Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

MY MEMORIES 1





Oleh: Hilmi Gholi Hibatulloh


Derai hujan kembali mengguyur desa tempatku tinggal malam ini. Aku duduk termenung ditepi tempat tidur sambil memainkan handphone. Bingung, hanya membuka dan menutup beberapa aplikasi yang tersedia di dalamnya. Pikiranku kosong, satu demi satu aplikasi kubuka. Mulai dari mendengarkan music, bermain game, dan beberapa aplikasi yang lain, akan tetapi tak dapat menghilangkan kebosananku. Suara hujan diluar rumah tampak semakin mengecil, pertanda hujan akan segera reda dan suasana terasa semakin sunyi. Tidak lama hujan pun reda, sejenak kualihkan pandanganku keluar rumah. Gelap, hanya tampak sedikit sinar bulan yang mulai menyeruak dari balik kumpulan awan. Berbagai macam suara serangga dan katak membuyarkan lamunanku. Aku kembali menatap layar handphone dan membuka beberapa aplikasi yang tersisa. Tak lama aku sedikit linglung menatap kumpulan foto yang tersimpan dalam galeri. Aku membuka salah satu foto yang menampakan diriku dan adik sepupuku. Pikiranku pun kembali ke masa itu, ketika aku masih bisa mengobrol, bercanda, dan merasakan kehadiranmu dalam hidupku. Berbagai kejadian mulai berputar-putar dan membawaku kembali ke masa lalu.

“Ghoul..! ayo berangkat udah jam setengah tujuh nih” teriak ucil (kakak sepupuku) dari luar rumah yang sedari tadi sudah menungguku bersiap-siap.

 “Iya bentar, ini lagi pakai baju” sambil berjalan keluar rumah. Kulihat Ucil duduk di motornya sudah siap untuk berangkat. 

“Bentar Cil, aku ajak Fadil” sembari berjalan menuju rumah Fadil. Aku mengetuk pintu rumah Fadil dan memanggilnya. Selang tak lama pintu rumah yang aku ketok tadi terbuka. Tampak sosok Fadil dengan rambut acak-acakan dan mata sayu, tampak sekali dia baru bangun  tidur. 

“Dil ikut gak ke pantai?”

“Inginnya sih ikut, tapi entar adikku nangis kalo ditinggal sendiri dan aku bakalan kena omel ibu” dengan wajah yang tak bersemangat. 

“Yahh…gak seru dong kalo kamu gak ikut” sambil menghela nafas, kecewa dengan jawaban Fadil. 

“Yah gimana lagi, lain kali aja dah” dengan muka sedikit memelas.

 “Yaudah aku berangkat dulu ya” sembari berjalan menuju Ucil yang sedang menunggu di depan rumah.

“Gimana Ghoul? Nggak ikut si Fadil?”

“Gak ikut dia, suruh jagain adiknya” Aku menaiki motor.

“Coba ajak yang lain, pada mau gak?”

“Bentar coba aku telephone dulu” Aku mulai menghubungi beberapa teman, alhasil mereka semua sedang ada kesibukan dan tidak bisa ikut.

“Pada gak bisa Cil, lagi sibuk semua” Aku memasukan hp kedalam tas.

“Gak rame dong” Ucil mulai menyalakan motornya.

“Gak papa dah, gas Kecil biar gak kesiangan, Ya kali mau dibatalin dah siap gini”

“Ok dah” mulai menancap gas.

Perjalanan cukup jauh kami lalui. Mulai jalanan kota yang beraspal mulus sampai jalanan berbatu di pedalaman desa kami terjang. Tujuan kami adalah sebuah pantai yang jarang atau hampir bisa dikatakan tak pernah dikunjungi oleh orang-orang. Alasanku memilih tempat tersebut agar mendapat suasana yang nyaman dan jauh dari keramaian. Selang beberapa jam akhirnya kami sampai ditempat tujuan. Tak banyak hal yang aku lakukan karena hanya berdua dengan si Ucil. Mengambil beberapa foto untuk koleksi. Selang beberapa waktu kami memutuskan untuk pulang, karena tidak seru sama sekali jika berlibur dengan sedikit orang. Sebelum pulang aku menelpon si Fadil dan teman-teman yang lain.

“Dil lain kali ikut ya, gak seru nih” Aku menaiki motor.

“Sorry Ghol, lain kali aku pasti ikut” dengan suara memelas.

“Okok, dah ya aku mau balik nih”

“Hati-hati ghoul” Fadil mengakhiri panggilannya.

“Siap boss” teriakku dan Ucil melalui hp.

Ucil mulai menancap gas motor yang kami gunakan. Cukup lama perjalanan kami pulang, karena terjebak macet di tengah kota. Sesampainya dirumah aku langsung mandi dan istirahat guna menghilangkan penat setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh. Pagi harinya aku menghampiri Fadil dan memberitahunya tujuan selanjutnya perjalanan kami. Tapi siapa yang tahu masa depan akan menjadi seperti apa.


Bersambung…





Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar