Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

SEJARAH PONDOK PESANTREN NURUL HAKIM KEDIRI-LOMBOK BARAT NTB


Oleh: Izzat Imaniya

Pada tanggal 13 Rabi’ul Awal 1319 H yang bertepatan dengan tanggal 30 Juni 1901 M suara isak tangis bayi laki-laki terdengar ditanah Kediri, sebuah desa di kabupaten Lombok Barat Nusa Tenggara Barat. Beliau  merupakan anak pertama dari pasangan suami istri yang bernama H. Abdul Hakim dan Amsiyah, bayi laki-laki ini mereka beri nama Tahir. Disaat uasinya yang ke-8, orang tua Tahir bercerai, kemudian beliau diasuh oleh ibu tirinya yang bernama Syamsiah. Dimasa  kecilnya, beliau menyibukkan diri dengan menggembala kerbau, bertani, mengaji Al-Qur’an bersama pamannya H.Abdul Halim sehingga beliau tidak pernah menimba ilmu secara formal. Tidak jarang penderitaan dalam hidup menimpanya karena tinggal bersama ibu tiri, akan tetapi hal tidak mengurangi ketaatan dan hormatnya kepada ayah dan ibu tiri. Karena, apa yang dialaminya itu sangat melatih diri untuk membentuk kepribadian. Sehingga seringkali beliau berpesan kepada anak-anaknya.

“Anak-anakku sangat beruntung karena tidak dibebankan pekerjaan yang berat-berat bahkan sedikitpun tidak pernah aku memaksamu untuk bekerja asalkan kalian mau mengaji, hanya itu permintaanku; itupun demi kebaikan kalian pada masa depan kalian”.

Beliau berpesan demikian tiada lain agar anak-anaknya semangat dan ikhlas dalam menuntut ilmu, kesempatan yang mereka miliki jauh lebih baik daripada kesempatan yang dahulu beliau miliki. Karena menuntut ilmu merupakan mimpi terbesarnya, hingga usianya mencapai 14 tahun beliau hanya memiliki bekal membaca Al-Qur’an yang telah beliau pelajari bersama pamannya. Tekadnya yang sangat besar untuk menuntut ilmu mengharuskan beliau mengambil keputusan besar memisahkan diri dari ayah dan ibu tirinya untuk kembali keasuhan ibu kandungnya. Meskipun keadaan sang ibu yang miskin tidak membuat beliau patah semangat untuk menuntut ilmu, justru kesempatan ini beliau manfaatkan dengan sebaik mungkin. Sejak kembali ke ibu kandungnya beliau belajar mengaji dan memperdalam pelajaran agama Islam dari TGH. Abdul Hamid Sulaiman Kediri dan TGH. Mukhtar Kediri.

Dua tahun sudah beliau belajar mengaji dan memperdalam agama Islam, disaat usia beliau 16 tahun, beliau melaksanakan ibadah haji. Beliau tinggal di Makkah selama lima tahun, karena merupakan sebuah tradisi Sasak pada masa itu, jika seseorang melaksanakan ibadah haji, maka harus bermikim di Makkah untuk menuntut ilmu dan mempelajari agama Islam lebih dalam. Ketika melaksanakan haji yang pertama ini beliau mengganti nama dari Tahir menjadi H.Abdul Karim. Pada tahun 1938 M beliau kembali ke Makkah  untuk melaksanakan ibadah haji dan bermukim  selama dua tahun. Pada tahun 1958 M beliau kembali lagi melaksanakan ibadah haji, akan tetapi kali ini beliau melaksanakan ibadah haji bersama istri tercinta Hj. Khairiyah binti H. Mujtaba dan tidak bermukim lama di Makkah sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Karena menuntu ilmu merupakan impian terbesar dari kecil, beliau sangat tekun dalam menjalankannya selama di Makkah, sehingga pada hari Sabtu, 11 Februari 1939 beliau mendapatkan ijazah keilmuan yang sempurna sampai kepada Imam Nawawi dari Syekh Sayyid M. Amin Kutby, ijazah ini diberikan kepada beliau disaat ziarah kepada Syekh Sayyid M. Amin Kutby sekaligus pamit dan mohon doa restu untuk balik ke Indonesia.

Berikut adalah manuskrip ijazah TGH.Abdul Karim dari Syekh M. Amin Kutby:


Sesampainya di kampung halaman, beliau memiliki semangat yang tinggi untuk mengamalkan ilmu yang didapatkan selama di Makkah, beliau mengawalinya dengan mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anaknya di rumah. Dalam mendidik putra-putrinya beliau termasuk sosok yang fleksibel, tidak memaksakan anak-anaknya dalam memilih ilmu yang akan didalami. Karena beliau memiliki prinsip bahwa ilmu agama dan ilmu umum harus seimbang, keduanya sangat penting. Selain itu, beliau juga mendidik anak-anaknya dengan tegas, agar mandiri dan memiliki  kepribadian yang kuat dengan bertani ke sawah.

Seiring berjalannya waktu, beliau meiliki inisiatif untuk membuat musalla kecil yang berukuran 10 x 8 meter, seluruh biaya pembangunan musalla ini bersumber dari masyarakat. Beliau memiliki niat untuk menjadikan musalla ini sebagai tempat untuk sholat berjama’ah, belajar Al-Qur’an dan mengkaji kitab-kitab bagi masyarakat khusunya yang haus akan ilmu. Kehadiran TGH.Abdul Karim dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan dimusalla itu ternyata mengundang minat masyarakat dari desa sekitar. Setelah balik dari kota Makkah yang kedua kalinya, beliau semakin giat dalam membagi ilmunya dan mengabdi dengan sungguh-sungguh kepada umat. 14 tahun sudah TGH.Abdul Karim membina kegiatan dimusalla ini, jama’ah yang berdatangan semakin banyak. Sehingga musalla ini merupakan cikal bakal dari pondok pesantren Nurul Hakim. Atas permintaan dari masyarakat beliau membuat kerebung-kerebung (kamar-kamar) yang terbuat dari bedek dan atap dari ilalang dengan ukuran 3 x 2,5 aiatas tanah seluas 4 are. Kerebung ini kemudian ditempati oleh santri-santri yang belajar kepada beliau. Sejak tahun 1948, santri banyak yang berdatangan, baik dari dalam ataupun luar daerah. Seiring berjalannya waktu, kerebung ini kemudian direhab pada tahun 1960 dan diganti dengan tembok beratapkan genteng. Sistem belajar mengajar yang diterapkan TGH. Abdul Karim adalah ssistem halaqah.

Di saat mulai uzur, beliau mengurangi kegiatannya dan dibantu oleh anak-anaknya. Pada tahun 1969 beliau dibantu oleh putra pertamanya yakni TGH. Shafwan Hakim yang telah menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta setelah beliau balik dari Makkah. TGH. Abdul Karim telah menguasai ilmu tafsir, hadis, tasawuf, dan beliau sangat terkenal ahli dalam bidang fikih. Sehingga pada saat itu desa Kediri sangat terkenal dengan basisnya para ulama, maka tidak heran jika banyak orang yang ingin belajar ke desa Kediri. Pada hari Selasa 4 Mei 1976, sosok yang menjadi panutan masyarakat ini jatuh sakit, beliau tidak sadarkan diri, sampai tanggal 7 Mei 1976 pukul 15.00 keadaan beliau semakin kritis, dan Alhamdulillah setelah itu beliau mulai membaik dan melaksanakan sholat asar. Setelah sholat subuh pada hari Sabtu, 8 Mei 1976 beliau berdo’a:

اللهم أحيني ما كانت الحياة خيرا لي وتوفني إذا كانت الوفاة خيرا لي

Perjuangan dan pengabdian kepada umat telah berakhir, TGH.Abdul Karim dipanggil kehadirat Allah. Beliau meninggalkan seorang istri yaitu Hj. Khaeriyah dan 14 orang anak. Kemudian Pondok Pesantren Nurul Hakim dipimpin oleh putra pertama beliau yakni TGH. Shafwan Hakim. Dari tahun ketahun Pondok Pesantren Nurul Hakim mengalami perkembangan yang sangat pesat, sehingga terbentuklah Yayasan Nurul Hkim yang dipimpin oleh TGH. Shafwan Hakim, TGH. Muharrar Mahfudz, dan TGH. Muzakkar Idris, LC. Msi, banyak prestasi dan perkembangan yang telah dicetuskan, terbentuknya lembaga-lembaga formal ataupun non formal, jumlah santri dan santriwati dari tahun ketahun yang terus meningkat, saat ini seluruh pelajar berjumlah 5.605 orang. Lembaga formal tersebut diantaranya adalah: Raudatul Athfal, Madrasah Ibtidaiyyah, Madrasah Tsanawiyah Putra dan Putri, Madrasah Aliyah Putra dan Putri, SMK Plus Nurul Hakim, Ma’had Aly Darul Hikmah, Sekolah Tinggi Agama Islam Nurul Hakim, Bagian al-ulum al-islamiyah dan Bahasa Arab, dan Program Pendidikan Khusus Kulliyatul Muallimin wal Muallimat al-Islamiyah (KMMI). Adapun lembaga pendidikan non formal diantaranya adalah: Balai dan Latihan Kerja Santri dan Masyarakat, Radio Dakwah dan Pembangunan Suara Nurul Hakim, Koperasi Pondok Pesantren Nurul Hakim, Klinik Kesehatan Ibnu Sina, Panti Asuhan Ashabul Hikam,Majelis Ta’lim, Lembaga Pengembangan Masyarakat, dan Kelompok Bimbingan Jama’ah Haji. Disamping itu, perhatian Pondok Pesantren Nurul Hakim terhadap lingkungan hidup sangatlah tinggi. Sehingga pada tanggal 7 Juni 2011 TGH. Shafwan Hakim menerima penghargaan Kalpataru yang diserahkan langsung oleh Bapak Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudoyono di Istana Merdeka Jakarta.


Pada hari Rabu, 21 Juni 2018 TGH. Shafwan Hakim meninggal dunia di usia yang ke-72. Masyarakat Nusa Tenggara Barat khususnya keluarga Pondok Pesantren Nurul Hakim merasakan kesedihan atas dipanggilnya ulama kharismatik ini kehadirat Allah SWT. Dan saat ini pindok pesantren dipimpin oleh TGH. Muharrar Mahfudz, TGH. Muzakkar Idris LC.Msi, TGH. Nawawi Hakim LC., M.A (putra ke-7 TGH. Shafwan Hakim). Semua prestasi dan perkembangan yang dicapai Pondok Pesantren Nurul Hakim saat ini tidak lepas dari tekad dan usaha TGH.Abdul Karim mewujudkan mimpinya sejak kecil. Insyaallah akan menjadi amal jariyah untuk beliau, begitu juga TGH.Shafwan Hakim dan guru-guru yang telah kembali kehadirat Allah.

Daftar Pustaka:

Fadli, Abdurrahman, dkk. 2014. Setengah Abad Nurul Hakim. Lombok: Pustaka Lombok

Wawancara melaluli whatsapp dengan TGH.Muzakkar Idris pukul 11.30 tanggal 27 November 2020.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar