Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

PENYAIR TERKENAL PADA MASA UMAYYAH (AL-FARAZDAQ, AL-AKHTAL DAN JARIR)

https://www.instagram.com/p/CCfvgHYHICC/?igshid=1lscze2xlrswc

Oleh: Izzat Imaniya

Al-Farazdaq, Al-Akhtal dan Jarir adalah penyair terkenal pada masa Umayyah. Mereka hidup pada masa yang sama, akan tetapi mereka sering saling mencaci maki. Cacian dan makian sering kali mereka ungkapkan dalam puisi-puisi karyanya. Berikut akan dijelaskan sedikit biografi mengenai tiga tokoh tersebut beserta puisi-puisinya, di antaranya:

Pertama, Al-Farazdaq. Al-Farazdaq memiliki nama lengkap yakni Abu Firas bin Gholib, ia lahir di daerah daerah yang dekat dengan Bashrah pada ujung pemerintahan Umar bin Khattab yakni Yamamah (Arab Timur). Al-Farazdaq berasal dari suku Mudjasyi dari Bani Tamim, lahir pada tahun 19 H dan wafat pada tahun 110 H. Ia tumbuh besar ditengah kasih sayang keluarga yang terdidik dan mulia, hal ini dapaat dibuktikan dari puisi-puisi karyanya. Puisi-puisi karya Al-Farazdaq memilki makna yang sangat dalam. Ia sangat pandai dalam menguntai uangkapan-ungkapan yang indah, sangat teliti dalam memilih diksi sehingga menjadi unik. Bagaimana tidak? Al-Farazdaq yang memiliki nama asli Abu Firas bin Gholib sudah menyelami dunia puisi dari kecil. Sehingga para ahli sastra dan bahasa memberikan pujian kepada Al-Farazdaq dengan mengutarakan sebuah ungkapan yang berbunyi:

“Kalau bukan karena puisi Al-Farazdaq maka akan hilanglah sepertiga bahasa Arab”

Puisi Al-Farzdaq yang dilontarkan kepada suku Jarir yang menggambarkan kehinaannya

ولو ترمى بلؤم بنى كليب # نجوم الليل وما وضحت لسار

ولو يرمى بلؤمهم نهار # لدنس لؤمهم وضح النهار

وما يغو عزيز بني كليب # ليطلب حاجة إلا بحار

Walaupun gemintang malam dilempar dengan kehinaan Bani Kulaib, tidaklah bintang itu menjadi gelap sementara kehinaan mereka tetap berlalu.

Walaupun siang dilempar dengan kehinaan mereka, siang tetaplah terang sedang kehinaan mereka semakin terjadi.

Dan tidaklah tetua Bani Kulaib berpergian kecuali untuk meminta kebutuhannya pada tetangga

Kedua, Al-Akhtal. Al-Akhtal memiliki nama lengkap Abu Malik Giyats al-Akhtal bin Ghauts al-Tsaghlabi al-Nasrani. Ia lahir pada tahun 20 H disebuah daerah Utara Siria tepatnya yakni Hirah (Sergiopolis) dan wafat pada tahun 92 H. Sangat berbeda dengan Al-Farzdaq yang hidup ditenagn keluarga terpendidik dan mulia, Al-Akhtal hidup bersama ibu tirinya dan dirawat dengan tidak baik. Sehingga wajar saja sejak kecil ia sudah mengenal khamr . bakatnya dalam syair sudah tampak sejak kecil, begitu juga ketika besar. Puisi Al-Akhtal sangat mudah dipahami, dan ia terkenal sebagai penyair yang sering memenangkan pertandingan puisi ejekan, akan tetapi ia juga terkenal dengan pujian kepada Bani Umayyah yang ia utarakan melalui puisi-puisinya. Sekalipun begitu, ia sering meminta agar puisinya dikritik sehingga bisa menjadi puisi yang lebih baik, halus dan dapat berkembang di kaumnya Bani Tsaghlab.

Puisi Al-Akhtal saat menyerang Jarir

وكنت إذا لقيت عبيد تيم # وتيما قلت: أيهم العبيد؟

لئيم العالمين يسود تبما # وسيدهم وإن كرهوا مسود

Bila anda bertemu budak belian dan sahayanya, anda akan bertanya; manakah yang budak belian?.

Orang yang memimpin para budak adalah yang paling hina di alam semesta, bagaimanpun juga, walaupun mereka membenci menyebutnya, mereka tetaplah budak (yang diperintah).

Ketiga, Jarir. Jarir memiliki nama lengkap Jarir bin Atiyyah bin Khahfy. Ia lahir pada tahun 30 H dilingkungan penyair pada masa pemerintahan Utsman bin Affan, tepatnya di daerah Yamamah dan meninggal pada tahun 110 H. Ia lahir dari keluarga miskin ditengah lingkungan masyarakat Badui. Keahliannya dalam syair sudah tampak sejak kecil, saat itu mengalahkan penyair dari kaumnya yang merendahkan keluarganya. Puisi jarir sangat berbeda denga Al-Farzdaq yang berat dan memilki makna yang dalam. Puisi jarir sangat ringan dengan diksi yang indah dan enak untuk didengar.

Puisi Jarir yang dilontarkan kepada Al-Farazdaq yakni dengan cara membalikkan fakta.

زعم الفرزدق أن سيقتل مربعا # أبشر بطول سلامة يا مربع

Al-Farazdaq mengira dirinya akan mati (dalam kondisi terpotong empat). Hai orang yang terpotong empat berbahagiakah engkau dengan keselamatanmu.

Puisi Jarir saat membalas ejekan Al-Akhtal.

فلو أن تغلب جمعت أحلامها # يوم التفاضل لم تزن مثقالا

تلقاهم حلمتء عن أعدائهم # و على الصديق تراهم جهالا

لا تطلبن خؤولة في تغلب # فالزنج أكرم منهم أخوالا

Walaupun suku Taghlib mengumpulkan mimpi-mimpi dihari perlombaa, niscaya tidak akan bisa ditimbang berat.

Kamu akan mendapatkan mereka begitu lembut terhadap musuh-musuhnya, dan pada orang yang jujur mereka tampak sangat bodoh.

Janganlah kalian meminta kekerabatan pada suku Taghlib, karena orang hitam berbangsa Sudan lebih mulia daripada mereka.

 

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar