ashrul Abbas Ats-Tsani. Mesir: Daar al-Ma’arif.

Rawandhy, Ibnu. 2016. Kaidah Intrinsik Prosa Imajinatif Arab Dalam Ranah Kritik Sastra. Dalam ejournal Al-AJAMI IAIN Sultan Amai Gorontalo Vol. 5 (1).






Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar