Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

KEPRIBADIAN IMAM SYAFI'I


Oleh: Baedt Giri Muqoddam Billah

Sudah menjadi kewajiban bagi orang muslim untuk mengetahui asal mula keputusan hukum madzhab syafi’i yang menjadi rujukan utama dari hukum fiqih yang ada di Indonesia ini, dengan bagitu, akan lebih baik bagi kita untuk mengetahui lebih lanjut tentang seluk-beluk kepribadian guru besar kita Imam Syafi’i agar lebih meguatkan kepercayaan kita atas keputusan-keputusan beliau yang menjadi rujukan utama dalam hidup dan beragama.  

        Seperti yang diriwayatkan oleh Ibn Shalah beliau memiliki postur tubuh yang tinggi dan memliki warna kulit cokelat, dimulai dari organ paling atas beliau mempunyai kening yang lebar, pipi yang agak cekung, hidung yang panjang, gigi yang rapi serta putih berseri, leher yang panjang, terdapat bulu diantara bibir bawah dan dagunya dan memiliki rahang yang tidak terlalu lebar, selanjutnya beliau memiliki lengan yang panjang, begitu juga dengan tulang paha dan betisnya. Beliau juga mempunyai rutinitas mengecat jenggotnya dengan hena (daun pacar) yang berwarna merah tua atau kita sekarang lebih familiar dengan warna merah maroon.

         Ditambah oleh Ibn Shalah bahwasannya Imam Syafi’i adalah orang yang sering sakit, akan tetapi beliau terus gigih untuk menjelajahi ilmu untuk memenuhi dahaga akan ilmu dari beliau. Dikisahkan bahwasannya beliau memiliki luka bekas cacar dihidungnya. Beliau memililiki wajah tampan nan berseri. 

        Tak ketinggalan, beliau juga memiliki suara yang indah dan berwibawa yang membuat orang disekitarnya lebih tenang ketika berbicara dengan beliau. Bahkan suara beliau terdengar dengan lebih merdu ketika sedang membaca Al-Qur’an, sehingga para pendengarnya pasti meneteskan air mata setiap mendengarnya karena begitu dalam makna yang menyeka telinga hingga merasuk hati. 

        Bahar ibn Shakhr berkata, “Jika kami ingin menangis, kami saling menyarankan untuk pergi ke tempat pemuda muthalib (Syafi’i) dan mendengarkannya melantunkan Al-Qur’an. Jika kami datang ketempat Syafi’i, ia pun mulai membaca Al-Qur’an. Tak pelak, orang-orang terhanyut dan tangis mereka tak terbendung karena mendengar merdunya suara Syafi’i. Jika sudah melihat apa yang mereka alami, Syafi’i segera menghentikan bacaannya. 

         Cara berpakaian Imam Syafi’i ialah sangat sederhana. Beliau hanya memakai pakaian lokal dan tidak mewah, pakaian beliau biasa terbuat dari kain katun Baghdad. Terkadang beliau memakai tutup kepala yang biasa dipakai oleh orang Arab badui, dan beliau banyak memakai sorban serta sepatu bot. 
Diriwayatkan oleh Rabi’ Ibn Sulaiman bahwsannya beliau memakai cincin di jari kirinya, yang mana pada cincin tersebut terukir kalimat كفى بالله ثقة لمحمد ابن إدريس  yang mana artinya adalah Cukuplah Allah sebagai tuhan yang dipercaya oleh Muhammad Ibn Idris. 

        Beliau memiliki beberapa anak dan istri, tepatnya memiliki 2 orang istri dan 4 orang anak. Istri pertama beliau bernama Hamdah binti Nafi’ ibn Anbasah ibn Amr ibn Utsman. Beliau melahirkan anak pertama yang bernama Abu Utsman Muhammad ibn Muhammad ibn Idris. Beliau termasuk anak yang rajin yang mempunyai guru yang salah satunya adalah Ahmad bin Hanbal, beliau menjadi hakim di jazirah dan menjadi pengantar hadis disana. Dan juga pernah menjadi hakim di kota Halab, Syam, dan menetap disana selama beberapa tahun. Kemudian beliau melahirkan 2 orang putri yang bernama Fatimah dan Zainab. Zainab inilah yang melahirkan putra yang bernama Ahmad ibn Muhammad ibn Abdullah yang terkenal dengan ibn binti al-Syafi’i. Bahkan al-Nawawi menuturkan “ Ia adalah seseorang imam terkenal, tak ada seorang pun dari keturunan Syafi’i sehebat dirinya. Pada dirinya mengalir berkah kakeknya. 

        Kemudian istri kedua Imam Syafi’i ialah bernama Dananir, beliau dikarunia seorang anak yang bernama Muhammad, julukan beliau ialah Abu Hasan, dan beliau termasuk anak kedua diantara anak-anak Imam Syafi’i. Akan tetapi sangat disayangkan ia meninggal dunia pada saat masih bayi. 


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar