Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

HARGAILAH WAKTU!


Oleh: Indah Mawaddah Rahmasita

        Waktu adalah bagian dari struktur dasar dari alam semesta, sebuah dimensi di mana peristiwa terjadi secara berurutan. Waktu merupakan suatu dimensi di mana terjadi peristiwa yang dapat dialami dari masa lalu melalui masa kini ke masa depan, dan juga ukuran durasi kejadian dan interval. Waktu telah lama menjadi subjek utama penelitian dalam agama, filsafat, dan ilmu pengetahuan. Namun demikian, berbagai bidang seperti bisnis, industri, olahraga, ilmu pengetahuan, musik, tari, dan teater hidup semua menggabungkan beberapa gagasan waktu ke dalam sistem masing-masing pengukuran. Menurut Malik bin Nabi penulis buku Syuruth an-Nahdhah memaparkan mengenai pengertian waktu yang dikutip oleh Shihab bahwa waktu adalah sungai yang mengalir ke seluruh penjuru sejak dahulu kala, melintasi pulau, kota dan desa, membangkitkan semangat atau meninabobokan manusia. Ia diam seribu bahasa, sampai-sampai manusia sering tidak menyadari kehadiran waktu dan melupakan nilainya, walaupun segala sesuatu selain Tuhan tidak akan mampu melepaskan diri darinya.

        Menurut Shihab (2009) Al- Quran menggunakan beberapa kata untuk untuk menunjukkan pengertian waktu,  yaitu :

1. Ajal; Setiap umat mempunyai batas waktu berakhirnya usia (QS. Yunus/10: 49) Begitu juga berakhirnya kontrak perjanjian kerja antara Nabi Syuaib dan Nabi Musa; Dia berkata, ”Itulah (perjanjian) antara aku dan kamu. Mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku (lagi). Dan Allah adalah saksi atas yang kita ucapkan” (QS. Al- Qashash/28:28). Term Ajal memberi kesan bahwa segala sesuatu ada batas akhirnya.

2. Dahr, digunakan untuk saat berkepanjangan yang dilalui alam raya dalam kehidupan dunia ini, sejak diciptakan Allah SWT sampai akhirnya punahnya alam sementara ini; “Bukankah telah pernah datang (terjadi) kepada manusia satu dahr (waktu) sedangkan dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut (karena belum ada di alam ini?)” (QS. Al Insan/76:1). Kesan yang dapat diambil bahwa segala sesuatu pernah tiada dan keberadaannya menjadikan dia terikat oleh waktu. “Dan merea berkata, Kehidupan ini tidak lain saat kita berada di dunia, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan (mematikan) kita kecualai dahr (perjalanan waktu yang dilalui oleh alam)” (QS. Al- Jatsiyah/45:24).

3. Waqt, digunakan dalam arti batas akhir, kesempatan atau peluang untuk menyelesaikan suatu peristiwa. Karena itu sering al- Quran menggunakankan dalam konteks kadar tertentu dari satu masa; “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban kepada orang mukmin yang tertentu waktu- waktunya” (QS. Al-Nisa’/4;103). Waqt dapat diartikan sebagai batas akhir suatu kesempatan untuk menyelesaikan pekerjaan.

4. Ashr, kata ini biasa diartikan sebagai waktu menjelang terbenam matahari, tetapi dapat juga dengan arti masa secara mutlak. Memberikan kesan bahwa saat-saat yang dialami oleh manusia harus diisi dengan kerja memeras keringat dan pikiran.Waktu yang dimaksud adalah waktu secara umum . Waktu adalah modal utama manusia, apabila tidak diisi dengan kegiatan yang positif, ia akan hilang begitu saja. Ia akan hilang dan ketika itu jangankan keuntungan diperoleh, modalpun telah hilang. Ali bin Abi Thalib pernah berkata bahwa rezeki yang tidak diperoleh hari ini masih dapat diharapkan lebih dari itu diperoleh esok, tetapi waktu yang berlalu hari ini tidak mungkin dapat diharapkan kembali esok.

        Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa Manusia harus memanfaatkan waktu seefektif dan seefisien mungkin, karena manusia tidak dapat melepaskan diri dari waktu dan tempat. Mereka mengenal masa lalu, kini dan masa depan, sebagaimana mereka mengenal tempat dimana mereka berada. Kehadiran waktu ini bertujuan untuk dapat dimanfaatkan oleh manusia dalam menyelesaikan tugas-tugasnya di muka bumi. Oleh karena itu, selain harus memanfaatkan waktu maka tidak lupa pula juga harus menghargai setiap detik berjalannya waktu.  Sebab seorang muslim tidak patut menunggu dimotivasi oleh orang lain untuk menghargai waktu, karena hal itu sudah merupakan kewajiban setiap muslim (Gamal, 2011). Ajaran Islam menganggap pemahaman terhadap hakikat menghargai waktu sebagai salah satu indikasi keimanan dan bukti ketaqwaan. Hal ini sebagaimana tersirat dalam firman Allah SWT: “dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur” (QS. Al-Furqan: 62). 

        Sedangkan, ilmu adalah tonggak dan dasar. Dasar dari setiap amal yang dikerjakan  seorang  muslim.  Maka  ilmu  harus  dimiliki  sebelum diamalkan. Imam Bukhari menulis satu bab dalam kitab shahihnya العلم قبل   القول و العمل ” لقول الله تعالى(sebagaimana Allah berfirman): Maka ketahuilah bahwa  tidak  ada  ilah  (yang haq) melainkan  Allah. Dengan  ayat  ini  Imam  al-Bukhari menegaskan  فبدأ بالعلم(maka sesuatu itu dimulai dengan ilmu) (’ilm). Syaikhul    Islam    Ibnu    Taimiyyah    (wafat    tahun    728    H) mengatakan,  Ilmu  adalah  apa  yang  dibangun  atas  dalil,  dan  ilmu  yang bermanfaat  adalah  yang  dibawa  oleh  Rasulullah  saw.  Menurut  Abu  Anas  Majid  Ali  Al-Bankani,  ilmu  secara  bahasa adalah  lawan  dari  bodoh.  Seseorang  yang  berilmu  dikatakan ‘aalim atau ‘aliim maka kaum ini disebut ulama.Secara istilah dijelaskan oleh sebagian ulama  bahwa  ilmu  adalah ma’rifah(pengetahuan) sebagai  lawan  dari al-jahl (kebodohan).  
                   
        Berikut ini merupakan perkara-perkara yang patut perhatikan dan tekuni ketika menuntut ilmu, yaitu :

1. Menghafal  uraian  ilmu  yang terdapat kitab  yang  di pelajari  atau ringkasannya. 
2. Menghafal  dan  meminta tolong kepada guru  yang  ahli  untuk  menyimak kebenaran dan keabsahan hafalannya. 
3. Tidak  memfokuskan  pada  masalah-masalah  yang  panjang,  bertele-tele   dan   kitab-kitab   yang   berlainan,   sebelum   memahami   asal masalahnya. 
4. Jangan   berpindah   dari   satu   kitab   ke   kitab   yang   lain   sebelum memahaminya,  sebab  menyebabkan  kejemuan atau kebosenan . 
5. Mengambil  faedah  dan  intisari  dari  setiap  ilmu  yang diperoleh untuk direalisir dalam praktek nyata.
6. Memiliki semangat penuh dan  antusias tinggi  dalam  menuntut  ilmu  serta serius dan  penuh  konsentrasi.

          Terakhir, ketika menuntut ilmu tidaklah baik bersikap  pesimis  sebab menuntut  ilmu  itu sampai  mati atau sepanjang hayat tetapi  dengan keadaan  ikhlas  karena  ridha Allah  semata,  dengan  tawadhu, demi li i laaikalimatillah, membela Islam dan muslim sampai tetes darah yang  penghabisan.  Bila  hal  ini  tidak  ada,  jangan  diharap  dapat  meraih kesuksesan dalam menuntut ilmu.
             
         Ilmu ialah ketaqwaan, oleh sebab itu  setiap orang yang menuntut ilmu berhak mendapat kemulyaan disisi Allah dan kebahagiaan yang abadi, dalam syair Muhammad bin Hasan bin Abdillah dijelaskan  : 

تعلم فان العلم زين لأ هله # وفضل وعنوان لكل المحا مد
وكن مستفيدا كل يوم زيادة #من العلم واسبح في بخور الفواءد

;Artinya 
             “Tuntutlah ilmu karena ilmu merupakan perhiasan bagi pemiliknya, keunggulan dan pertanda segala pujian , jadikankanlah dirimu sebagai orang yang selalu menambah ilmu setiap hari, dan berenanglah di lautan makna “
             
        Emha Ainun Najdib ( Cak Nun) juga mengatakan “ jika ilmu meningkat maka jiwa akan meluas”, menurutnya orang pintar itu harus menyesuaikan diri dengan orang bodoh, bukan orang bodoh yang harus menyesuaikan orang pandai. Karena apa gunanya kepandaian kalau tidak digunakan untuk menampung orang bodoh, apa gunanya mempunyai ilmu kalau tidak bisa menyesuaikan diri dengan orang bodoh. 
                
        Dari penjelasan tersebut bisa disimpulkan bahwa menuntut ilmu adalah sebuah keharusan untuk setiap orang tanpa melihat umur sebab sifatnya sepanjang hayat. Menuntut ilmu tidaklah mudah, tapi harus bersusah-susah dahulu baru bisa menemukan kenikmatan ilmu tersebut. Waktu dan ilmu dalam perkembangannya saling beriringan. Oleh sebab itu, ketika seseorang menghargai waktu dan memanfaatkannya maka secara tidak langsung ilmu juga datang padanya.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar