Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

SANDAL JEPIT PAK RT YANG BIKIN HEBOH WARGA

Oleh: Nur Sholikhah

Di tengah siang bolong, warga desa Ngrenget digegerkan oleh sebuah pengumuman dari speaker musholla. Bapak-bapak yang sedang asyik menyeruput kopi di warung Markonah menghentikan kegiatannya dan saling menolehkan muka yang rautnya penuh tanda tanya, mulutnya melongo seperti belanga. Sedangkan ibu-ibu yang khusyuk mengangkat jemuran terkejut hingga jemuran yang ia bawa jatuh tersungkur ke tanah.

Sebenarnya isi pengumuman itu sangat sederhana, sandal jepit milik Pak RT hilang. Dan yang mengumumkan sandal itu adalah Pak RT sendiri. Sontak semua warga terkejut karena kabar yang aneh itu. Sandal jepit milik Pak RT hilang di musholla setelah ia menunaikan sholat shubuh berjama’ah.

“Kok bisa ya sandalnya Pak RT hilang? Orang-orang kan sudah tahu kalau itu sandal kesayangan.”

“Mungkin tertukar sama sandalnya warga. Apalagi hilangnya habis shubuh.”

“Pak RT ini sandalnya hilang warganya ikutan bingung. Padahal ya sandal jepitnya masih bagusan punya saya, warnanya sepadan lagi.”

“Bukan masalah bagus atau nggaknya Cak, tapi kenangan pada sandal itu lhoh yang bikin Pak RT nggak rela.”

“Katanya sandal itu punya banyak kenangan dengan Pak RT. Mulai dari urusan pekerjaan sampai urusan asmaranya dengan Bu RT.”

Bapak-bapak di warung Markonah masih sibuk mengumbar kata tentang sandal jepit. Sedangkan Pak RT seusai mengumumkan, ia langsung turun dari musholla dan tergupuh-gupuh menuju warung. Kedua kakinya memakai sandal jepit warna putih yang masih tampak bersih. Saat melihat Pak RT datang, bapak-bapak segera mengganti topik pembicaraan tentang ayam Pak Somad yang beberapa hari ini banyak yang mati.

“Yu, kopi satu ya seperti biasa!” perintah Pak RT kepada Markonah yang sedang pura-pura sibuk menata dagangannya.

“Nggeh, Pak.”

“Duh Din. Kalau ketemu sandalku cepat bilang ke saya ya! Masak sandal kayak gitu ada yang nyuri. Rasanya kok ya mustahil sekali.”

“Iya, Pak RT. Paling sandalnya bapak itu cuman tertukar, nggak hilang.”

“Semoga saja begitu, Din. Bapak-bapak nanti yang bisa menemukan sandal akan saya traktir di sini sepuasnya!”

Bapak-bapak yang mendengar pengumuman itu sontak berteriak senang. Ternyata kata “traktiran” juga disukai oleh kaum lelaki, tidak hanya kaum perempuan saja. Dari dalam warung tampak Markonah tersenyum membayangkan jika ia yang berhasil menemukan sandal itu kira-kira hadiah apa yang akan ia terima. Ah mungkin satu gram emas. Ah tidak mungkin juga karena harga emas jauh lebih tinggi ketimbang harga sepasang sandal jepit yang dipaksakan serasi. Pikir Markonah.

Matahari sudah hampir sepenuhnya tenggelam, sisa-sisa cahaya berwarna jingga bersemburat di langit desa Ngrenget. Dan kabar sandal jepit itu masih tetap sama, belum ditemukan. Hati Pak RT gelisah. Jangan-jangan sandal itu sudah dibawa pergi keluar desa. Jangan-jangan sandal itu sudah dibakar oleh penemunya karena dianggap tidak berguna. Jangan-jangan ini, jangan-jangan itu. Kepala Pak RT dipenuhi prasangka dan dugaan yang sebenarnya malah semakin menambah kegundahan hatinya.

Gema suara adzan terdengar nyaring dari speaker musholla. Waktu maghrib telah tiba dan orang-orang bersiap mengambil air wudhu. Ada juga yang sudah sampai di musholla dan duduk di serambi khusyuk mendengarkan panggilan-Nya. Ia adalah Pak RT.

“Lhoh, Pak RT! Ini kan sandal jepitnya bapak yang hilang toh?”

“Lhoh iya, Man. Kok tiba-tiba ada di sini ya? Perasaan dari tadi saya duduk nggak ada apa-apa,” ucap Pak RT sambil memungut sandal itu. Tiba-tiba matanya berkaca-kaca.

“Alhamdulillah, Man. Sandal ini ketemu. Seharian saya mencarinya. Eh ternyata sandalnya kembali ke musholla.” Parman hanya bisa melongo melihat tingkah Pak RT yang langka ini.

Seseorang dari dalam masjid keluar mendekati Pak RT.

“Pak, maafkan saya ya! Saya tadi pagi tidak sengaja memakai sandalnya bapak. Saya tadi pulang dari sholat shubuh ngantuk sekali sampai tidak sadar sandal yang saya pakai bukan milik saya.”

“Oalah kamu toh, Di, pelakunya. Ya sudah tidak apa-apa, yang penting sekarang sandalnya sudah kembali ke saya.” Pak RT tersenyum lega.

“Nah karena kamu yang sudah menemukannya, besok kamu saya traktir ngopi di warungnya Markonah ya!”

Supardi senang sekali tampaknya. Sedangkan Parman semakin melongo melihat mereka berdua. Muadzin mengumandangkan iqomah pertanda sholat maghrib akan segera dilaksanakan. Mereka bertiga masuk dan melupakan sandal jepitnya.



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar