Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

JANGAN BERSEDIH SELAMA MASIH DAPAT BERBUAT BAIK KEPADA ORANG LAIN

https://lingkarbidikmisi.wordpress.com/2012/12/29/lbm-menulis-uluran-tangan-tuhan-by-nia-novita-sari-cerpen/#jp-carousel-609

Siti Laila ‘Ainur Rohmah

Siapa yang tidak menginginkan kebahagiaan dalam hidupnya? Tentulah jawabannya pasti semua orang ingin mendapatkan kebahagiaan baik di dunia maupun kelak di akhirat. Meskipun hal ini diasumsikan secara berbeda-beda sesuai dengan keyakinan masing-masing. Namun, harapan itu tidak akan terwujud jika hanya direnungkan tanpa adanya aksi nyata yang menyertainya. Maka, disinilah pentingnya di awal untuk menumbuhkan niat dalam hati kemudian dibuktikan dengan berbuat baik kepada diri sendiri maupun orang lain.

Berbuat baik untuk dan kepada orang lain merupakan jalan lebar menuju kebahagiaan. Sebagaimana telah disebutkan dalam sebuah hadits shahih sebagai berikut: ”Di hari kiamat nanti, yakni saat Allah menghisab hamba-Nya, Dia akan berkata kepadanya, ‘Wahai anak Adam, Aku lapar namun engkau tidak memberiku makan. Hamba itu menjawab, ‘Bagaimana mungkin aku memberi-Mu makan, sementara Engkau adalah Rabb semesta alam?’ Allah berfirman,’Tidakkah engkau tahu bahwa hamba-Ku si Fulan ibn Fulan, sedang kelaparan, namun engkau tidak memberinya makan. Ketahuilah, seandainya engkau memberinya makan, maka engkau akan dapatkan semua itu di sisi-Ku.’

‘Wahai anak Adam, Aku kehausan namun engkau tidak memberi-Ku minum.’ Hamba itu menjawab,’Bagaimana mungkin aku bisa memberi-Mu minum sementara Engkau adalah Rabb semesta alam?’Allah berfirman,’Tidakkah engkau tahu bahwa hamba-Ku, si Fulan ibn Fulan, sedang kehausan, namun engkau tidak memberinya minum. Ketahuilah, seandainya engkau memberinya minum pasti engkau dapatkan itu di sisi-Ku.’

‘Wahai anak Adam, Aku sakit namun engkau tidak menjenguk-Ku.’ Hamba itu menjawab,’Bagaimana mungkin aku bisa menjenguk-Mu minum sementara Engkau adalah Rabb semesta alam?’Allah berfirman,’Tidakkah engkau tahu bahwa Fulan ibn Fulan sedang sakit, namun engkau tidak menjenguknya niscaya engkau akan dapatkan Aku di sisinya.”

Ada satu hal yang menarik di sini. Dalam firman-Nya: "... niscaya engkau akan dapatkan Aku di sisinya...," redaksinya berbeda dari dua pernyataan sebelumnya: "... engkau akan dapatkan (semua) itu di sisi-Ku ...." Mengapa demikian? Sebab, Allah di hadapan orang yang hatinya hancur tercabik-cabik akan tampak seperti orang sakit.

Disebutkan dalam sebuah hadits Rasulullah: "Dalam kesulitan itu ada pahala." Hal ini perlu kita renungi dan ingat bersama bahwa Allah telah memasukkan seorang wanita pezina dari Bani Israel ke dalam surga hanya gara-gara wanita itu memberi minum seekor anjing yang kehausan. Maka, bagaimana dengan orang yang memberi minum dan makan kepada sesama, membantu meringankan beban, dan menghilangkan kesulitan mereka?

Dalam sebuah hadits shahih disebutkan bahwa Rasulullah pernah bersabda, "Barangsiapa memiliki kelebihan bekal, maka hendaknya ia datang dengan bekal itu kepada orang yang tidak memilikinya. Dan barangsiapa memiliki kelebihan kendaraan, maka hendaklah dia datang kepada orang yang tidak memiliki kendaraan."

Hatim, sang penyair itu, mengatakan,

"Jika engkau pemilik unta muda, jangan biarkan sahabatmu berjalan di belakangnya tanpa kendaraan. Rendahkan kendaraanmu dan naikkan ia jika bisa terbawa. Itu baik adanya. Jika tidak, bergantianlah."

Hatim juga pernah berkata kepada seorang pelayannya dalam sebuah rangkaian bait syair yang sangat indah, agar mencari seorang tamu. Ia pun berkata,

"Nyalakan api, sesungguhnya malam ini sangat dingin, jika ada tamu yang datang, engkau akan bebas merdeka. Hatim juga berkata kepada isterinya demikian, Jika selesai membuat makanan, carilah orang yang akan makan, sebab aku tidak akan sanggup memakannya seorang diri."

Dia juga pernah berkata seperti ini,

"Ketahuilah, sesungguhnya harta itu akan pergi dan sirna. Yang tersisa dari harta itu hanyalah pembicaraan dan kenangan. 'Ketahuilah, kekayaan itu tidak ada faedahnya bagi seseorang, yakni kala nafas di tenggorokan dan dada tak lagi mampu memuat." Pada kesempatan yang lain dia mengatakan,

"Kekayaan tak menambah kebanggaan atas kaum kerabat dan kami tidaklah merasa terhina dengan kefakiran."

Ibnul Mubarak pernah memiliki tetangga seorang Yahudi. Namun, ia selalu lebih dahulu memberi makan tetangganya itu sebelum anak-anaknya sendiri. Bahkan, ia selalu memberi pakaian padanya sebelum memberi pakaian anak-anaknya. Ketika orang-orang menawar rumah si Yahudi itu, "Jual saja tempat tinggalmu itu kepada kami!" Yahudi itu berkata, "Saya akan jual rumahku ini dengan harga dua ribu dinar. Seribu dinar untuk harga rumahku dan seribu lagi karena aku bertetangga dengan Ibnul Mubarak." Mendengar jawaban itu, Ibnul Mubarak dalam doanya selalu memohon demikian, "Ya Allah, tunjukilah ia ke dalam Islam." Dan beberapa saat kemudian, si Yahudi itu pun, dengan izin Allah, akhirnya masuk Islam.

Ya Allah, sungguh sebuah perilaku yang sangat indah dan masih banyak lagi cerita kebaikan yang dapat dijadikan teladan bagi manusia. Sungguh sebuah karunia yang sangat agung. Sungguh sebuah budi pekerti yang sangat mengharukan. Orang yang senang melakukan kebajikan, tak akan pernah menyesal meski sangat banyak kebajikan yang telah dikerjakannya. Tetapi ia justru akan menyesal manakala melakukan kesalahan, meski hanya sebuah kesalahan kecil.

Seorang penyair berkata, "Kebaikan itu lebih abadi, walaupun itu dilakukan sekali dan kejahatan adalah bekal terburuk yang engkau usahakan." Waallahu a’lam bisshowab.

Sumber Rujukan: 'Aidh al-Qarni, "La Tahzan Jangan bersedih!" (Jakarta:Qisthi Press,2004).



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar