Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

EKSPLANASI HAYAT PENYAIR SASTRA MODERN YANG TIDAK FAMILIAR: NADEEB ISHAQ





Oleh: Kholidatun Nur Wahidiyah


Kehidupan Adeeb Ishaq

Adeeb Ishaq lahir di Damaskus pada tahun 1856, yang berasal dari keluarga Katolik Armenia. Ia berasal dari Suriah dan menghabiskan waktunya di Mesir.

و لد سنة 1856 وتوفي سنة 1885 م

 Ayahnya mendaftarkannya di sekolah “Lazarian Prancis” dimana ia menekuni bahasa Prancis dan bahasa Arab. Semenjak itu, bakatnya dalam sastra terlihat dari usia mudanya yang kesebelas dan ia memulai untuk menulis puisi. Tulisan remaja pertamanya diterbitkan dalam review al-Jinan, diedit di Beirut oleh Butrus al-Bustani. Tetapi, kondisi yang sulit menimpa keluarganya sehingga memaksa ia untuk berhenti sekolah.


Untuk keberlangsungan hidupnya dan keluarga dalam krisis ekonomi dia bekerja di beberapa pekerjaan pemerintah salah satunya di bagian administrasi bea cukai (Al-Max) dengan talenta multi bahasa yang ia miliki.  Pekerjaan itu dia selingi dengan kegiatan menulis dan menerjemahkan sekaligus sebagai tambahan pendapatannya. Setelah pensiun dari bagian administrasi nya Adeeb Ishaq mengalihkan diri menekuni dirinya sebagai penulis serta editor surat kabar  At-taqoddum (kemajuan). Di masa-masa itu ia menghabiskan waktunya untuk menulis dan membaca.


Kemudian ia pergi  ia pergi ke Alexandaria dan bertemu dengan Salim An-nuqash (salah satu pelopor teater Arab) yang mendukungnya dalam bidang menulis teks drama dan memproduksi sebuah drama. Waktunya di Alexandaria sangat ia memanfaatkan bersama Salim An-nuqash sehingga mewujudkan sebuah lagu yang akan dipentaskan di Suriah Dan Mesir. Selain itu, menerbitkan juga surat kabar yang dinamai At-tijaroh.


Setelah keberhasilannya di Alexandria ia pergi ke Kairo pada tahun 1876 bertemu dengan Jamaluddin Al-aghani (pengkhotbah politik terkenal) dan masuk dalam lingkaran diskusinya karenanya sangat terkesan oleh sosok Jamaluddin Al-afghani. Adeeb Ishaq juga mendapat pengajaran khusus dari Al-afghani tentang ilmu seni, sains, filosofi, dan logika. Disini, ia memanfaatkan skill jurnalis nya untuk mengkritik para imperialisme atas dorongan Jamaluddin Al-afghani dan berhasil mewujudkan sebuah surat kabar yang dinamai Al-Misri. Adeeb Ishaq menyerang Perdana Menteri Mesir “Riad Pasha” peristiwa ini sebuah revolusi urabi.


Dari kejadian itu, Adeeb Ishaq pindah ke Paris dan menetap disana selama sembilan bulan. Kegiatannya di Paris tak jauh dari kebiasaannya menulis, ia sering mengirim tulisannya di surat kabar Paris dan mengunjungi perpustakaan Nasional yang ada disana. Kemudian ia kembali lagi ke Bairut untuk mencari surat kabar pertamanya (At-taqoddum). Di sisi lain, faktor ia kembali ke Beirut yaitu menderita penyakit di dadanya  karena pengaruh cuaca, penyakit itu disebut Tuberkulosis. Penyakit bakteri yang sangat bahaya mempengaruhi organ paru-paru. Nyawanya tidak tertolong dan meninggal di umur 29 tahun pada tanggal 12 januari 1885 pada mudanya.


Karya Adeeb Ishaq

Pada masa hidupnya yang mengabdikan diri untuk bergelut pada dunia jurnalis ia menghasilkan karya sebuah buku. Salah satu bukunya yaitu yang berjudul “The Outing of Al-Ahdaq in the Wrestling of Lovers” dan sebuah novel yang dia sebut “The Oddity of the Agreement”. Adeeb Ishaq juga menerjemahkan beberapa novel bahasa Prancis ke dalam bahasa Arab yang berjudul “Charlemagne”, “Andromac”, “Parisian Beauty”, dan novel yang membahas tentang sosial “Oddity Of The Agreement”, dan dan novel yang membahas tentang sosial “Oddity Of The Agreement”.


Salah satu buku terjemahannya dari novel bahasa Prancis yang berjudul “Andromac” itu terdiri dari lima bab. Mengisahkan sembilan akar kisah cinta yang ditokohi oleh “Andromak” berperan sebagai aktor sentral dalam novel. Sebuah drama berdasarkan bahasa Yunani “Euripides” salah satu penulis istana kuno yang terpesona oleh Andromac.  Kemudian, yang berjudul “Charlemagne” mempersembahkan kepada pembaca novel klasik Arab ini tentang kehidupan tenang dari pasangan yang penuh kasih, yaitu: “Viktor Dellar”, pemuda tampan dan ambisius, dan “Mary Dumlvo” petani yang lugu dan jujur, di mana mereka terus bahagia setelah cinta pernikahan, kemudian “Victor” menimbulkan keakraban. Dia melihat istrinya yang setia hanya sebagai seorang petani yang naif, dan mengabaikan kecantikan luar dan dalam, tertarik pada Marquise yang sudah menikah. Jadi dia memikatnya dengan perhiasan dan kecantikan kelas atas, dan sifatnya yang berbeda dari sifat gadis-gadis pedesaan yang tidak bersalah. Untuk melakukan perjalanan ke Paris dia meninggalkan istri dan anak-anaknya tak lama istri pertamanya mengetahui bahwa ia selingkuh. Dia mengikutinya ke Paris, didorong oleh cinta dan keinginan untuk melestarikan keberadaan keluarga mereka, sehingga “Victor” sadar, di mana Mary menyelamatkan dia dan pacarnya dari bunuh diri serta mengungkapkan kepalsuan kepadanya, menolak hubungan singkat itu, dan mengembalikan desanya dengan cinta sejatinya.


Ciri khas yang dominan pada karya nya yaitu dari segi kebahasaannya yang menyerap bahasa sumber ke dalam bahasa sasarannya atau bahasanya sendiri yang dapat mensingkronkan dalam tulisan yang ia maksud. Karena ciri khas itu yang dapat meningkatkan bidang jurnalisnya. Sebab itu, karyanya banyak dipuji baik itu dari kalangan penulis Muslim dan Kristen terkemuka. 




Sumber:

  1. Kitab utama: Al-jami’ Fii Tarikh Adab Al-‘araby Al-Adab Al-hadits karya Hanan Al-fakhrury 

  2. Kitab lain: Al -Durar wa-hīya muntaḫabāt aṭ-ṭaiyib aḏ-ḏikr al-ḫālid al-athar karya Adeeb Ishaq




Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar