Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

SI PERANTAU : PART 2 - TAMAT


Oleh : Hilwah Tsaniyah

Setelah membayar pesanan ke kasir, pelayan tersebut mengatakan untuk menunggu di lantai satu, di sudut pojok ruang itu. Aku dan Rani yang sudah membayangkan akan minum di lantai dua tempat kopi itu hanya mengiyakannya walaupun kami saling menatap dan menunjukkan muka bingung.

Kebingungan itupun terus berlanjut sampai pada akhirnya nama Rani dipanggil untuk mengambil pesanan kami. pesanan kami sudah dibungkus dengan kantong plastik putih. Rani pun segera berdiri dan berjalan mengambil pesanan itu dan membawanya ke tempat duduk kami.

“ Ko dibungkus ya? Tadi kan gua bilang minum di sini. Bentar deh gua cek dulu struknya.” Tanyaku pada diri sendiri.

“ Yaudah sekalian aja liatnya di parkiran, pesanannya juga udah dibungkus gini.” Ajak Rani.

Sesampainya di parkiran aku langsung mengeluarkan struknya.

“ Iya bener harusnya kita minum di tempat dong, ini aja tulisannya dine in ko.”

“ Yaudalah li, kita cari tempat lain buat minum kopi sama makan kue pancongnya aja yuk.”

“ Kita ke taman belakang kampus aja gimana? “ Jawabku memastikan.  

Aku memakirkan motor tepat di samping pintu masuk taman, kemudian menitipkan barang belanjaan kami ke tukang parkir taman tersebut. Aku melangkah paling depan dan mataku sigap mencari tempat yang sekiranya nyaman untuk kami duduki sembari menikmati kopi dan kue pancong.

Kami memilih duduk di bangku taman yang letaknya agak dipinggir taman. Di bawah pepohonan yang rindang, langit mendung, dan daun-daun jatuh bergantian tertiup angin sepoi-sepoi.

Awal pembicaraan kami dimulai dengan pertanyaan kenapa antar satu sama lain. Kenapa pesanan kami dibungkus? Apa pelayan kasirnya ngga denger? Atau pelayan yang membuat pesanan salah baca struknya?.

Pertanyaan-pertanyaan itu pun muncul begitu saja saat kami mulai menusukkan sedotan ke kopi tersebut, sampai pada pertanyaan Apa ada yang salah sama pakaian aku dan Rani?. Entahlah alasannya karena apa, yang jelas aku dan Rani berjanji tidak akan datang lagi ke warung kopi itu lagi. (tapi ngga tahu kalau besok hehe).

Terhitung sejak kami duduk dibangku taman, suara adzan berkumandanglah yang menyadarkan kami untuk segera kembali ke pondok. Mulai dari cerita selama pandemi di rumah sampai akhirnya memutuskan untuk kembali lagi ke kota ini, kota yang jaraknya ratusan kilometer dari rumah. Setidaknya dengan berbagi cerita dan keluh kesah satu sama lain, aku ataupun Rani bisa merasa lega. Walaupun mungkin untuk beberapa cerita tak perlu jawaban atau mungkin saran yang sebenarnya tidak terlalu membantu, because sometimes when we tell stories we just need to be heard J .

 


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar