Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

CMC TIGA WARNA: PELAMPIASAN PENAT

Oleh: Kholidatun Nur Wahidiyah

 

Berangkat dari rasa lelah mengerjakan tugas-tugas kuliah yang selalu mengguyur setiap hari ditambah kejar tayang deadline yang selalu menghantui. Aku dan delapan teman yang lain memutuskan pergi ke pantai untuk menghilangkan penat sejenak. Iya, kami sadar pergi disaat banyaknya tugas tidak akan mengurangi tuga-tugas itu. Setidaknya ada apresiasi diri untuk melihat luasnya alam dan memberi kesempatan untuk si otak bekerja.

Kami putuskan pergi ke pantai CMC (clungup mangrove convervation) Tiga Warna, pantai konvervasi yang sangat peduli terhadap kelestarian dan penyelamatan lingkungan. Tidak aneh jika syarat untuk berwisata kesana sangat banyak aturan.

Dengan empat motor matic kami menggerus jalan lika-liku dalam hutan. Perjalanan yang sangat membuat senam jantung dari jalan yang mulus, berlubang, sampai bebatuan, belum lagi belakangan ini Malang sering diguyur hujan. Ah, itu sangat menyebalkan. Tapi harus disyukuri kami tiba dengan selamat.

Sebelum lanjut jalan menuju pantai kami disambut oleh pegawai di pos 1 untuk mengisi ketentuan data. Kemudian, kami diarahkan menuju pos 2 untuk pemeriksaan barang apa saja yang kami bawa. Peraturannya, bila membawa makanan dan minuman atau barang-barang yang sekali pakai harap dibawa kembali sampahnya. Jika tidak, terkena denda satu barang nya seratus ribu atau kembali lagi ke kawasan pantai. Kami tak ambil resiko, hanya membawa plastik dan cadangan masker yang sekali pakai. Dari pos 2 ini kami diantar oleh tour guide menuju kawasan pantai.

"pak, berapa menit kita jalan ke pantainya?"

"sekitar 1 jam mbak"

"Hah? beneran pak?"

"Iya mbak"

Selama perjalanan menuju pantai jalannya tidak semulus apa yang kami bayangkan. pantas saja tour guide disini tidak memakai sendal. Lima menit perjalanan masih biasa saja, seperti jalan-jalan di perumahan yang di paving block. Lima belas menit kemudian jalannya membuat kami geleng-geleng kepala, penuh bebatuan dan terumbu karang dilengkapi tanah basah usai hujan. ya, mau gimana lagi ini jalan satu-satunya menuju pantai. Banyak protes, tapi tetap menikmati proses menuju pantai. Faham kan bagaimana perempuan?

Di tengah perjalanan, kami banyak melewati pohon kelapa yang membuat kami tergiung.

"Pak, boleh ga kalo kita ambil kelapanya?"

"Boleh aja, tapi bisa manjatnya ga?"

"Bapak yang manjat, kan bapak cowo sendiri disini" guyon anak-anak tanpa menyaring diksi.

"Yee..enak aja kalian. coba nanti di depan kalo itu rezeki kalian ada kelapa muda yang sudah jatuh"

Tak lama setelah jalan kembali, ternyata benar. Itu rezeki kami. Ada buah kelapa hijau terlihat menyegarkan.

"Ini kalian yang bawa sendiri ya" ujar tour guide singkat.

Walaupun banyak mengeluh karena disuruh membawa buah kelapa sendiri, kami tetap membawanya. Aneh.

Sekitar setelah dua puluh menit setelah itu kami tiba di kawasan pantai. Suara ombak serta ayunan daun pohon kelapa menyapa kami dengan sedikit terik matahari yang tidak terlalu mendukung suasan pantai biasanya. Tidak apa, kami merasa bersyukur karena tidak hujan.

Tidak pikir panjang, kami langsung eksekusi kenikmatan alam pantai ini. Diawali foto-foto kemudian main ombak. Sebenarnya, ada satu hal yang membuat kurang sempurna yaitu naik banana boat. Iya itu tujuan awal kami datang ke pantai CMC Tiga Warna ini. Karena ada sedikit kendala penyewaan banana boat ini vakum.

Tidak lebih dari tiga jam kami mengakhiri cerita di kawasan pantai sebab adanya peraturan pengunjung yang datang dibatasi hanya dua jam saja. Sudah alhamdulillah, kami dilebihkan sedikit waktu oleh tour guide nya, hehe.

Kami langsung menempuh perjalanan pulang melewati jalan yang tadi berangkat.

Sambil jalan tour guide itu kami bisingkan dengan keluhan-keluhan kami,

"Pak, emangnya gak ada jalan alternatif lain selain jalan yang ini pak?"

"Ada, pakai perahu tapi butuh biaya lagi"

"Berapa pak?"

"Dua ratus ribu"

Daripada uang kami melayang hanya untuk itu. Lebih baik memilih melewati jalan yang tadi walaupun penuh lumpur dan diguyur hujan.

 


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

1 komentar:

  1. 1. Sedikit ada kontradiktif pada kalimat senam jantung dijalan mulus, berlubang ?

    Endingnya ngakak dan memberi pesan bahwa, setiap jalan butuh tenaga dan setidaknya bermodal lah..

    BalasHapus