Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

CANDU DEWA MIMPI 2

Source Image: Freepik.com



Oleh: Syifaul Fajriyah

Suara sirine mulai terdengar. Segerombolan makhluk pecandu kocar-kacir tak tentu arah. Tanpa pikir panjang, aku beranjak dari gudang dewa mimpi ke parkiran. Ah, sayang sekali lokasi itu menjadi santapan utama polisi. Rumah kosong yang tak jauh dari TKP menjadi tujuan keduaku. Sembari menunggu keadaan mereda, ku menikmati bubuk dewa mimpi yang telah ku dapatkan. Sungguh nikmat, aku tidak harus menjadi tikus yang mengendap-endap menyantap sepotong keju. Ada kepuasan tersendiri ketika menikmati, tapi terpintas rasa kehampaan. Seakan hidup seperti tanaman paku yang tak dapat hidup tanpa inangnya. Ya, kini hidupku bergantung pada sejumput bubuk putih ini.

Suara sirine mulai senyap, dan polisi menghilang dari lokasi, begitu pun transportasi milik pemuja dewa mimpi. Aku pun keluar dari tempat sembunyi. Berjalan di atas aspal seakan berjalan di atas awan. Pertanda, barang mudhorot itu telah mengambil alih badan ini. Tapi tidak sampai kehilangan keasadaran, mungkin hanya setengah si sadar masih dalam diri.

Aku berjalan tanpa tujuan. Khawatir jika aku pulang, Tasya (Istriku) akan tau jikalau aku mengingkari janji. Dinginnya malam itu menusuk hingga batuk pun muncul tak di undang dan di rencanakan. Semakin lama batuk itu semakin menjadi-jadi, hingga setetes darah keluar dari indera pencium. Pertama kali hal ini terjadi, pikirku mungkin karena kecapean dan hawa dingin di lokasi.

Handphone berdering, tersemat nama “My Lovely” dalam layar. Kacau sudah, anganku mulai liar. Mungkinkah polisi menghubungi Tasya, itulah alasan panggilan ini. Wanita dengan mata sipit itu akan kecewa sekali padaku, dan akan meninggalkanku seorang diri. Dia lah wanita yang tetap bersamaku disaat seluruh dunia meninggalkan. Dia lah sosok perempuan yang menemaniku mulai dari nol. Namun, dialah yang akan pertama kali membenciku saat aku berkecimpung lagi dengan dewa mimpi. Dengan berat hati ku angkat panggilan virtualnya.

“Halo”

“Jahat kamu ya.. Mengingkari kepercayaan seorang istri. Kamu pulang sekarang, atau kita pisah...” tuturnya. Tanpa menunggu jawabanku ia langsung meutupnya tanpa ucapan salam.

Bergegas ku menuju rumah. Lambaian tangan ku arahkan pada taxi yang melintas. Ku arahkan taxi itu menuju kediaman keluarga kecil kami. Seperti biasa, supir melontarkan pertanyaan entah bermaksud untuk basa-basi atau memang penasaran. Tak ku gubris sedikitpun pertanyaan yang ia ajukan. Otakku hanya dipenuhi oleh Tasya. Lama kelamaan, pria paruh baya itu terdiam mungkin marah juga, entahlah aku tak peduli.

Sesampainya, sungguh tak terbayangkan dalam hidupku akan kunjungan segerombol lelaki yang berkecimpung di BNN ke rumah. Di ujung sana ku lihat sesosok ibu dari calon anakku menangis tersedu-sedu. Tak tega ku melihatnya, inginku menghampiri dan ku peluk tubuhnya yang mungil. Namun dengan sigap, borgol polisi melayang di tanganku. Ku ajukan permohonan agar aku bisa berbincang sekejap dengannya. Tak sempat ku berkata, ia sudah memulainya

Pergilah lelaki pembohong!!!” kata-kata yang tak ingin ku dengar dari mulutnya pun terucap. Air mata ini sudah tak dapat terbendung lagi. Dan kereta polisi pun membawaku pergi.

Berbagai prosedur ku jalani. Disitulah rahasiaku terbongkar bahkan ujian Tuhan ada dalam diriku. Tasya pun tahu kalau aku bercumbu dengan dewa mimpi sejak setahun yang lalu. Ujian Tuhan itu berupa penyakit yang kita tau sebagai HIV-Aids. Namun aku bersyukur, dengan adanya penyakit ini Tasya mau menemuiku. Dan sekali lagi, aku dibuat bersalah dengan kata-katanya

“Aku itu udah percaya banget sama kamu dan bangga dengan kerja keras kamu. Pikirku, aku adalah wanita paling bahagia. Tapi nyatanya aku adalah wanita paling menyedihkan. Karena mau dibohongi oleh suami sampai setahun lamanya.”

*

2 Tahun kemudian,

Pengobatan demi pengobatan ku jalani seorang diri. Namun tak ada yang berubah. Hidupku sama seperti dulu, bergantung dengan obat. Hanya saja obat ini demi kebaikan, menghambat pertumbuhan virus bukan menghilangkan, tinggal tunggu waktu kapan Allah akan memanggil untuk menghadap dan mempertanggung jawabkan. Mungkin ini lah keadilan yang Dia berikan. Siapa yang melakukan maksiat, ganjaran yang setimpal akan ia dapat. Tinggal tunggu saja kapan ujian dan ganjaran akan tiba. Siapkanlah diri dan dekatkan hati pada-Nya.

Tamat


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar