Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

KERAMATNYA PONDOK PESANTREN

https://www.google.com/search?q=pondok+tebuireng&safe=strict&sxsrf=ALeKk01JHawruIDn6gAlnNX1MUglxWWdBg:1615513717461&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved


Oleh: Hariski Romadona

Berbicara mengenai pondok pesantren kita tidak akan jauh dari yang namanya santri. Karena merekalah penghuni pondok pesantren. Pondok sendiri diartikan sebagai wisma atau asrama, sedangkan pesantren adalah dari kata santri yang ditambahi awalan “pe” dan akhiran “an” menjadi pesantren.  

Pondok pesantren adalah tempat di mana para santri baik santriwan (santri laki-laki) dan santriwati (santri perempuan) belajar tentang banyak hal. Pesantren tidak hanya mengajarkan tentang kitab kuning, bahasa arab, tetapi yang lebih di utamakan yakni tentang akhlak. KH. Hasyim Asy’ari mengutip dari perkataan Abdullah bin Mubarak dalam kitabnya Adabul “alim Wal Muta’allim  menerangkan bahwa  “Kita lebih membutuhkan adab (meskipun) sedikit dibanding ilmu (meskipun) banyak.” Karena percuma kalau kita pandai membaca kitab kuning dan mahir berbahasa arab tetapi kita suul adab, na’udubillah.

Memang tidak semua santri merasa senang ketika menimba ilmu di pondok. Semua memiliki latar belakang dan alasan masing-masing. Ada yang keinginan sendiri, disuruh orang tua dan punya tanggungan karena seorang ‘’Gus atau Neng ‘’( anak seorang Kyai) yang punya pondok dan ia yang akan menjadi penerus Abahnya kelak. Lucunya, hampir semua santri ketika awal masuk pondok pasti menangis, karena di pondok sangat berbeda dengan di rumah. Apalagi yang biasanya di manja sama orang tuanya. Di pondok kita diajarkan mandiri, pandai memanajemen waktu dan belajar dengan serius. 

Dunia pesantren memang beda dengan dunia pendidikan pada umumnya. Walaupun sekarang banyak pondok pesantren yang telah memasukkan kurikulum pendidikan umum. Dengan tujuan agar para santri tidak ketinggalan tentang pelajaran umum. Namun, pondok pesantren tetap berbeda dengan sekolah pada umum. Di sekolah milik pesantren pasti di masukkan pelajaran agamanya misalnya nahwu, sharaf, kitab kuning, bahasa arab, balaghah dan lain-lain. Dengan begitulah pelajaran agama dan umumnya akan seimbang. 

Kegiatan di pesantren pun sangat tertata tertib dan tertata rapi. Mulai bangun pagi, sholat tahajud dilanjtkan dengan sholat subuh berjamaah, mengaji, sekolah, mengaji dan mengaji lagi. Tetapi semua itu dilakukan dan dikerjakan dengan senang hati. Karena kita melakukanya tidak sendiri, kit bersama sama teman yang beda ibu bapak tetapi terasa seperti saudara sendiri. Namun dibalik itu seua yang terpenting adalah keberkahan ketika mondok. Banyak Kyai yang mengatakan bahwasanya yang terpenting dari pintar adalah barakah. Percuma kalau kita pintar tapi ilmunya tidak barakah. Apa barakah itu ? 

KH. Sya’roni (Mutasyar PBNU) menerangkan bahwasanya barokah adalah (ziyadatul khair). Artinya, setiap waktu semakin bertambah baik. Keramatnya pesantren ya disitu. Banyak cerita santri yang dulunya jarang mengaji dan sekolah karena ia menjadi abdi ndalem (pembantu di rumah kyai) ketika selesai  mondok malah menjadi orang yang sukses. Itulah berkah dari ta’dim, sami’na wa atha’na pada Kyai. 

Almarhum KH. Abdurrahman Wahid atau sering kali disapa dengan Gus Dur mengatakan bahwasnya Keberkahaan Santri itu dapat dilihat ketika sudah pulang dari pondok. Artinya santri dapat dikatakan barokah ilmunya yaitu ketika ia bertambah baik dari segi akhlaknya, ilmunya dan mungkin dipercaya di masyarakat. KH. Abdul Aziz Manshur berpesan “ Santri kala pulang harus jadi paku, yang bisa menyatukan berbagai lapisan masyarakat meski ia sendiri tak terlihat ”.

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar