Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

MENDENGAR, MENDENGAR DAN MENGEVALUASI


Oleh: Baedt Giri Mukhoddam 


Dalam mempelajari sebuah bahasa, pastinya akan tidak akan asing dengan istilah-istilah kemahiran, maharah, grammar dan lain sebagaimya. Para guru guru kita pasti akan membuat para muridnya untuk menjadi handal, dan bukan hanya bisa mengutarakan pelajaran bahasa tersebut dengan kemampuan yang biasa. Pelajaran kemahiran dalam berbahasa sudah kita temui mulai pertama kali mempelajari sesuatu semenjak kita lahir, yang guru pertamanya adalah orang tua kita sendiri. Jika kita hitung dengan waktu yang kita pelajari hanya untuk kemahiran bahasa saja membutuhkan waktu yang sangat panajng, mulai kita dari bayi dilanjut dengan taman kanak-kanak hingga sd, sma, sampai dengan kuliah. bahkan masih banyak yang belum sempurna dengan kebahasaan yang ia pelajari dalam beberapa tahun tersebut. 
Jika kalian tahu, pelajaran bahasa yang paling awal adalah mendengar. Ketika kita masih bayi para orang tua pasti menuntun bayinya dengan suara yang diucapkan kemudian diarahkan kepada tujuan yang diucapkan orang tua tersebut, kemudian sang bayi menerima komando tersebut selanjutnya mencerna perintah tersebut dengan otak si bayi dengan begitu menguraikan nya dengan perbuatan. 
Metode pengajaran yang bersifat ucapan yang kemudian didengar oleh muridnya itu adalah metode pengajaran yang paling efektif, dan pastinya disertai dengan metode-metode pendukung yang lain untuk menyempurnakan metode pengajaran tersebut. Dilihat dari murid yang mendapat materi dari penjelasan voice note dengan murid ketika mendapat materi hanya dari bacaan bandingan nya adalah anatara tiga banding lima. Ketika sang murid mendapat materi pelajarannya dengan memakai voice note ia akan paham meteri tersebut hanya dengan 2 hingga tiga kali dengar, berbalik dengan ketika si murid mendapat materi pelajarannya hanya dari bacaan. 
Selain itu dengan mendengar seseorang akan lebih mencerna pesan pesan yang diutarakan oleh sang pengantar pesan. Dengan begitu tidak heran para ustadz lebih digemari oleh makmum ketika menyampaikan tausiah dan ceramah. Berita dalam internat memang telah tersebar luas akan tetapi orang lebih suka mendengar berita yang diucapkan oleh orang orang melalui mulut ke mulut. 
Terlepas dari itu, mendengar adalah sebuah metode yang bagus ketika ingin melakukan evaluasi, atau lebih tepatnya untuk mengevaluasi sendiri. Karena setiap orang pasti memiliki sudut pandang masing-masing atas kelakuan atau keputusan yang kita perbuat. Termasuk salah satu cara agar kita mendapat evaluasi yang akurat adalah mendengar langsung keluhan dari orang terdekat yang ada disekitar kita, kemudian meminta mereka untuk mengevaluasi kita dengan sedetail mungkin. Tetapi akan lebih akurat ketika kita mendengar langsung obrolan orang orang terdekat kita sedang membicarakan perihal kita terhadap orang lain. 
Kemudian langkah berikutnya adalah mempelajari apa yang telah didengar oleh orang orang terdekat tersebut. Yaitu mengolah pikiran kita dengan mencerna pendapat dari orang sekitar kita. Contoh saja ketika kita memutuskan untuk meliburkan kegiatan belajar mengajar pada hari sabtu, kemudian ada seseorang yang memberikan usulan agar mengganti hari libur pada hari jum’at, agar memudahkan para laki-laki ketika menunaikan ibadah sholat jum’at. Maka sikap yang kita ambil adalah dengan mempertimbangkan pendapat tersebut. Dan sikap yang tidak dianjurkan adalah menolak mentah-mentah bahkan mencerca ketika seseorang memberikan pendapatnya, disamping itu menyakiti hati seseorang tersebut dan juga mengendurkan tali silaturahmi. Karena dikatakan dalam hadis “menyakiti hati seorang muslim itu lebih buruk dari menghancurkan kakbah 10 kali” betapa mulianya harga dari seorang muslim. 
Maka dari itu mendengar untuk mengevaluasi adalah sesuatu yang sangat penting bagi masalah pribadi maupun sosial. Maka ketika masalah ini tidak diperhatikan dengan serius, yang menerima dampak nya bukan anda sendiri tapi juga orang lain. Lingkungan beragama juga akan lebih baik jika bisa saling bertukar pendapat membangun hubungan yang rukun, dan kemudian menjadikan lingkungan beragama yang sehat, dan meneladani ajaran rasulullah terapkan ketika beliau hidup dalam lingkungan yang memiliki agama yang beragam. 


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar