Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

SASTRAWAN YANG WAJIB DIKETAHUI MAHASISWA BAHASA DAN SATRA ARAB SERTA REFLEKSI KARYA-KARYANYA DENGAN KEHIDUPAN MASYARAKAT MESIR: TAUFIQ AL-HAKIM

Source image: https://images.app.goo.gl/9GEGxqwPfd77Zsoc9


Oleh: Ahmad Nasrul Maulana

Taufiq al-Hakim adalah seorang sastrawan yang lahir di Iskandaria, Mesir pada tahun 1902. Saat masa mudanya, ia mengalami sakit yang membuat tubuhnya kurus kering. Meski keadaanya demikian, Taufiq al-Hakim termasuk seorang anak yang memiliki kecerdasan yang baik. Ayahnya adalah seorang hakim dan ibunya adalah seorang keturunan petani yang kaya raya.

Pada usia 7 tahun, Taufiq al-Hakim masuk ke sekolah dasar Damanhuri di Damaskus. Setelah ia dinyatakan lulus, ayahnya berencana mengirimnya ke Kairo untuk melanjutkan sekolahnya di sana yang kebetulan ia mendapat tugas di Dashouk. Salah satu nama kota di Kairo. Di dalam kitab tulisan Syauqi Dlaif dicantumkan terkait pendidikan dari Taufiq al-Hakim.

Ketika di Kairo Taufiq al-Hakim tinggal bersama dua orang pamannya, yang bekerja sebagau guru sekolah dasar dan dosen di Fakultas Teknik. Taufiq al-Hakim masuk ke sekolah menengah Muhammad ‘Ali. Di sanalah ia belajar banyak tentang seni suara dan musik yang mengantarkannya kepada seni teater.

Setelah lulus dari sekolah menengahnya memilih untuk melanjutkan pendidikannya di Sekolah Tinggi Hukum. Pada saat itulah kecintaannya terhadap sastra telah meranum di dalam hati dan pikirannya. Akhirnya ia memutuskan untuk bergabung dengan para seniman muda sebayanya, salah satu diantaranya adalah Mahmud Taimur.

Pada tahun 1922, ia dan juga rekannya sudah menyusun beberapa naskah drama yang dipentaskan oleh grub teater Ukasyah di gedung teater al-Azbekiyah. Adapun drama yang dipentaskannya berjudul (The New Woman), (Heavy Guest), dan (On the door).

Meski kecintaan Taufiq al-Hakim terhadap teater sangat besar, bukan menjadi penghalan untuk menyelesaikan pendidikannya. Ia lulus dengan ijazah kaafah (kredibel). Dalam rangka melanjutkan studi hukumnya, Taufi al-Hakim meminta izin kepada orang tuanya untuk pergi ke Paris. Ayahnya sangat senang dan menyetujui keinginannya.

Selama 4 tahun di Paris, ia tidak sekalipun menyentuh masalah-masalah hukum. Selam itu, Taufiq al-Hakim menghabiskan waktunya dengan membaca novel sebanyak-banyaknya, mendalami sastra dan teater. Selain itu, Taufiq al-Hakim suka dengan musik Barat, tak jarang ia mengunjungi gedung opera dan konser-konser musik. Ia juga gemar membaca literatur budaya dan intelektualitas dari masa klasik dan masa modern.

Pada tahun 1928, Taufiq al-Hakim kembali ke Mesir dan bekerja sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat sampai pada tahun 1934. Kemudian ia menjadi Direktur Pelaksana pada Departemen Pendidikan dan Pengajaran sampai tahun 1939. Lalu dirinya pindah ke Departemen Sosial.

Karya-karya Taufiq al-Hakim

Taufiq al-Hakim adalah sastrawan Arab yang telah menulis banyak naskah drama sejumlah kurang lebih 60 naskah drama Arab modern, 2 antologi cerpen dan 20 novel. Seperti yang tercantum dalam kitab bahwa Taufiq al-Hakim adalah sosok sastrawan yang memiliki kekuatan dalam seni dan pikiran, yang mana kekuatannya tersebut ia tuangkan dalam bentuk karya sastra yang kaya akan pengetahuan, kedalaman pandangan, kehalusan akal dan pendapat. Berikut beberapa karya Taufik al-Hakim:

1.      Drama, Salah satu dramanya yang berjudul (أهل الكهف) merupakan sebuah naskah terbaik dalam sastra Arab modern yang diambil dari kisah Ashabul Kahfi dalam al- Qur'an. Selain itu ada (الضيف الثقيل) naskah drama yang ia tulis pada saat terjadi revolusi melawan penjajahan Inggris, (شمس النهار) naskah drama yang tersebar dalam bahasa Inggris dan Amerika dan masih banyak lagi.

2.      Novel, salah satu novelnya yang berjudul (عودة الروح) merupakan novel yang berisi tentang kebangkitan mesir, beberapa suku, dan juga tuntutan kebebasan. Dalam novel ini dialognya ditulis menggunakan bahasa ‘Amiyah, sedang isinya berbahasa Fushah. Ada pula (القصر المسحور) novel yang ditulisnya bersama Thaha Husen.

3.      Antologi cerpen, (أهل الفنّ) adalah cerpen komedi dan dua cerpen lainnya yang kemudian dijadikan fragmen naskah drama. (عهد الشيطان) sebuah karya antopologi cerpen sosial, (أرني الله) yang memuat 18 cerpen Taufiq al-Hakim, Ia juga menulis biografi Nabi Muhammad SAW dalam bentuk cerita.

Bukan saja cerpen, pekerjaannya yang sering mengunjungi daerah-daerah dan perekampungan-perkampungan melahirkan sebuah catatan harian yang berjudul (يوميّات نائب في الأرياف). 

Refleksi Karya Taufiq al-Hakim

Taufiq al-Hakim memiliki dua karya yang berisi cerminan kondisi masyarakat Arab yang sedang berjuang mencari identitas bangsa, mencari harmoni, melakukan rekonsiliasi sosial  dan memetakan ideologi yang dianutnya. Adapun dua karya tersebut adalah novel yang berjudulu ‘Audatur-Rûh (The Return of The Spirit) dan ‘Ushfûrun minasy-Syarqi (Bird from the East). Berikut pemaparannya:

1.      Taufiq al-Hakim dan peradaban

Sebagai seorang sastrawan Timur yang hampir sebagian hidupnya dihabiskan di dunia Barat, Taufiq al-Hakim dengan semangat ketimuran menulis sebuah novel yang berjudul Burung Pipit dari Timur yang garis besarnya menceritakan perbedaan antara peradaban Barat dan Timur. Hanna al-Fakhuri dalam kitabnya menuliskan bahwa Taufiq al-Hakim menyikapi peradaban dengan tangan terbuka dengan satu syarat asal tidak menghilangkan nurani ketimuran.

Meski peradaban Barat dan Timur saling bertentangan, yang mana Peradaban Barat  mengarah pada sikap materialisme dan Timur unggul di sisi spiritualisme. Taufiq al-Hakim dalam menyikapi kedua peradaban tersebut dengan moderat. Ia tidak serta merta menganggap bahwa peradaban Barat harus ditinggalkan meski bertentangan dengan peradaban bangsanya, bangsa Timur. Sisi positif dari bangsa Timur diambil dan mengunyahnya semua, kemudian mewarnainya dengan ruh warisan bangsa Timur.

Kelebihan Barat adalah metode dan teknik dalam menghasilkan penemuan ilmu dan teknologi, sedangkan kelebihan Timur adalah penemuan arah ke mana dan untuk apa semua kemajuan dunia ini. Tidak bisa dipungkiri, gencarnya peradaban bangsa Barat terhadap Timur membuat masyarakat Timur cenderung melupakan spiritualisme Timur ketika mengadopsi kemajuan bangsa Barat. Kepelikan ini membuat Taufiq sebagimana dalam penggalan kitab di bawah ini:

Dijelaskan bahwa Taufiq al-Hakim mencoba menghidupkan kembali tradisi di masa Fir'aun yang menjadi sumber lahirnya peradaban Timur. Ia juga mengkaji kehidupan masyarakat di desa yang telah tersuntik dengan peradaban Barat dengan masyarakat Mesir lama. Keperrdulian Taufiq al-Hakim semata-mata didasari rasa ketidakinginan fondasi peradaban Barat hilang yang tumbuh bersama Persia, Pal, Romawi, Kristen dan Islam. Akan tetapi semuanya muncul secara kohesif dan saling merangkul.

2.      Taufiq al-Hakim dan kebebasan

Salah satu novel Taufiq al-Hakim yang berjudul ‘Audaturruh adalah novel yang salah satu isinya adalah tentang adanya kebebasan. Melalui novel ini, Ia mengartikan kebebasan sebagai cara yang bagus untuk menciptakan kepribadian dalam diri manusia serta menjadikan pikiran jenius yang dimiliki manusia bisa melandas di bidang kehidupan yang layak dan sesuai.

Taufiq al-Hakim menuntut kebebasan atas pemberontakan kelas atas yang tidak menganggap peradabannya. Jadi ia menuntut akan kebebasan berpikir, berkeyakinan, berbicara, bertindak, berprilaku dan berpakaian agar tidak sejalan dengan peradaban Barat. Ia juga berkata bahwa jika penguasa memberikan banyak harta benda akan tetapi merampas kebebasannya, maka sama saja tidak memberikan apa-apa. Jadi dapat dilihat bahwa kebebasan mengandung urgensi yang besar dalam kehidupan masyarakat luas.

3.      Taufiq al-Hakim dan Feodalisme

Selain kebebasan, dalam novel ‘Audaturruh juga berisi tentang kebangkitan Mesir dalam menghadapi feodalisme, feodalisme di sini mencakup moral dan material. Taufiq al-Hakim sering kali mengangkat tentang feodalisme yang meliputi permasalah pedesaan dan petani, masalah perempuan dan masalah agama. Mengenai pedesaan dan para petani, Hanna Fakhuri dalam kitabnya dituliskan:

Taufiq al-Hakim beranggapan bahwa ketertinggalan masyarakat pedesaan disebabkan oleh ketidaktahuan akan sistem feodal pemerintah yang menyebar di Timur. Akibatnya terjadi peberdaan yang jauh antara masyarakat kota dan desa. Melihat situasi yang menyedihkan tersebut, Taufiq al-Hakim berusaha bangkit dan membela martabat masyarakat pedesaan.

Masalah perempuan, Taufiq al-Hakim dalam bukunya yang berjudul (حماري وحزب النساء) memaparkan masalah-masalah wanita. Ia berharap dari seorang wanita agar maju. Wanita bagi Taufiq al-Hakim adalah surga dunia dan pancaran kehidupan. Oleh sebab itu, wanita tidak seyogyanya diperbudak melalui feodalisme seksual. Pemenjaraan wanita Mesir di masa lalu sepatutnya agar ditinggalkan, karena hal tersebut merupakan bentuk pembunuhan moral yang bahkan akan berujung bunuh diri. Jika pikiran seorang wanita layu dan mati, maka pikiran seluruh bangsa akan layu dan mati.

Terkait dengan agama serta kepercayaan dan tradisi yang terkait dengannya, Taufiq al-Hakim menyerukan pertentangan terhadap siapa saja yang merusak agama dengan mitos tradisi Mesir masa lalu. Melihat kecakapan Taufiq al-Hakim, Ahmad Abdul Rahim Musthofa menganggap bahwa Taufiq al-Hakim adalah pemikir agama dengan cakrawala yang luas. 



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar