Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

KETABAHAN SANG IMAM SYAFI’I MENGHADAPI UJIAN DAN FITNAH (2)

https://assajidin.com/16-pesan-indah-imam-syafii/


Oleh: Siti Laila ‘Ainur  Rohmah

 

[lanjutan judul ke-1]

Meski Imam Syafi’i dalam posisi terancam karena menjadi tawanan  raja Harun Ar-rasyid, beliau tetap tenang menghadapi sang raja dengan menyebutkan firman Allah SWT sebagai landasan argumennya.

“Sekarang!, apa pembelaanmu? setelah jelas-jelas Abdullah bin Hasan terbukti sebagai pembangkang dan pemberontak, lalu diikuti orang-orang hina, dan kamu sudah satu dari pemimpin mereka,” bentak raja Harun pada Imam Syafi’i.

“Wahai baginda, bila hamba diperintah untuk bicara, hamba akan berkata jujur di hadapan baginda. Hamba akan menceritakan tentang diri hamba pada baginda dan tetap berlutut dihadapanmu. Namun, hamba mohon pada baginda untuk melepas belenggu yang mengikat tangan dan kaki hamba.”

Kemudian sang raja pun memerintahkan pengawalnya untuk melepas belenggu Imam Syafi’i. Setelah itu, Imam Syafi’i berlutut di hadapan raja dan berkata,” wahai orang-orang yang beriman, bila datang pada kalian orang fasik dengan membawa kabar, maka selidikilah terlebih dahulu. Semoga hamba tidak termasuk orang fasik itu.

Sesungguhnya hamba memiliki dua kewajiban pada baginda, yaitu menjaga kehormatan Islam dan tanggung jawab kekeluargaan. Kedua hal ini yang menjadi bukti bahwa hamba tidak termasuk pembangkang apalagi pemberontak kepada kepemimpinan baginda. Sebenarnya baginda lebih berhak berpegang teguh pada hukum Allah, baginda adalah pembela dan menjaga agama Nabi. di samping baginda putra paman nabi.” Pembelaan sang Imam Syafi’i.

Setelah mendengar pernyataan tersebut, wajah raja Harun berseri-seri dan raja berkata, ”Sungguh kekuatanmu benar-benar sirna, karena aku akan menjaga hak kekeluargaan kita dan keilmuwanmu, sekarang duduklah”, Imam Syafi’i pun duduk bersila. Selanjutnya, raja Harun masih bertanya kepada beliau.:

“Hai Syafi’i, seberapa dalam pengetahuanmu tentang kitab Allah?”

“Yang baginda kehendaki kitab yang mana? karena kitab Allah yang diwahyukan sangat banyak.”

“Yang kukehendaki adalah kitab yang diwahyukan pada putra pamanku, Muhammad.”

“Sungguh ilmu Al-qur’an sangat banyak, kira-kira apa yang ingin baginda ketahui? Apa tentang ayat-ayat muhkam, mutasyabih, takdim, ta’khir atau tentang nasikh mansukh, atau…”

Imam Syafi’i menyebutkan satu persatu ilmu yang berkaitan dengan Al-qur’an, sehingga dari perincin beliau itulah sang raja terkejut sekaligus menimbulkan kekaguman di hati raja dan yang hadir saat itu. Kemudian raja Harun merubah pertanyaannya tentang ilmu falak, kedokteran, dll. Namun, Imam Syafi’i bisa menjawab setiap pertanyaan yang diberikan raja dengan baik sehingga membuat sang raja senang mendengar penjelasannya.

Setelah itu raja pun berkata, “hai Syafi’i, kira-kira nasehat apa yang akan kau berikan kepada rajamu?” lalu Imam Syafi’i pun menasehati raja Harun sampai membuat hatinya tersentuh, sehingga tanpa disadari akhirnya sang raja pun menangis tersedu-sedu. Melihat raja menangis, orang-orang yang hadir ikut berdiri. Namun, Imam Syafi’i menatap mereka dengan tatapan marah, agar beliau menasehati raja sampai selesai.

Setelah mendengarkan nasehat Imam Syafi’i, raja Harun Ar-rasyid membebaskan beliau dari semua tuduhan dan malah memberi beliau hadiah lima puluh dinar. Kemudian Imam Syafi’i mohon diri kepada raja Harun untuk meninggalkan istana.

Di luar istana raja, Imam Syafi’i membagi-bagikan hadiah kepada para prajurit yang menjaga istana. Kemudian beliau berangkat menuju kota Kuffah  untuk menemui gurunya , yaitu santri Imam Abu Hanifah, Imam Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan. Di Kufah, Imam Syafi’i sering diskusi dengan kedua guru beliau dan mulai mendokumentasikan pemikiran-pemikiran serta kajian-kajiannya dalam beberapa kitab yang nantinya di kemudian hari pendapat Imam Syafi’i yang disebutkan dalam kitab tersebut akan dikenal oleh para pengikut madzhab (pemikiran) beliau dengan sebutan qaul qadim (pendapat terdahulu). waallahu a’lam bisshowab.




Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar