Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

IMIGRASI



Oleh : Ilman Mahbubillah


Bapak mengadopsiku dari Tuhan kala zigot masuk ke cela-cela rahim ibu. Pada saat aku hampir memakan buah
khuldi dan di kutuk ke bumi. Serupa imbalan tanpa bernegoisasikan do’a, aku pergi dari surga. Dengan rasa
sayang ibu dengan disiplin seorang bapak juga kejamnya lingkungan, aku besar dengan segala kecemasan

Eksistensi jelas namun tak berparas, tidak kiri atau kanan juga tidak mendung atau panas. Tuhan banyak
mencipta karya seni untuk semesta, mempublikasikannya lewat orang tua, guru, dan malapetaka. Mengajarkan
aku menyembah di dalam rerumputan ilalang, malam penuh bintang, juga pada bukit-bukit yang menjulang.

Namun kini, banyak wujud yang jadi pembangkang. Memasung diri dalam sepi saat semua sibuk bersosialisasi.
Kemudian berpikir keras cara untuk tak dipuji dengan berdiam diri di antara langit dan bumi yang terasa
semakin himpit. Menahan tawa saat melihat penguasa penuh dosa berbicara, atau menahan kentut di acara
media yang kini sudah tak ada gunanya.

“Tuhan sayang sekali denganku”, aksioma yang terus keluar di saat tangan terikat dan tubuh yang kaku oleh
jeritan lapar, dalam diriku, dalam diri orang lain, anak jalanan, petani, seniman, aktivis, pujangga, bahkan pada
perempuan-perempuan terlaris pada pondok remang-remang. Rumah makan padang dengan masakan rendang
kini tutup, lalu bagaimana bisa aku kenyang hanya dengan keegoisan orang-orang?

Fenomena pengangguran yang tak dapat tanda dari suara adzan, semakin jauh dan kebingungan. Semakin heran,
malah banyak yang tertarik dan masuk dengan iming-iming kenikmatan. Hingar-bingar kaum hawa yang terus
update instastory yang membuatku semakin gila dan terus menulis puisi, sampai lupa diri.

Hutan-hutan yang dulu dipamerkan oleh Tuhan karena elok dan keindahannya, kini menangis dan mengadu,
karna habis tak tersisa untuk anak dan cucu. Apakah kiamat adalah jalan akhir dari karya seni Tuhan yang satu-
satunya bisa berhak berdikari secara hakiki, kemudian dengan kuasanya menghilangkan asumsi buruk terhadap
ciptaan serta karyaNya dengan cara memusnahkan

Para ibu yang terus merebus do’a guna disajikan pada anaknya, karena khawatir pada orang-orang yang
menutup wajahnya namun kemaluannya terbuka. Maka aku, kamu, dia, dan semua. Menunduk di pojok kamar
atas segala murkaNya, merindukan surga tempat asal atau malah kekal di api neraka karena terjerumus pada
kemunafikan semesta.

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar