Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

KENDARAAN RASULULLAH YANG PALING MENGAGUMKAN, BUROQ


https://phinemo.com/buraq-hewan-mitologi-timur-tengah-yang-menjadi-tunggangan-nabi/

Muhammad Hadiyan el Ihkam

وقبل هجرة النبي بالإسرا

                     من مكة ليلا لقدس يدرى

وبعد إسراء عروج للسّما

                     حتى رأى النبي ربّا كلما

من غير كيف وانحصار وافترض

                     عليه خمسا بعد خمسين فرض

Potongan nadzom di atas merupakan bait ke-46 hingga ke-48 dalam kitab Aqidatul Awam atau sering disebut dengan kitab nadzom “abda ubismillah”. Kitab ini termasuk kitab yang tipis namun mempunyai isi kandungan yang banyak. Setiap santri yang pernah merasakan mondok bisa dipastikan pernah mengaji kitab ini. Sekalipun tidak pernah ngaji minimal pernah mendengar nadzoman tersebut.

Kitab Aqidatul Awamini di-syarah-i (diberikan penjelasan) oleh Syeikh Nawawi al Bantani, sang ulama nusantara yang kiprahnya tidak diragukan lagi dalam dunia kitab-kitab turost.Karya beliau yang dimaksud adalah kitab nurudz dzolam (نور الظلام). Di dalam kitab tersebut, Syeikh Nawawi menjelaskan setiap nadzomnya beserta cara meng’irobnya. Selain itu, kitab beliau banyak memuat cerita-cerita unik, banyak akan pesan makna yang tersirat. Salah satu cerita unik yang terdapat dalam kitab tersebut adalah cerita tentang buroq dalam peristiwa isro’ mi’roj.

Nadzom-anyang ditulis di awal artikel ini, menjelaskan bahwa setiap orang mukallaf (orang yang telah dibebani hukum syari’ah) wajib meyakini bahwa Allah telah memuliakan Rasulullah Saw dengan isro’ mi’roj. Sebagaimana yang telah sering didengar bahwa peristiwa isro’ adalah perjalanan Rasulullah mengendarai buroq dari Mekkah ke Baitul Maqdis. Sedangkan mi’roj adalah perjalanan Rasul dari Baitul Maqdis menuju sidrotul muntaha. Peristiwa isro’ mi’roj dijadikan bahan ejekan oleh kaum kafir Quraisy kepada Rasulullah. Hal ini dikarenakan mereka, para kaum kafir Quraisy tidak percaya dengan cerita Rasul yang menyebutkan bahwa beliau melakukan perjalanan dari Mekkah ke Baitul Maqdis dalam satu malam. Meski demikian, Sayyidina Abu Bakar merupakan sahabat nabi yang membenarkan peristiwa isro’ mi’roj ini.

Para ulama berbeda pendapat terhadap waktu terjadinya peristiwa isro’ mi’roj. Ada yang mengatakan terjadi pada bulan Ramadhan, Syawal, Rojab, Dzulhijjah, Robi’ul Awal, dan Robi’ul Akhir. Ada yang berpendapat  Rasulullah melakukan perjalanan isro’ mi’rojpada tahun sekitar 5 tahun, 10 tahun, 11 tahun, 12 tahun setelah kenabian. Dari sekian banyak pendapat para ulama, yang paling masyhur adalah peristiwa isro’ mi’rojterjadi pada malam Senin tanggal 27 Rojab sebelum Rasul hijrah ke Madinah kurang 1 tahun.

Rasulullah melakukan perjalanan isro’ mi’rojmenaiki kendaraan yang disebut buroq. Menurut penjelasan Syeikh Nawawi dalam kitabnya, buroq merupakan binatang berkaki empat, ukuran badannya lebih pendek dari bighol (peranakan kuda dengan keledai) tetapi lebih tinggi dari keledai, dan tidak berjenis kelamin jantan ataupun betina. Ketika buroq berjalan, kaki bagian depannya melangkah sejauh mata memandang kemudian diikuti dengan kakinya bagian belakang. Kebiasaan yang sering dilakukan buroq adalah mengibas-ngibaskan telinganya. Cara berjalan buroq ini cukup unik. Ketika berjalan di atas gunung, kedua kakinya bisa memanjang dan ketika ia menuruni jurang yang dalam, kakinya bisa memanjang sediki demi sedikit. Cara berjalan buroqseperti ini hanya dialami oleh Rasulullah Saw.

Kata “buroq” berasal dari kata “barqun” (البرق) karena berjalannya kencang. Ada juga yang berpendapat “buroq”berasal dari kata “bariq” (البريق), yang berwarna putih. Allah Swt memerintah malaikat Jibril untuk menjadikan buroq sebagai kendaraan Rasalullah dengan tujuan untuk memuliakan. Sebagaimana pada umumnya, jika seorang penguasa mengundang datang tamu mulia maka pasti akan mengirimkan kendaraan yang istimewa untuk menjemputnya.

Rasulullah mengikat Buroq dengan tali pada batu besar yang pernah diduduki Nabi Daud dan Nabi Sulaiman untuk menunggu nantinya ketika Rasulullah kembali ke Mekah, setelah peristiwa mi’roj.

Wallahu a’lam bish showab.

 

 

Dinukil dari buku Cahaya Kegelapan (terjemah kitab nurudz dzolam-Syeikh Nawawi al Bantani) karya Muhammad Ihsan bin Nuruddin Zuhri

Sumber foto: https://phinemo.com/buraq-hewan-mitologi-timur-tengah-yang-menjadi-tunggangan-nabi/
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar