Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

KISAH IMAM JA’FAR ASH-SHADIQ DENGAN ABU HANIFAH


Oleh: Mutiara Rizqy Amalia

Terdapat cerita yang dinukil dari berbagai kitab, di antaranya karya Abu Nu’aim al-Ashbahani dalam Hilyatul Auliya’, karya Ahmad Syihabuddin al-Qalyubi dalam an-Nawadir, dan buku karya Muchlis M. Hanafi yang berjudul Imam Ja’far ash-Shadiq.

Amru bin Jami’ berkata: saya sedang bersama Ibnu Abi Ya’la dan Abu Hanifah (Nu’man bin Tsabit) masuk ke ruangan Imam Ja’far ash-Shadiq. Lalu Imam Ja’far ash-Shadiq bertanya kepada Ibnu Abi Ya’la, “Siapa yang membersamaimu ini?”

Ibnu Abi Ya’la menjawab, “ini adalah seorang laiki-lai yang berpandangan luas dan tajam dalam agama.”

Imam Ja’far ash-Shadiq berkata, “Mungkin saja orang yang suka menganalogikan agama dengan akalnya.”

Ibnu Abi Ya’la menjawab, “benar.”

Lalu Imam Ja’far ash-Shadiq bertanya kepada Abu Hanifah, “siapa namamu?.”

Abu Hanifah menjawab, “Nu’man.”

Imam Ja’far ash-Shadiq berkata, “wahai Nu’man, apakah Engkau sudah menganalogikan akalmu sendiri?”

Abu Hanifah bertanya balik, “bagaimana saya menganalogikan akal saya sendiri?”

Imam Ja’far ash-Shadiq berkata, “Tahukah Engkau perkataan yang bagian awalnya kufur dan bagian akhirnya iman?”

Ibnu Abi Ya’la berkata, “Wahai Putra Rasulullah Saw, beritahukanlah kepada kami perkataan yang bagian awalnya kufur dan bagian akhirnya iman itu.”

Imam Ja’far ash-Shadiq menjawab, “Apabila seorang hamba mengatakan laa ilaaha (tidak ada Tuhan), maka ia telah kufur, apabila ia melanjutkan illallah (selain Allahh Swt), maka ia telah beriman.”

Lalu Imam Ja’far ash-Shadiq mendekati Abu Hanifah dan berkata, “Wahai Nu’man, bapakku telah memberitahukan padaku, dari kakekku bahwa Rasulullah Saw berkata: ‘Makhluk yang pertama kali menganalogikan agama dengan akalnya adalah iblis. Ketika Allah Swy berfirman kepadanya, ‘Bersujudlah kamu kepada Adam.’ Dia menjawab, ‘aku lebih baik darinya (Adam), Engkau menciptakanku dari api, Adam Engkau ciptakan dari tanah.’ (QS. AL-A’raf: 12). Maka siapa yang menganalogikan agama dengan akalnya, kelal pada hari akhir Allah Swt akan mendampingkannya dengan iblis, karena telah menjadi pengikutnya.”

Kemudian Imam Ja’far ash-Shadiq melanjutkan pertanyaannya, “mana yang lebih besar dosanya, membunuh atau berzina?”

Abu Hanifah menjawab, “membunuh orang, kejahatannya lebih besar.”

Imam Ja’far ash-Shadiq berkata, “namun jelas dalam pembuktian pembunuhan, Allah Swt menerima dua saksi laki-laki sedangkan perkara zina Allah Swt mengharuskan empat saksi laki-laki.”

Imam Ja’far ash-Shadiq melanjutkan, “mana yang lebih agung, shalat atau puasa?”

Abu Hanifah menjawab, “tentu shalat lebih agung.”

Imam Ja’far ash-Shadiq lantas menjawab, “bagaimana halnya dengan perempuan haid harus mengganti puasa Ramadhab yang ditinggalkannya, namun harus mengganti shalat yang ditinggalkan? Lantas, bagaimana analogimu bisa diterapkan? Takutlah kepada Allah Swt, dan janganlah sekali-kali engkau menganalogikan agama dengan akalmu.”

Dari seklumit kisah di atas, kita dapat mengetahui bahwa sebagai seorang hamba hendaknya selalu berusaha beragama dengan akal, bukan mengakali agama. Sejatinya tiada kepantasan dalam sikap berlebihan dan melampaui batas terhadap pemahaman dan keyakinannya sendiri, tanpa fondasi kerendahan hati,  tawadhu di hadapan Allah Swt juga ayatNya dan kepada sesama makhluk, maka yang terjadi hanyalah pertikaian ataupun permusuhan.

 

 

Dinukil dari karya Edi AH Iyubenu yang berjudul “Sesaudara dalam Iman, Sesaudara dalam Kemanusiaan.”

 


ondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar