Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

SI PERANTAU

SI PERANTAU


Oleh : Hilwah Tsaniyah

Minggu siang yang sendu, daun-daun di ranting pepohonan yang mendayu-dayu, dan angin sejuk setelah hujan turun bersama gemuruhnya. Aku mengajak Rani untuk pergi mengantarku membeli meja belajar di toko swalayan yang jaraknya lumayan jauh dari pondok. Rani, orang yang hampir selalu mengiyakan ajakanku untuk keluar. Senyum yang manis dan gigi putihnya yang tertata rapih, yang selalu ia tunjukkan saat aku memintanya untuk menemaniku.

Rani, yang juga teman satu ORDA (organisasi daerah) tapi kami secara formal berkenalan di kampus. Lebih tepatnya saat di kelas pada saat kami semester dua. Setelah selesai program asrama dari kampus selama 2 semester, aku dan Rani bersama-sama mencari tempat tinggal dan memilih untuk tinggal di pondok. Karena kami berasal dari kota yang berdekatan, dan untuk pertama kalinya kami merantau ada sedikit banyak keluh dan kesah, suka dan duka, juga perasaan-perasaan yang mungkin hanya dipahami oleh sesama anak perantau. Ranilah salah satunya, dari beberapa teman pondok yang juga mayoritas anak rantau.

Sesampainya di tempat tujuan aku langsung memarkirkan sepeda motor di dekat pintu masuk toko. Toko swalayan itu memiliki tiga lantai, masing-masing lantainya menyediakan kebutuhan yang berbeda-beda. Rani mengikuti langkahku yang langsung menuju ke lantai tiga. Tanpa berpikir lama, aku menuju ke tempat di mana meja-meja belajar itu ditumpuk dan langsung memilih meja mana yang paling bagus dan kuat.

Awalnya, Rani ikut membantuku untuk memilihkan gambar yang lucu dan kualitas meja yang bagus tentunya. Tapi  itulah Rani, ia suka latah dengan apa yang aku beli. Setelah ia memilihkan meja mana yang bagus untukku, aku bergantian mencarikan meja mana yang bagus untuknya. Namun sebenarnya, kadang aku juga suka latah.

“Bentar ya li, gua mau liat-liat dulu.” Tukas Rani yang sudah melangkahkan kakinya.

Aku pun mengikutinya dari belakang, rupanya Rani melihat-lihat keset dan ia teringat keset di kamarnya yang sudah mulai bolong-bolong. Kemudian Rani mengambil keset dan memasukkannya ke dalam keranjang belanjaan yang ia bawa dari lantai satu.

“Udah ni li, ada yang mau dibeli lagi ngga? biar sekalian.“ Tanya Rani memastikanku.

“Ngga ada, ini aja deh. Udah ayo langsung ke kasir, bahaya kalo liat barang-barang yang lucu gini nanti jadi gua beli, padahal ngga dibutuhin.”

Sesampainya di parkiran Rani memanggilku pelan.

“Lia...”

“Kenapa Ran?” Jawabku singkat tanpa menengok kearahnya, sambil mengeluarkan motor dari deretan motor yang terparkir.

“Gamau mampir kemana dulu gitu?” Tanyanya sambil senyum-senyum.

“Hayu aja, mau kemana emang? Eh tapi motornya gimana? Takut yang punya mau makai.” Aku teringat Yaya, yang motornya aku pinjam.

“Emang tadi Yaya bilang apa?”

“Tadi si katanya mau naro laundry.”

“Inikan masih siang, mungkin nanti agak sore-an dia naro laundryannya.”

“Yaudah deh ayo, mau kemana nih jadinya?” Tanyaku sekali lagi untuk memastikan Rani.

“Ke warung kopi yang lagi buy 1 get 1 aja yuk. Deket dari sini ko, sekalian minum di sana aja giamana?” Ajaknya begitu bersemangat.

Akupun langsung menancapkan gas ke tempat tujuan yang di maksud Rani.

Sesampainya di warung kopi, kami langsung antri untuk memesan kopi dan kue pancong untuk menemani kopinya. Aku memesan kopi yang best seller di tempat itu. Tak perlu ditanya Rani memesan kopi apa, sudah pasti ia memesan seperti apa yang aku pesan.

“Minum di tempat atau bawa pulang mba?”

“Minum di sini aja mas.”

“Ada tambahan lagi?”

“Kue pancong kejunya satu, sama yang rasa kacangnya satu.”

Bersambung …

 


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar