Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

MENIKAM KACAU


Oleh: Ilman Mahbubillah


Aku ingin menjumpa lupa;
Merawat puisi-puisi yang kosong dan hampa
Menjadi pandangan seorang yang buta
Menyelami lautan nestapa dengan sandiwara
Menelanjangi hati yang sekalipun tak terlintas rasa

Aku ingin menjumpa lupa;
Di setiap kata jumpa yang kamu ucapkan
Pada jeda nafas yang keluar karena dipaksakan
Di paksa jadi antagonisnya kehidupan oleh dalang bernama ketulusan
Serupa pundak ternyaman dalam menganyam gundah kegelisahan

Aku ingin menjumpa lupa;
Entah, sudah berapa kopi yang pahitnya masih tak kupahami
Seolah membangunkan kita dari mimpi untuk merasakan sakit lagi
“Dukamu Abadi” begituah kata Sapardi, menghabiskan waktu dan menikmati sunyi
Arunika yang makin menjadi dengan siluet yang tak lagi berapi

Aku ingin menjumpa lupa;
Berada di gubuk wasangka lalu menikam luka dengan segala prasangka
Apakah setiap yang terluka, wajahnya tak lagi bisa bermuara nan bercahaya?
Barangkali menundukkan mata adalah obat perpisahan bagi kita
Untuk tak lagi menatap duka, karena tak tahu berapa lama mesiu bertahan dalam dada

Aku ingin menjumpa lupa;
Menghitung mundur arloji penderitaan dengan ucapan bibir yang lembam
Yang fana adalah waktu, yang abadi adalah perasaanku. Gerutuku geram
Mungkin cintaku gagal dan menjadikan sempurna kasihmu terendap tenggelam
Kacau mataku, kelam rasaku, kutikam! Kemudian kusimpan rapi pada puing-puing malam

Aku ingin menjumpa lupa;
Namun aku tak bisa


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar