Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

ISLAM DAN DUNIA

Penulis: Ainu Habibi

            Pada abad keenam Masehi sejarah umat manusia dimulai. Pada masa itu manusia hampir mencium bibir kehancuran, telah berlangsung berabad-abad lamanya, seluruh pelosok dunia manapun tak akan kuat dan mampu untuk membendungnya.

            Kiprah yang masih rawan kemajuannya akan melupakan Tuhan serta dirinya sendiri, dimana manusia telah kehilangan tambatan hatinya. Mereka bernasib sama. Ajaran yang dibawa para Nabi telah dilupakan; lampu-lampu yang gemerlap terang kian mulai padam bak ditelam badai kehancuran moral, atau cahaya yang mereka pancarkan telah padam, sehingga tak sedikit orang yang dapat menerangi hatinya, sementara yang lain tenggelam dalam ketidak jelasan dan kepasrahan.

            Bangsa Romawi dan bangsa Persia, masing-masing dari mereka menikmati akan hasil monopoli kepemimpinan di Barat dan Timur, telah sirna atas keadaan moral yang bobrok. Mereka kaya diatas rusaknya peradaban, akibat dari kejahatan dan keserakahan mereka sendiri. Kekaisaran mereka telah menjadi gudang kekacauan dan kejahatan. Kelompok pemimpin yang gila kekuasaan.

            Pembagian-pembagian ajaran telah merubah negara keristen menjadi kancah provokasi kelompok-kelompok yang berperang. Rumah serta tempat sekolah bahkan gereja telah berubah menjadi tempat-tempat peperangan. Negeri itu telah terlibat dalam perang saudara. Pusat perselisihan menyangkut penyatuan sifat ketuhanan dan kemanusian dalam diri Yesus. Oorang-orang Kristen Melkite dari Siria mengakui Yesus sebagai Tuhan sekaligus manusia. Sedangkan orang Monofisit dari Mesir sangat menekankan pada zat ketuhanannya, karena bagian dari sifat kemanusiannya sendiri telah hilang di dalam zat ketuhanan, sebagaimana halnya setetes cuka di lautan, akan hilang ciri-cirinya.

            Menariknya dunia sebelum Islam, memiliki bentuk pemerintahan pada umumnya adalah monarki absolut, pada garis besarnya didasarkan pada kepercayaan masyarakat tentang kesucian lahir dan kelebihan mutlak dinasti-dinasti tertentu, seperti Iran, yang mana bangsa Sasani percaya bahwa mereka memiliki hak ketuhanan untuk memerintah secara turun-temurun.

            Kedaulatan yang didasarkan atas kebesaran penguasa-penguasa pribadi. Sebut saja bangsa Cina misalnya, menyebut raja mereka “Anak Langit” karena mereka percaya bahwa segala yang ada adalah keturunan hasil dari perkawinan antara langit “laki-laki” dan bumi “perempuan”, dan kaisar khata 1 adalah anak pertama dari perkawinan itu. Menurut anggapan ini, kaisar mereka telah diakui sebagai satu-satunya nenek moyang bangsanya, karena itu ia punya hak memerintah mereka jika ia mau. “Hanya engkau dermawan kami”, kata mereka kepadanya sebagai pengakuan resmi atas kesetiaan mereka.

            Karena sifat-sifatnya, keadaannya, dan keadaan politiknya, dunia Arab mempunyai harapan yag tepat serta kemampuan yang tepat dan penting untuk memikul tanggung jawab misi Islam. Dengan mudah ia dapat mengambil kepemimpinan bagi segenap dunia Islam, memperkuat dirinya untuk menghadapi Eropa, dan dengan rahmat Allah serta keyakinan agamanya, akan dapat mengungguli di atasnya, dan sekali lagi akan dapat memimpin dunia dari kegelapan kepada cahaya terang, dari kehinaan kepada kemuliaan, dari kehancuran dan keruntuhan kepada kedamaian dan kemakmuran. Sebagaimana kata-kata dari utusan Islam ke istana Xerxes, sekali lagi ia dapat “memimpin manusia dari penyembahan terhadap manusia kepada penyembahan terhadap Allah, dari kepicikan hidup yang sempit kepada keluasan keyakinan, dari ketidak adilan ajaran kepada keadilan dan persamaan Islam.

            Seluruh dunia memandang Islam sebagai penyelamatnya, dan dunia Islam mengharapkan bimbingan dan kepemimpinannya kepada bangsa Arab. Dapatkah dunia Islam memenuhi harapan dunia? Dapatkah menampilkan dirinya? Untuk waktu yang lama, kemanusiaan yang rusak dan lumpuh, menjerit meminta pertolongan, ia masih percaya bahwa tangan-tangan yang mendirikan Ka’bah dapat membangun kemanusiaan kembali. 


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar