Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

RATU YANG TAK TERSENTUH PART II (TAMAT)

Oleh: Muflikhah Ulya

Kriiiiiiiing, bunyi alarm berdering, menandakan waktu terus berjalan. Memaksa kita bangkit untuk merealisasikan mimpi di tengah pandemi yang terus menghantui. Hari pertama isolasi mandiri dimulai. Terasa sangat berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Tak ada kegiatan sholat berjama’ah di masjid, tak ada kegiatan mengaji bersama, ataupun kegiatan-kegiatan lain yang biasanya bisa kita lakukan dengan bertatap muka secara langsung. Kini semuanya harus berganti menjadi sistem online. Perasaan sedih, kecewa sekaligus bingung mendominasi ruang hati.

Pagi yang cerah disambut dengan senyuman sinar matahari yang begitu terik, ditambah udara segar dari hembusan angin yang masuk melalui jendela yang sedikit terbuka. Kita memulai hari dengan perut lapar yang  memaksa kita untuk mencari sisa-sisa bahan makanan yang ada di dapur. Keputusan lockdown yang tiba-tiba membuat kita tidak sempat mempersiapkan segala kebutuhan, bahkan untuk sekedar bahan makanan pun tak ada. Tak ada harapan lain selain beberapa bungkus mie instan dan telur. Tak begitu buruk untuk sarapan, meskipun memang tidak terlalu baik jika dilihat dari perspektif kesehatan.

Setelah menikmati hidangan sarapan sederhana yang terasa sangat mewah. Tiba-tiba terdengar sebuah suara ketukan pintu. Kami pun saling menatap, berfikir siapa kiranya yang sepagi ini sudah datang untuk bertamu disaat kita sedang melakukan lockdown. Setelah pintu gerbang dibuka, tak ada seorang pun, yang terlihat hanya beberapa karung beras lengkap dengan berbagai macam sayuran, lauk pauk, buah-buahan dan beberapa vitamin serta 4 box masker. Kami pun terheran-heran, bagaimana bisa semua barang ini tiba-tiba berada di depan pondok.

“Tuuut, tuuuut, tuuuuuut” Terdengar dering sebuah handphone.

“Assalamu’alaikum, sinten nggeh?” Jawab Ninis di panggilan suara yang sedang berlangsung.

“Wa’alaikumussalam, ini saya mbak, bu dewa”

“Ooo iya bu, wonten nopo nggeh?”

“Ini mbak, tadi saya taruh beberapa barang di depan pondok, semoga cukup membantu ya, itu buat mbak-mbak, semoga cepat sembuh ya, kalau ada apa-apa bilang saja, insyaallah kami siap untuk membantu”

“Masyaallah, matur nuwun sanget bu”

“Sama-sama mbak, pokoknya jangan terlalu dipikir ya, jaga kesehatan dan tetap semangat”

Nggeh bu, semoga semuanya selalu diberikan nikmat sehat oleh Allah SWT, aamiin”

Ternyata berbagai macam barang yang ada di depan pondok adalah bantuan yang dikirimkan oleh warga Perumahan Bukit Cemara Surga. Mungkin karena sebagian besar warga Bukit Cemara Surga adalah perantau, maka tidak heran jika tetangga yang tak ada hubungan darah pun terasa seperti saudara. Seperti yang terjadi pagi ini, sebelum kita meminta bantuan, mereka sudah terlebih dahulu memberikannya, baik itu berupa bahan makanan, obat-obatan ataupun perhatian dan untaian do’a serta ucapan semangat yang tak henti dihaturkan.

Matahari berganti bulan, hari telah berganti, tanggal selanjutnya pun datang. Tak terasa lockdown sudah dimulai sejak tiga hari yang lalu. Jujur saja, keadaan ini memaksa kami untuk terus optimis di tengah suasana hati yang tragis. Berbagai usaha telah kita lakukan, seperti meminum vitamin dan ramuan herbal, senam, berjemur dan tak lupa kita juga mengadakan do’a bersama setiap hari. Harapan kami hanya satu, semoga semuanya lekas pulih agar kita bisa segera beraktivitas seperti biasanya.

Malam ini kita mendapat kabar dari dinas kesehatan bahwasannya besok akan diadakan screening kesehatan.

“Mbak-mbak ini ada informasi terbaru, Insyaallah besok kita ada screening kesehatan” Ucap Asna menyampaikan informasi terbaru.

Jinjja?” Tanya Dinda yang terkejut mendengarnya.

Seriously?” Sabil pun ikut bertanya untuk memastikan kembali.

“Yok bisa yok, jangan lupa senyum, malam ini kita harus tidur lebih awal, selamat malam, semoga mimpi indah” Ucap Ussy untuk menyemangati teman-temannya.

“Kamu malah bikin aku ngakak woy, udah kayak mau berangkat perang aja haha” Sahut Rara dari kejauhan

Kabar tersebut membuat kita merasa khawatir, apakah kita akan tetap baik-baik saja setelah mengetahui hasil dari screening kesehatan tersebut. Yaah, meskipun lisan berkata baik-baik saja, namun tetap saja hati tak berkata demikian.

Keesokan harinya, kami melakukan screening kesehatan. Entahlah, suasana pagi ini terasa sangat mencekam. Rasa takut tiba-tiba menyergap. Tak ada sedikitpun senyum, bahkan beberapa tetes air mata mulai menghiasi pipi. Semua santri berkumpul di ruang tengah untuk meminum susu dan vitamin. Meskipun hal tersebut tidak akan menjamin kita bisa sehat seketika, akan tetapi kita tetap berharap setidaknya dengan ini, kekhawatiran kami sedikit berkurang. Dan untuk menutupi rasa gugup, tak lupa kita juga menyalakan video sholawat Al Batul yang dilantunkan oleh Umi Hana di YouTube dengan volume yang sangat keras sambil menirukannya.

Tak lama kemudian, petugas kesehatan yang terdiri dari seorang dokter serta beberapa asistennya telah tiba dan langsung bersiap untuk melakukan screening.

“Ayo sekarang semuanya bersiap ya, buat barisan, screening udah mau dimulai, masuknya satu persatu ya, gantian” Ucap Ninis selaku senior yang menginstruksi para santri agar segera bersiap.

“Siap mbak, jangan lupa berdo’a dulu ya mbak-mbak” ucap Yusro yang siap menjadi orang pertama yang akan diperiksa.

Semua santri pun berbaris dan secara bergantian di periksa dokter. Seusai pemeriksaan, satu persatu santri keluar dari ruangan dengan tangis yang tak lagi bisa ditahan. Tentu saja kami saling menguatkan, bersama-sama membagun ekspektasi bahwa semuanya akan baik-baik saja, dan ini semua hanyalah mimpi buruk yang sebentar lagi akan berakhir saat kita membuka mata. Tak lama kemudian, dokter memberitahukan hasil pemeriksaan pada pengasuh pondok, bahwasannya 9 dari 25 santri dinyatakan reaktif covid-19. Suara isak tangis para santri semakin terdengar keras. Kami semua terkejut dengan kenyataan bahwa ujian yang di berikan Allah SWT kali ini memiliki tingkat kesulitan di atas rata-rata, dan telah berhasil membubarkan ekspektasi yang telah kita bangun setinggi mungkin.

Saat itu juga pengasuh pondok Darun Niswah membuat kebijakan bahwasannya tempat tinggal santri harus dipisah. Santri yang dinyatakan reaktif akan melakukan isolasi mandiri dengan tetap tinggal di pesantren, sedangkan yang dinyatakan non-reaktif akan dialihkan untuk isolasi mandiri dengan tinggal bersama pengasuh di rumahnya. Semuanya berubah dalam satu kali kedipan mata. Jarak memang memisahkan, tapi barisan do’a kita tetap sama, semoga semua lekas membaik seperti semula.

Hari demi hari kita lalui dengan harapan yang memenuhi fikiran, do’a yang tak henti diucapkan, dan tak lupa senyuman sebagai penutup air mata yang tak henti bercucuran. Berlaga baik-baik saja ditengah keadaan yang tak baik-baik saja ternyata sangat melelahkan. Seringkali kita menghela nafas dan berkata “ah sudahlah”. Meskipun jarak memisahkan, bukan berarti kami tak dapat berbagi harapan. Setiap hari kami tetap saling berkabar, meskipun sekedar menanyakan, hari ini makan apa? apa mau dikirimin makanan? sudah minum susu? vitamin? madu? Jamu? Eh hari ini cerah loh, jangan lupa berjemur ya! jangan banyak begadang, istirahat yang cukup! dan yang paling penting, jangan lupa jaga kesehatan hati, bahagia selalu!

Keadaan ini benar-benar membuat kita merasa berada di titik terendah. Disaat inilah kita dapat melihat semuanya dengan jelas. Siapa saja yang selalu siap memberikan bahunya untuk kita, mengulurkan tangan saat kita terjatuh, dan menyebut nama kita saat menengadah merapalkan do’a. Ketika dunia tampak begitu gelap, ternyata masih banyak orang yang mau membagi cahayanya untuk kita. Bantuan untuk kami tak henti berdatangan. Mulai dari kawan, tetangga, kerabat sampai para asatidz-asatidzah, semuanya ikut membantu. Rasa syukur tak henti menyelimuti hati, beribu terimakasih pun tak henti kami ucapkan.

Sudah berhari-hari kami melewati rute perjalanan yang sama, beranjak dari atas kasur, kemudian ke kamar mandi, dan memasak makanan di dapur. Jangan bertanya apakah kita bosan atau tidak. Kami sampai kehabisan ide untuk menghibur diri, mulai dari membaca buku, berbalas chat, scroll Instagram, streaming YouTube, mengkhatamkan drama series, sampai duduk dengan hanya menatap langit dari jendela pun sudah dilakukan.

“Woaaaaaah, wooooooy, huaaaaaaa” Tiba-tiba Ussy berteriak dengan nada putus asa sambil berdiri di tengah pintu.

Sakjane awakmu iki nyapo toh yo?” Tanya Rara yang kesal dengan suara teriakan Ussy karena mengganggu konsentrasinya mengerjakan tugas.

“Aku bosen banget, huhuhu” Jawab Ussy.

“Capek ya? sama aku juga haha” Sahut Sabil dari kejauhan.

Gek maeng aku nyawang tekan jendelo, akeh bocil tumbas ice cream ndek toko ngarep ikuloh, mbarai aku pingin,  metu rono oleh to ora yo?” Ussy bercerita dengan ekspresi wajah memelas.

Ngiwir ae, buang sampah metu gerbang ae wes untung-untungan” Jawab Rara menanggapi cerita Ussy

“Iyo ya, buang sampah tok ae rasane koyok jalan ndek pantai” Sabil kembali menyahut.

Gwaenchanaaa, saiki H-5 kan yo, sitik maneh, yo iso yoooo!” Teriak Ussy sekali lagi.

Hari-hari selanjutnya kami habiskan dengan berusaha menumbuhkan rasa optimis. Dan seiring berjalannya waktu, rasa persaudaraan diantara kami pun terasa lebih erat. 14 hari bersama mengajarkan kita bagaimana cara untuk saling memahami, memberikan perhatian dan percaya bahwa semua permasalahan pasti akan berakhir. Tak masalah untuk terjatuh, asalkan kita mau untuk berusaha bangkit dan mulai untuk melangkah kembali.

Gwaenchanaa, it’s okay to be not okay, terus berikhtiar dan tawakkal. Biidznillah, semua akan baik-baik saja. So stay safe and health everyone!

 

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar