Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

MENULIS SEBAGAI ESTAFET DAKWAH ULAMA TERDAHULU


Oleh: Astri Liyana Nurmalasari

Literasi telah digaung-gaungkan sebagai upaya dalam melahirkan peradaban ilmu pengetahuan di dunia. Namun, permasalahan yang masih menjadi penyakit akut dalam tubuh generasi bangsa Indonesia adalah minimnya budaya literasi (baca-tulis). Sehingga tidak heran, jika budaya literasi terus menjadi topik yang segar untuk diperbincangkan, khususnya dalam hal menulis. 

Begitu pentingnya menulis, hingga seorang ulama terkemuka dalam Islam, Imam al-Ghazali mengatakan bahwa, “Apabila engkau bukan anak seorang raja dan bukan pula anak ulama’ besar, maka jadilah penulis”. Dalam kalimat ini, dapat kita ketahui bahwa untuk menjadi orang yang akan dikenang ketika meninggal kelak, maka harus membuat sebuah perubahan yang menjadikan dirinya dapat dikenang. 

Misalnya, orang kaya dikenang karena kedermawanannya. Para peneliti, ulama, dikenang karena kontribusinya dalam memberikan ilmu pengetahuan. Pahlawan dikenang karena jasanya. Lantas, bagaimana dengan orang yang tidak memiliki semua itu? Bukan orang kaya, bukan ulama, bukan pula pahlawan, apa yang dikenang? Di sinilah pentingnya menulis. Karena menulis merupakan karya yang tidak pernah mati, dan akan terkenang sepanjang masa.

Jamil Azzani dalam bukunya yang berjudul “ON” mengatakan bahwa “membacalah jika engkau ingin mengetahui dunia dan menulislah jika ingin diketahui dunia”. Namun, menulis tidak semata-mata agar dikenang oleh dunia, melainkan memberikan sumbangsih terhadap ilmu pengetahuan untuk generasi masa depan kelak. Hal ini telah terbukti, khususnya di pesantren-pesantren nusantara yang mengkaji kitab-kitab klasik karangan ulama-ulama terdahulu. Pengarang kitab klasik tersebut telah meninggal dunia puluhan tahun lalu, namun kitab-kitabnya masih dikaji hingga kini. 

Oleh sebab itu, pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam telah terbukti sebagai lembaga yang berhasil melestarikan budaya literasi klasik. Hampir di setiap pesantren yang ada di nusantara  menggunakan kitab-kitab klasik sebagai kajian utamanya. Tidak sedikit ulama dan santrinya mampu membaca kitab-kitab klasik yang tidak berharakat atau yang biasa disebut sebagai kitab gundul. 

Banyak ulama dan santrinya yang mampu membaca serta menafsirkan kitab-kitab klasik, tetapi lain halnya dengan menulis. Pemuka agama yang menorehkan dakwah dan pemikirannya melalui tulisan masih sangat minim. Mengapa harus ditorehkan lewat tulisan? Sebab, apabila sang pemuka agama meninggal dunia, maka pemikiran dan dakwahnya akan sulit ditemukan, sehingga hal tersebut akan berimbas pada generasi setelahnya. Inilah yang menjadi tantangan pesantren-pesantren nusantara saat ini. 

Ulama-ulama terdahulu menorehkan pemikiran dan pendapatnya melalui tulisan, sehingga dapat dipelajari kembali oleh generasi setelahnya secara turun temurun. Sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Imam Syafi’i, Imam Hambali, Imam Maliki, Syikh Nawawi, Imam al-Ghazali, dan lain sebagainya. meskipun pengarangnya telah tiada, karya-karya mereka masih digunakan oleh masyarakat dari berbagai kalangan, baik akademisi maupun non-akademisi. 

Berdasarkan fakta tersebut, ulama-ulama saat ini hendaklah melakukan hal serupa. Selain untuk meneruskan estafet dakwah ulama terdahulu, hal tersebut juga dimaksudkan agar para ulama mampu mengatasi permasalahan yang semakin kompleks dan beragam seiring perkembangan zaman. Contohnya seperti permasalahan politik, ekonomi, bahkan industri yang pada dahulunya tidak ditemukan dasar hukumnya atau tidak ada kasus yang serupa. Pada titik inilah pendapat dan pemikiran para ulama dibutuhkan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut dengan hukum Islam secara tertulis dan dapat dijadikan sumber rujukan untuk generasi setelahnya. 

Dengan demikian, untuk mencetak kader-kader ulama masa depan yang mampu membaca dan menulis dengan baik, perlu kiranya pesantren memberikan sarana, prasarana, juga stimulus untuk para penerus ulama (santri) dalam menumbuhkan budaya literasi dalam dirinya. Sehingga, dakwah yang dilakukan tidak hanya secara lisan, tetapi juga tulisan.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar