Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

SEHAT ALA RASUL

Penulis: Ainu Habibi

Allah memastikan bahwasanya Rasulullah Saw. Adalah sosok yang memiliki suri tauladan sempurna dalam dirinya. Maka seharusnya menjadi pedoman bagi setiap orang-orang yang mengharap keselamatan, kebaikan, dan ridha Allah Swt. Suri tauladan Rasulullah Saw. Mencakup semua aspek kehidupan. Rasulullah Saw tidak hanya mengajarkan kepada kita ibadah kepada Allah, tetapi juga memberi tuntunan atas berbagai hal, dimulai dari hal yang terkecil dalam kehidupan, hingga yang paling besar sekalipun. Dalam tuntunan tersebut adalah tuntunan Rasulullah Saw terkait pengobatan.

Dari Abu Hurairah dia berkata; “Rasulullah Saw bersabda: Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah Swt daripada orang mukmin yang lemah. (HR. Muslim)

Melalui hadis shahih kita dapat menelusuri cara-cara pengobatan yang dilakukan Rasulullah Saw. Beliau banyak mengobati penyakit yang timbul pada zamannya, baik bersifat fisik, seperti demam, diare, bisul, dan lain-lain. Luar biasanya pengobatan yang diajarkan tak lekang oleh zaman. Bahkan, perkembangan ilmu kedokteran justru menginformasi kehebatan cara pengobatan yang beliau ajarkan. Pengobatan Rasulullah Saw terbukti ampuh sejalan dengan ilmu pengetahuan yang terus berkembang.

Selain itu Rasulullah juga mengajarkan kiat-kiat dalam kehidupan sehari-hari, seperti mengajarkan pola-pola hidup sehat, mulai dari menjaga pola makan, minum, tidur, olahraga. Rasulullah sendiri mengaplikasikan hal tersebut secara langsung. Dengan pola hidup sehat beliau tampil sebagai pribadi yang sehatnya luar biasa, hampir tidak pernah terganggu sakit yang serius kecuali saat menjelang ajal beliau. Dengan bekal sehat itulah beliau bisa memaksimalkan melakukan kegiatan pribadi, berkeluarga, dan melakukan tugas sosial kenegaraan, termasuk berjuang menyebarkan dan membela agama Islam.

Mengapa Rasulullah jarang sakit? Pertanyaan yang menarik untuk dikemukakan. Sederhananya Rasulullah Saw jarang sakit karena beliau mampu mencegah hal-hal yang berpotensi mendatangkan penyakit. Dengan kata lain, beliau sangat menakankan aspek pencegahan daripada pengobatan. Satu diantara banyaknya contoh; perintah untuk menutup hidangan, mencuci tangan sebelum makan, bersiwak, larangan bernafas sambil berminum, tidak kencing atau buang air di tempat yang tidak mengalir atau di bawah pohon, merupakan contoh praktis dari sekian banyak tuntunan Rasulullah Saw. Bahkan sebelum dunia mengenal karantina, Nabi Muhammad Saw telah menetapkan dalam salah satu sabdanya,

“Apabila kalian mendengar adanya wabah di suatu daerah, janganlah mengunjungi daerah itu, tetapi apabila kalian berada di daerah itu, janganlah meninggalkannya.” (HR. Bukhari dari Usamah bin Zaid)

Dalam suatu hadist diceritakan, Rasulullah Saw. Pernah menegur sahabat yang kurang memperhatikan kesehatannya jasmaninya. Sahabat tersebut terlalu berlebihan dalam beribadah. Padahal menurut Rasul kesehatan adalah hak bagi tubuh. Sehingga setiap individu wajib menunaikan hak tersebut.

Nizar Abazhah adalah seorang guru besar Sirah Nabawiyah kelahiran Damaskus Syria. Dalam kitabnya, beliau menjelaskan bahwa Nabi Muhammad Saw tidak hanya bersih secara lahiriyah (tubuh dan lingkungan), tetapi juga bersih hatinya, lisan, dan pergaulannya.
Nabi SAW sangat memperhatikan kebersihan tubuh. Setiap hari beliau mandi. Begitu pun saat menghadapi momen khusus, seperti sebelum salat Jumat, di hari raya Idul Fitri, Idul Adha, dan hari Arafah. Beliau sangat menganjurkan kaum muslim mandi pada momen-momen tersebut.

Adapun prinsip-prinsip kebersihan  yang dicontohkan Nabi terangkum dalam hadis yang diriwayatkan Sayyidah Aisyah radhiallahu anha; "Ada sepuluh hal termasuk bagian dari fitrah atau kesucian, yaitu memotong kumis, memelihara jenggot, bersiwak, menghirup air dengan hidung (istinsyaq), memotong kuku, membasuh sendi-sendi tulang jemari, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, istinja' dengan air." Zakaria berkata bahwa Mu'shob berkata, "Aku lupa yang kesepuluh, aku merasa yang kesepuluh adalah berkumur-kumur." (HR. Muslim, Abu Daud, At Tirmidzi, An-Nasai Ibnu Majah)



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar