Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

LEMARI KU MERONTA-RONTA

pinterest.id


Oleh : Hany Zahrah


Waktu terus berjalan begitupun dengan trend fashion yang tak mau kalah mengikuti zaman. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki berganti model dari masa ke masa. Tak pernah puas dengan apa yang sudah ada, begitulah wanita. Ingin selalu tampil menarik walaupun tak pernah dilirik. Berpenampilan unik bak manekin yang dipajang di sudut toko.

    Gadis itu bernama Rara, perangainya cantik nan lembut. Ia adalah putri tunggal kepala desa. Walaupun tinggal di desa ia selalu update dan tak kenal kudet. Hidup serba berkecukupan. Mengoleksi barang adalah hobinya. Design and packaging yang menarik seolah telah membius matanya. Lagi-lagi hasrat untuk membeli barang itu pun tak bisa dikendalikan.

“Astaghfirullahh, udahh raa cukup jangan belanja terus” (ucapnya). 

    Menahan hasrat adalah perihal yang sulit ia kendalikan. Melihat lemari nya saja seperti ingin meledak. Full dengan baju dan barang lainnya. Seketika teringat dengan sebuah pesan postingan di akun social media bahwa “semua barang yang kita miliki pasti akan dihisab, akan ditanyai sudah digunakan untuk apa dan kemana saja”. Kiayi di pondok nya pun pernah berpesan : “Jika beli baju/barang baru itu baiknya digunakan untuk hal yang baik, misalnya langsung di pakai sholat/ibadah, supaya kalo ditanya baju/barang itu akan menjadi saksi bahwa ia pernah dipakai untuk suatu hal yang baik”. 

    Mulai dari situlah, Rara mencoba mengontrol dirinya untuk mengurangi hobinya itu. “Ya meskipun masih suka khilaf sih, haha...” (ucapnya). Yang biasanya belanja seminggu 4x, mencoba untuk istiqomah menahan hasrat. Agak dikurangi sedikit menjadi seminggu 3x. 

    Hari ini adalah uji coba hari pertamanya, tiba-tiba ada notification masuk di ponselnya.

*WIB (WAKTU INDONESIA BELANJA)

“Aduhhh.... nanti malem diskon gede-gedean di PiShopp, tas lucuuuuu diskon 90%, baju limited edition diskon 75%, astagaaaaa, ngga kuadddddddddd” (geramnya).

“Astaghfirullah… tahan ra, tahann, bulan depan aja belinya” (ucapnya untuk menenangkan diri)

Mata nya terpejam dengan sangat cepat, berusaha untuk melupakan apa yang ia pikirkan, nyatanya hanya raga yang istirahat, diskon itu seolah memenuhi memory nya

*Asholatu Khairum minan naum....

“hoammmmm (menguap)... udahh subuhhhh, lanjut tidur ah, lagi haid ini(ucapnya sambil mengantuk)

    Rasanya malam itu berlalu dengan sangat berat, Raga nya istirahat namun pikirannya terngiang-ngiang diskon gede-gedean PiShopp. 

    Gema adzan berkumandang, menandakan sudah pagi. Pagi sendu dengan cuaca dingin seolah menjadi magnet untuknya berlama-lama di kasur. Hari ini adalah hari jumat, menandakan awal menuju weekend pun sudah dekat. Jumat adalah hari favoritnya dimana iya bisa pergi me time setelah 4 hari sebelumnya tempur di medan perkuliahan. Kepala rasanya ingin meledak seolah semua materi harus dilahapnya setiap hari, belum lagi deadline yang tak kenal waktu.

    Eittss.. pekan ini adalah me time yang berbeda dari minggu-minggu sebelumnya, karena biasanya Rara menghabiskan waktu keliling Mall yang berada di kota seberang desanya. Menghabiskan uang untuk berbelanja barang-barang yang lucu. Namun, Ia harus menahan diri demi menghilangkan kebiasaan buruknya ini. Tiba-tiba... cobaan itu datang.

Teng nong...

Teng nong ...

Teng nongg....

“Ra.. Raraaaa.. bukain pintu dongg, gue depan rumah lo nihh” (Ucap Yaya si gadis Jakarta)

“Iyaa bentar...” (ucap rara)

*Ceklek (suara pintu di buka)

“Ya ampun yaya, ngapain sii pagi-pagi buta kamu kesini, ngga ada kerjaan aja” (kesal rara)

“ihhh kan lo udh janji, hari ini kita mau ke butik depan kantor kepala desa itu loh yang baru buka, lo tau kann disana ada diskon gede-gedean, tempatnya juga instagramable banget buat foto, ayolahhhhh..... sekarang cepetan siap-siap, biar ngga keabisan diskonnya” (ucap yaya sambil mendorong rara untuk segera bersiap).

“Astaghfirullah, cobaan macam apa lagi iniii, tolong hamba ya Rabb” (celoteh rara).

*Mendengar celoteh rara, yaya hanya tersenyum kecil.

    Ternyata tidur bukanlah jalan keluar untuk masalahnya ini, setidaknya Rara berhasil menahan hasratnya walaupun hanya bertahan beberapa jam saja. Mungkin lain kali Ia harus mencoba hal baru yang lebih ampuh.

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar